RSS

Pengembangan Model Blended Learning pada Mata Kuliah Desain Pembelajaran Berbasis Komputer (DPBK) di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (KTP) Universitas Negeri Padang

22 Apr

ULFIA RAHMI

 ulfia24@gmail.com

Abstract: The course of Desain Pembelajaran Berbasis Komputer (DPBK) in the Department of Curriculum and Education Technology (KTP) at UNP has not involved the students in the learning process and make them less competent in mastery skill to design the lesson with computer-based learning. Although there have been efforts to deal with the existing problems through accessing the personal blogs of the lecturers, but the results have not satisfactory in achieving the learning objectives. This condition cannot be maintained, because it is not in line with the development needs of the student and with contemporary technologies such as blending online learning. It is necessary to develop a model called Blended Learning,which is considered validity, practicality and effectivity to achieve the learning objectives. The model development adopted the commonly used the 4D models that include Define, Design and Develop. Begin way with the needs analysis, the Blended Learning model was developed consisting of syntax, support systems, social systems, and the principle of reaction. The result of the model was tested for the validity by three experts who confirm the validity of the model. The model was also considered effective and practical by the students as the users.

Kata kunci: Model, Blended Learning,  Desain Pembelajaran Berbasis Komputer

PENDAHULUAN

Pendidikan sebagai satu kesatuan yang sistematik diselenggarakan sebagai proses yang berlangsung sepanjang hayat untuk pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik. Karena itu, setiap anak perlu mendapatkan pendidikan yang bermutu melalui pemberian kesempatan untuk meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 (UU SPN No. 20 Tahun 2003), pendidikan nasional berperan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Peran ini bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pelaksanaan pendidikan yang mengembangkan kemampuan dan watak serta martabat bangsa seperti yang disebutkan dalam UU SPN No. 20 Tahun 2003 harus dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang untuk memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (PP No. 19 Tahun 2005).

Pelaksanaan pembelajaran menurut PP nomor 19 tahun 200,5 dilakukan sesuai Standar Proses yang mensyaratkan seorang pendidik harus memperhatikan karakteristik peserta didiknya. Karakteristik peserta didik terdiri atas, pertama: usia, gender, kelas dan faktor budaya serta sosioekonomi, kedua kompentensi spesifik seperti gaya belajar yang berhubungan dengan kecerdasan majemuk, kekuatan konseptual, kebiasaan memproses informasi, motivasi dan faktor fisiologi.

Proses pembelajaran yang berlangsung selama ini belum terlihat memenuhi ketetapan seperti yang disebutkan pada PP No.19 Tahun 2005 dan Permendiknas No 41 Tahun 2007. Padahal untuk beberapa sekolah dan lembaga memiliki insfrastuktur yang mendukung untuk mewujudkan pelaksanaan pembelajaran seperti yang disebut pada PP di atas, termasuk pada mata kuliah Desain Pembelajaran Berbasis Komputer (DPBK). DPBK merupakan mata kuliah untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan daya kreativitas peserta didik dalam merancang suatu materi ajar tentang langkah-langkah perancangan satu paket pembelajaran berbasis komputer. Dengan perkataan lain, DPBK terdiri dari beberapa kumpulan pengetahuan dan keterampilan mendesain model-model pembelajaran berbasis komputer. Jika merujuk kepada PP No. 19 Tahun 2005, proses pembelajaran DPBK, pada pelaksanaannya, kurang interaktif karena dalam proses pembelajaran belum terjadi proses interaksi, baik interaksi antara pendidik dan peserta didik, peserta didik dengan media yang digunakan, peserta didik dengan peserta didik lain dan peserta didik dengan lingkungan kelas.

Dengan keadaan seperti, dosen pengampu mata kuliah melakukan online learning, dengan menghadirkan blog pribadi dalam kegiatan pembelajaran untuk menuntaskan materi yang akan disampaikan. Melalui blog tersebut, dosen menyampaikan materi-materi yang dirasa penting, perlu pengulangan, atau materi yang belum sempat disampaikan di kelas. Dari upaya yang dilakukan tersebut ternyata umpan balik masih sangat kurang, seperti terlihat dalam kegiatan diskusi yang tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan kekurangaktifan peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu muncul gagasan untuk mencampurkan pembelajaran online dengan pembelajaran tatap muka yang kemudian disebut dengan blended learning.

Terhadap blended learning, temuan penelitian oleh peneliti sebelumnya, menunjukkan hasil bahwa online learning ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Masih banyak ditemukan kekurangan dalam menerapkan online learning. Seperti yang ditemukan Bersin dalam penelitiannya tahun 2003 bahwa tidak semua pembelajaran bisa dilakukan dengan web. Penemuan Bersin terhadap kelemahan online learning menghasilkan inovasi pencampuran pembelajaran tatap muka dan web pembelajaran yang kemudian dikenal dengan blended learning. Pembelajaran blended tidak sepenuhnya dilakukan melalui web pembelajaran namun masih tetap bisa dipakai dalam kegiatan pembelajaran tatap muka. Hal ini dilakukan mengingat keterbatasan akses melalui pembelajaran online.

Selain dari Bersin (2003), Dziuban, Hartman, dan Moskal (2004) juga melakukan penelitian yang mengungkapkan bahwa program blended learning yang mencampurkan pembelajaran tatap muka dengan online learning berpotensi untuk meningkatkan hasil belajar, menurunkan tingkat putus sekolah, dan menghasilkan kepuasan kepada sebagian besar dosen dan mahasiswa. Putus sekolah yang dialami peserta didik yang mengikuti online learning karena dengan online learning orang sering merasa sendiri dan bosan. Sedangkan penelitian MacDonald, J. & McAteer, E. (2003) tentang blended learning  mengkaji strategi umum bimbingan belajar dan menjelaskan faktor yang mempegaruhi penggunaan media dalam lingkungan blended learning. Hasilnya membentuk banyak prinsip yang mendasari penerapan strategi yang efektif pada kedua jarak dan universitas yang berbasis kampus. Di Indonesia, Cepi Riyana, M. Pd, melakukan penelitian tentang pengaruh Model Pendidikan Blended Learning terhadap peningkatan Kompetensi Guru di Jawa Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa model pembelajaran blended learning secara empiris mampu membantu meningkatkan kualifikasi staf pengajar (guru) dari DII Strata-1 dan lulusannya memperoleh S-1 sertifikat dari LPTK terakreditasi. Hal ini menunjukkan bahwa program PJJ PGSD bisa didesain sesuai dengan Permendiknas No. 16 tahun 2007. Jadi, dari hasil penelitian yang telah dilakukan, terlihat blended learning membantu pendidik dan peserta didik dalam mengoptimalkan pembelajaran.

Selain dari itu, Alim Sumarno (2011) juga telah membuktikan bahwa mahasiswa lebih berpartisipasi dalam diskusi tertutup karena lebih leluasa berpendapat dan menemukan lebih banyak materi perkuliahan karena akan melakukan diskusi. Kemudian penelitian Basori (2010) mengungkap bahwa dengan blended learning terjadi peningkatan kualitas belajar mahasiswa, terjadi peningkatan kemampuan dosen dalam proses KBM, iklim pembelajaran menjadi lebih kondusif, terjadi pembelajaran yang berkualitas dan relevan dengan peserta didik. Kualitas pembelajaran juga dinyatakan baik, sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembelajaran blended learning mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Di samping itu, penelitian Ferry Dwi Cahyadi (2012) menemukan bahwa rata-rata capaian persentase aspek kemampuan berpikir kritis dari tes uraian meningkat pada setiap siklus melalui dilakukan blended learning. Artinya blended learning dapat diterapkan dalam pembelajaran biologi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Walaupun sudah cukup banyak penelitian yang telah dilakukan peneliti sebelumnya  tentang blended learning, tetapi masih diperlukan pengetahuan lebih lanjut terutama pada perbaikan pembelajaran DPBK. Selain itu, dalam pembelajaran telah banyak dilakukan inovasi, perbaikan dan pengembangan pembelajaran oleh dosen namun belum tentu yang dilakukan tersebut telah baik karena model pembelajaran itu belum memenuhi tiga syarat, yaitu valid, praktis dan efektif.

Menurut Nieveen (1999:127) pengembangan bahan pembelajaran harus consider the three aspects (validity, practicality and effectiveness). Plomp (2010:29), Visser (1998:17) dan Richey (2007:48-49) juga mengemukakan hal yang sama bahwa pengembangan, model pembelajaran dikatakan baik ketika memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif. Sedangkan Nusa Putra (2011:88) berpendapat bahwa mencari temukan model, produk, prosedur dan metode hendaknya mengukur efektivitas, produktivitas dan kualitas. Pengukuran yang dikemukakan Nusa Putra (2011:88) berfokus pada produk dan jasa baru yang didorong oleh motif keuntungan makanya lebih terfokus kepada produktifitas dan kualitas, yang berbeda dengan validitas dan praktikalitas yang diajukan Nieveen (1999:127) dan Plomp (2010:29). Pengukuran efektifitas, validitas dan praktikalis yang dilakukan bukan karena motif keuntungan, tetapi bagaimana produk hasil pengembangan dapat digunakan dalam pembelajaran. Apakah pengembangan didasarkan pada rasional teoritis yang kuat dan konsisten (valid), apakah pengguna menyatakan apa yang dikembangkan dapat diterapkan (praktis) dan apakah secara operasional memberikan hasil sesuai dengan harapan (efektif). Jika melakukan pengembangan karena motif keuntungan, memang lebih ditonjolkan pada produktifitas. Jelasnya, jika melakukan pengembangan dalam pembelajaran maka pengukuran yang dilakukan adalah uji validitas, uji praktikalitas dan uji efektifitas.

Selain itu model dikatakan valid, menurut Nieven (1999:127), apabila  model itu konsisten, selanjutnya suatu model dikatakan praktis apabila model dianggap dapat digunakan (usable). Kemudian model dikatakan efektif apabila memberikan hasil sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Berkaitan kepraktisan dalam  pengembangan, Akker (1999:126) menyatakan kepraktisan mengacu pada pengguna, mempertimbangkan apakah model pembelajaran dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Untuk mengukur kepraktisan, dilakukan dengan melihat apakah produk yang dihasilkan dapat digunakan dan efektif bagi pembelajaran. Sedangkan menurut Akker (1999:126) keefektifan mengacu pada tingkatan pengalaman dan hasil intervensi tujuan yang dimaksud. Ini berarti bahwa keefektifan suatu model pembelajaran dilihat dari kualitas hasil belajar, sikap, dan motivasi peserta didik. Plomp (2007:29) menyatakan bahwa validitas dilakukan melalui penilaian pakar, praktikalitas melalui penilaian pakar dan pengguna dan efektifitas melalui uji coba lapangan. Jadi, validasi dilakukan melalui pertimbangan pakar mencakup validasi komponen model pembelajaran, kepraktisan dapat dinilai dari pengguna tentang komponen model pembelajaran dan keefektifan dilihat dari kualitas hasil belajar, sikap dan motivasi peserta didik melalui percobaan.

Kata blended learning berasal dari bahasa Inggris, yang terdiri dari dua suku kata, blended dan learning. Blended berarti campuran atau kombinasi, sedangkan learning berarti pembelajaran. Jadi, blended learning bisa berarti pembelajaran campuran. Blended learning, menurut Smaldino (2008:44) ialah pembelajaran hibrid, yaitu mencampurkan dan pengaturan pembelajaran yang divariasikan agar sesuai dan tepat untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik. Pencampuran tersebut dalam pembelajaran memang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sejalan dengan Smaldino, menurut Graham (2005:5), blended learning adalah sebuah sistem yang mengkombinasikan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran berbantuan komputer. Dengan mengintegrasikan penggunaan media berbasis komputer untuk membantu penyampaian materi ajar. Sedangkan Watson (2008) merinci pengertian blended learning sebagai kegiatan pembelajaran yang mengkombinasikan komponen online learning dengan pendidikan tatap muka. Secara garis besar, media berbantuan komputer sangat luas sedangkan online learning merupakan pembelajaran berbantuan komputer melalui jaringan. Namun, dari tiga pendapat ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran blended merupakan campuran tentang pembelajaran berbasarkan kebutuhan peserta didik, pembelajaran berbantuan komputer dan pembelajaran yang memanfaatkan online learning.

Berbeda dengan apa yang dikemukakan di atas,  Rossette (2006:2) mengatakan bahwa blended learning adalah mencampurkan pendekatan yang berbeda, misalnya formal and informal learning, face-to-face and online learning experience, directed paths and reliance on self-direction or digital references and collegial connections. Pendapat Smaldino (2008), Graham (2005:5), Watson (2008) dan Rossette (2006:2) mengandung satu makna mencampur untuk menjelaskan masing-masing pengertian blended. Namun Bersin (2004:12) mengemukakan bawah blended learning is not a new concept, but the tools available to us  today are now. Artinya,  blended learning bukanlah konsep baru karena jauh sebelum ada pencampuran pembelajaran online dan tatap muka, sudah ada pencampuran pembelajaran tatap muka dengan video langsung berbasis satelit, pencampuran pembelajaran tatap muka dan Computer Personal (PC) menggunakan CD-ROM dan baru beralih ke pencampuran pembelajaran tatap muka dan online learning ketika internet mulai dikenal banyak orang. Di sini Bersin (2004:12) menegaskan bahwa pencampuran yang dilakukan dalam kegiatan tatap muka adalah pencampuran dengan alat baru yang tersedia hari ini. Jika dilihat kekiniannya, alat terbaru  berbantuan komputer yang ada saat ini adalah online seperti yang diungkapkan oleh Watson (2008). Dengan begitu dapat dikatakan blended learning merupakan pencampuran antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran berbantuan komputer yang ada pada saat itu (today).

Sesuai dengan apa yang dikemukakan Smaldino (2008:44) sebelumnya yang menjelaskan bahwa dalam kegiatan blended learning harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Yaitu ketika peserta didik membutuhkan pembelajaran online, maka dilakukan pembelajaran online. Ketika peserta didik membutuhkan pembelajaran tatap muka, maka dilakukan tatap muka. Dan begitu pula ketika peserta didik membutuhkan pembelajaran online yang dilaksanakan dengan tatap muka atau sebaliknya pembelajaran tatap muka yang membutuhkan online, maka dilakukan pencampuran keduanya. Graham (2005:5) berpendapat bahwa pembelajaran blended merupakan campuran pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbantuan komputer. Pengertian Graham ini menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka dilaksanakan dengan bantuan komputer. Sedangkan Watson (2008) menekankan pada online learning, yaitu memperkuat pembelajaran tatap muka dicampurkan dengan pembelajaran online. Jika merujuk pada ketiga pendapat tersebut ada yang beriringan namun ada pula yang berbeda. Misalnya antara Graham dan Watson, yaitu berbantuan komputer dan online. Kedua hal ini secara mendasar hampir sama karena sama-sama berbantuan komputer, namun pembelajaran online lebih menekankan pada pembelajaran yang menggunakan infrastruktur jaringan. Dari perbedaan ini dapat disimpulkan bahwa blended learning merupakan pencampuran tatap muka dengan online learning.

Pada intinya, pembelajaran online merupakan pembelajaran yang didukung oleh infrastruktur pendukung dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terutama jaringan. Sistem ini dapat memfasilitasi peserta didik untuk belajar lebih luas, lebih banyak dan lebih bervariasi, sehingga peserta didik bisa belajar kapan saja dan dimana saja. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Smaldino (2007: 181) bahwa online learning is the materials are often accessed through a network, including websites, the internet, intranets, CDs, and DVDs. Munir (2009:95) juga menyebutkan bahwa online learning memerlukan pendidik dan peserta didik yang berkomunikasi secara interaktif dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi seperti media komputer dan internet. Selain itu, Darmansyah (2010:207) juga mengemukan bahwa dengan online learning peserta didik bisa berpartisipasi pada web pembelajaran, menanggapi e mail dan chatting. Dalam menanggapi web pembelajaran, e mail dan chatting mutlak menggunakan jaringan. Jadi online learning itu adalah pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer, terkoneksi antara satu komputer dengan komputer lainnya agar terjadi interaksi antara pendidik dengan peserta didik.

Jadi, konsep blended learning adalah pembelajaran yang dilakukan dengan mencampurkan pendekatan yang berbeda dalam pembelajaran seperti pencampuran pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online learning atau pencampuran pembelajaran informal dengan pembelajaran formal. Yang dimaksud dengan blended learning dalam penelitian ini adalah pencampuran tatap muka dan online karena pembelajaran online merupakan salah satu kebaruan yang terjadi di dalam pembelajaran dan berdasarkan pada kebutuhan peserta didik.

Tujuan pengembangan adalah 1) Mengembangkan model blended learning yang valid untuk kuliah DPBK Program Studi TP FIP UNP dan 2) Mengembangkan model blended learning yang praktis dan efektif untuk mata kuliah DPBK Program Studi TP FIP UNP.

METODE

Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan 4D terdiri atas 4 tahap utama yaitu, Define (pembatasan), Design (perancangan), Develop (pengembangan) dan Disseminate (penyebaran). Tetapi dalam pengembangan model ini tidak mencakup penyebaran mengingat keterbatasan pengembang. Prosedurnya dimulai dari analisis kebutuhan yaitu analisis kurikulum, analisis mahasiswa dan analisis kelayakan. Setelah melakukan analisis dirancang model blended learning dengan empat komponen yaitu sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi dan sistem pendukung. Kemudian dilakukan pengembangan dengan memvalidasi, menilai kepraktisan dan keefektifitasan model. Divalidasi model dilakukan oleh tiga orang pakar (Dr. Jasrial, M. Pd.; Dr. Ridwan, M. Sc. Ed.; dan Dr. Edwin Musdi, M. Pd.), sedangkan kepraktisan dan keefektifan dinilai oleh mahasiswa sebagai pengguna.

Pengembangan model pembelajaran ini dikembangkan pada mata kuliah Desain Pembelajaran Berbasis Komputer (DPBK) dengan materi model-model dalam PBK. Dengan subjek uji mahasiswa yang mengambil mata kuliah Desain Pembelajaran Berbasis Komputer dengan kode seksi 25669 dan yang melakukan kegiatan perkuliahan menggunakan model pembelajaran blended learning diasumsikan semua mahasiswa dapat menggunakan komputer dan mengakses website pembelajaran.

Data penelitian dianalisis melalui teknik analisis deskriptif, yaitu dengan mendeskripsikan kevalidan, kepraktisan dan keefektifitasan penggunaan model pembelajaran blended learning pada mata kuliah Desain Pembelajaran Berbasis Komputer. Validasi model oleh ketiga validator tersebut mengungkapkan bahwa model yang dikembangkan ini cukup valid, praktis, dan efektif.

HASIL

Validator pertama, Dr. Jasrial, M. Pd. menilai model blended learning dari segi sintaks yaitu 95, sistem sosial 100, prinsip reaksi 91,67 dan sistem pendukung 84,38. Validator kedua, Dr. Edwin Musdi, M. Pd. menilai model blended learning dari segi sintaks yaitu 85, sistem sosial 85, prinsip reaksi 87,5 dan sistem pendukung 100. Dan validator ketiga Dr. Ridwan, M. Sc. Ed. menilai model blended learning dari segi sintaks yaitu 100, sistem sosial 85, prinsip reaksi 100 dan sistem pendukung 93,75.

Sedangkan berdasarkan angket respon mahasiswa, penilaian terhadap kepraktisan sintaks model blended learning diperoleh tiga orang mahasiswa menilai sangat praktis karena berada pada rentangan tingkat capaian 86-100 sedangkan tujuh belas orang menilai praktis karena berada pada rentangan tingkat capaian 71-85. Kemudian, penilaian terhadap kepraktisan sistem sosial model blended learning diperoleh dua orang mahasiswa menilai sangat praktis karena berada pada rentangan tingkat capaian 85-100 sedangkan delapan belas orang menilai praktis karena berapa pada rentangan tingkat capaian 71-85. Dari angket respon mahasiswa penilaian terhadap kepraktisan sistem pendukung model blended learning diperoleh empat orang mahasiswa menilai sangat praktis karena berada pada rentangan tingkat capaian 85-100 sedangkan enam belas orang menilai praktis karena berapa pada rentangan tingkat capaian 71-85. Sedangkan penilaian mahasiswa terhadap kepraktisan prinsip reaksi model blended learning diperoleh lima orang mahasiswa menilai sangat praktis karena berada pada rentangan tingkat capaian 85-100 sedangkan lima belas orang menilai praktis karena berapa pada rentangan tingkat capaian 71-85.

Kemudian, dilihat dari perolehan nilai hasil belajar mahasiswa, 13 orang pada pada tingkat capaian berkisar antara 85-100 yang berarti sangat efektif. Kemudian enam orang berapa pada tingkat capaian berkisar antara 71-85 yang berarti efektif. Namun jika dilihat dari rata-rata kelas yaitu 89,65 dapat disimpulkan bahwa model blended learning sangat efektif karena berada pada capaian 85-100.

 PEMBAHASAN

Analisis kebutuhan dilakukan dengan melakukan penelusuran tentang proses belajar, kebutuhan peserta didik serta harapan yang akan dicapai melalui proses pembelajaran (Prawiradilaga, 2009:27). Dengan demikian, melalui analisis kebutuhan ini dipilih masalah yang dihadapi untuk dicarikan solusi penyelesaiannya dengan menyediakan informasi penting untuk menetapkan intervensi yang cocok (Kaufman, Roger & English, Fenwick W, 1979). Oleh karena itu, proses pengembangan model pembelajaran blended learning yang valid diawali dengan analisis kebutuhan yang terdiri dari  tiga tahap; yaitu analisis kurikulum, analisis mahasiswa dan analisis kelayakan.

Setelah melakukan analisis kebutuhan, dilakukan pengembangan model blended learning. Pengembangan dilakukan dengan memperhatikan komponen-komponen model pembelajaran, yaitu sintask, sistem sosial, prinsip reaksi dan sistem pendukung (Joyce, Weil dan Shower, 1992:13-16).

Sintaks merupakan urutan aktivitas pembelajaran. Menurut Joyce, Weil dan Showers (1992:14) sintaks adalah tahap mendeskripsikan model. Misalnya bagaimana memulai atau apa yang terjadi selanjutnya setelah melakukan satu kegiatan. Sintaks perlu dideskripsikan ke dalam rangkaian kegiatan yang disebut dengan tahap-tahap. Oleh karena itu, setiap model memiliki tahap yang jelas dan berbeda agar bisa diterapkan. Begitu juga dengan model blended learning agar dapat diterapkan terlebih dahulu harus memiliki tahap-tahap pelaksanaannya yang jelas.

Berdasarkan analisis kebutuhan dan model blended learning  sebelumnya, maka dikembangkan model blended learning dengan sintaks seperti gambar berikut:

 sintaks

Sistem sosial model blended learning adalah sinkronisasi interaksi antara dosen dan mahasiswa. Interaksi dosen dan mahasiswa ini merupakan inti kegiatan pembelajaran yang penting dilakukan dalam setiap proses pembelajaran. Interaksi merupakan pergaulan antara dosen dan mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dimensi interaksi sosial jika dikaitkan dengan interaksi dalam pembelajaran adalah hubungan dosen dengan mahasiswa. Unsur-unsur interaksi sosial adalah bahwa hubungan dosen dan mahasiswa adalah pekerjaan. Pendidik mengajar, membimbing dan mengarahkan peserta didik sedangkan peserta didik belajar, sehingga dalam proses pembelajaran menunjukkan suatu hubungan sosial antara keduanya. Kemudian untuk mencapai interaksi sosial yang terjadi di dalam proses pembelajaran didasarkan pada kepentingan, terutama kepentingan peserta didik untuk belajar dan membantu peserta didik mencapai

kompetensi setelah melakukan interaksi sesama mahasiswa, dosen, materi ajar dan lingkungan pembelajaran yang terjadi pada proses pembelajaran. Sistem sosial, menurut Joyce, Weil dan Showers (1992:14), dalam sebuah model pembelajaran digambarkan peranan dosen dan mahasiswa, hubungan dan jenis-jenis norma yang dianjurkan. Peranan dosen dalam setiap model berbeda satu sama lainnya.

Pengembangan model blended learning juga dilihat berdasarkan prinsip reaksi, yaitu bagaimana sikap pendidik terhadap peserta didik. Hal ini hampir sama dengan sistem sosial yaitu kesinkronan dalam melakukan peran masing-masing. Jika sistem sosial menjelaskan peran masing-masing pendidik dan peserta didik maka prinsip reaksi mengatur bagaimana melakukan peran masing-masing. Misalnya, ketika dosen mengucapkan salam saat memasuki kelas, mahasiswa akan menjawab salam tersebut. Dalam model blended learning, ketika dosen menjelaskan materi tertentu maka mahasiswa mendengarkannya dengan seksama; ketika mahasiswa bertanya, dosen menjawab pertanyaan tersebut. Prinsip reaksi model blended terwujud dalam bentuk aturan-aturan perkuliahan. Misalnya, aturan perkuliahan online, aturan perkuliahan tatap muka, bentuk aturan bagi mahasiswa yang menyelesaikan tugas tepat waktu dan yang terlambat, aturan mengenai kesepakatan melakukan diskusi online dan aturan-aturan bagaimana dosen bersikap dalam melakukan setiap langkah dalam blended learning.

Sistem pendukung model blended merupakan unsur-unsur yang dapat membantu keterlaksanaan atau merupakan persyaratan dan dukungan apa yang diperlukan di luar fasilitas teknis model ini. Seperti unit komputer, jaringan, kemampuan peserta didik mengakses web pembelajaran, perencanaan pembelajaran berupa SAP, media pembelajaran dan lembar evaluasi. Menurut Joyce, Weil dan Showers (1992:15), sistem pendukung merupakan penggambaran kondisi yang mendukung munculnya model pembelajaran, yaitu pendukung apa yang perlu ditambahkan sebagai syarat model, misalnya keterampilan manusia yang dimiliki (entry behavior), kapasitas dan fasilitas teknik.

 KESIMPULAN DAN SARAN

Pengembangan model blended learning dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dosen dan mahasiswa agar cara belajar mahasiswa bervariasi, menanggulangi kekurangan waktu untuk menyampaikan materi ajar dan membantu mahasiswa memahami materi ajar dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Berdasarkan pengembangan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan pertama bahwa proses pengembangan model blended learning yang valid menggunakan web pembelajaran untuk mata kuliah DPBK Program Studi TP FIP UNP diawali dengan analisis kebutuhan yang terdiri dari analisis kurikulum, analisis mahasiswa dan analisis kelayakan. Dari analisis kebutuhan tersebut dilakukan pengembangan model yang terdiri dari empat komponen yaitu sintaks, sistem sosial, sistem pendukung dan prinsip reaksi. Dan kedua model blended learning yang dikembangkan untuk mata kuliah DPBK Program Studi TP FIP UNP sudah praktis dan efektif. Praktikalitas dilihat dari respon mahasiswa terhadap penggunaan model blended learning mulai dari sintaks, sistem sosial, sistem pendukung dan prinsip reaksi. Sedangkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah DPBK menunjukkan bahwa model blended learning efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kemudian, implikasi dari pengembangan ini adalah bahwa model blended learning dapat diaplikasikan pada mahasiswa atau peserta didik yang memiliki kemampuan mengggunakan komputer dan mampu mengakses internet karena blended learning yang dimaksud adalah pencampuran pembelajaran online dengan pembelajaran tatap muka. Selain itu, model blended learning dapat diterapkan pada situasi yang mendukung untuk dilakukan pencampuran pembelajaran tatap muka dan online learning, seperti media pembelajaran online berupa web atau link terkait ke beberapa halaman di internet, adanya jaringan untuk bisa mengakses bahan yang disediakan secara online dan memiliki perencanaan pembelajaran untuk melakukan blended learning. Model blended learning juga dapat diterapkan pada situasi yang membutuhkan dilakukan model pembelajaran ini karena kekurangan waktu untuk menuntaskan materi ajar pada pertemuan tatap muka. Dan jika ingin menerapkan model blended learning pada mata pelajaran dan mata kuliah lain, dapat diterapkan dengan mengikuti sintaks model pembelajaran yang telah valid terutama sesuai dengan tipe yang sama dengan yang dilakukan dalam pengembangan ini.

Berdasarkan kesimpulan pengembangan blended learning ini maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

  1. Bagi dosen atau pendidik model blended learning ini dapat dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dan peserta didik.
  2. Bagi dosen atau pendidik yang akan menerapkan model blended learning ini perlu dipersiapkan komponen pendukungnya seperti SAP/ RPP, media pembelajaran dan perangkat pembelajaran lain dengan memperhatikan komponen model blended learnig.
  3. Bagi jurusan atau sekolah perlu memfasilitasi dosen/ pendidik dengan fasilitas yang mendukung untuk menerapkan model blended learning.
  4. Bagi peneliti atau pengembang pembelajaran selanjutnya perlu mengembangkan tipe blended learning yang lain dengan yang telah dilakukan. Peneliti lain juga bisa menguji keefektifitasan dari model blended learning pada mata kuliah/ mata pelajaran di tempat yang berbeda.

 DAFTAR RUJUKAN

Akker, Jan Van Den. 1999. Design Approaches and Tools in Education and Training. Dordrecht:Kluwer Academic Publisher

Basori. 2010. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Mata Kuliah Chasis dan Body Dengan Model Blended Learning (Perpaduan Antara Traditional Learning Dan E-Learning). 

http://basori.staff.fkip.uns.ac.id/2010/10/30/peningkatan-kualitas-pembelajaran-mata-kuliah-chasis-dan-body-dengan-model-blended-learning-perpaduan-antara-traditional-learning-dan-e-learning/.Diakses tanggal 8 Juni 2012

Bersin, Josh. 2004. The Blended Learning Book; Best Practices, Proven Methodologies and Lessons Learned. United Stated: John Wiley & Sona, Inc.

Cahyadi, Ferry Dwi. 2012. Penerapan Blended Learning dalam Pembelajaran Biologi untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPA 4 Putra SMA RSBI Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Sukoharjo. Karya tidak diterbitkan Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Darmansyah. 2010. Pembelajaran Berbasis Web. Padang: UNP Press

Graham, Charles R. 2005. The Handbook of Blended Learning. Bloomington: Indiana University

Joyce, Bruce. Weil, Massha. & Showers, Beverly. 1992. Models of Teaching (4th). United Stated of America: Person Education, Inc.

Joyce, Bruce. Weil, Massha. & Calhoun, Emily. 2009. Models of Teaching (8th). United Stated of America: Person Education, Inc.

Kaufman, Roger & English, Fenwick W. 1979. Needs Assessment. New Jersey: Educational Technology Publication, Inc.

Nieveen, Nienke. 1999. Prototyping to Reach Product Quality. Dordrecht:Kluwer Academic Publisher

Plomp, Tjeerd & Nieveen, Nienke. 2010. An Introduction to Educational Design Research. Proceeding of the seminar conducted at the East China Normal University, Shanghai (China), November 23-26, 2007

Prawiradilaga, Dewi Salma. 2009. Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Putra, Nusa. 2011. Research & Development. Jakarta: Rajawali Pers

Richey, Rita C. 2007. Design Development Research; Methods, Strategies and Issues. London: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers

Rosserte, Allison. & Frazee, R.V. 2006. Blended Learning Oppurtunities. http://www.amanet.org.  American Management Assosiation.

Smaldino, Sharon E, dkk. 2007. Instructional Technology And Media For Learning Ninth edition. New Jersey Columbus, Ohio: PEARSON Merrill Prentice Hall

Sumarno, Alim. 2011. Pola Diskusi dan Tingkat Interaksi Mahasiswa. http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/pola-diskusi-dan-tingkat-interaksi-mahasiswa-dalam-pembelajaran-online. Diakses tanggal 8 Juni 2012

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2006. Jakarta: Diperbanyak oleh Sinar Grafika

Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 2006. Jakarta: Diperbanyak oleh Sinar Grafika

Rahmi, Ulfia. 2013. Pengembangan Model Blended Learning pada Mata Kuliah Desain Pembelajaran Berbasis Komputer (DPBK)di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Padang. Tesis tidak diterbitkan. Padang: Pascasarjana UNP

Visser, L. 1998. The Development of Motivational Communication in Distance Education Support. Den Haag: Printpartners Ipskamp, Enschede

Watson. John. 2008. Blended Learning: The Convergence of Online and Face-to-Face Education. iNACOL Promising Pravtices in Online Learning

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: