RSS

Penelitian Pengembangan

13 Jun

Penyelenggaraan Pendidikan Nasional menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks karena pengaruh perkembangan lingkungan internal dan kesternal. Guna menghadapi tantangan tersebut maka diperlukan manajemen pendidikan nasional yang fleksibel, dinamis, antisipatif, dan responsif terhadap perubahan internal dan eksternal. Penelitian dan inovasi pendidikan diharapkan memberi masukan bagi penetapan kebijakan tersebut. Guru sebagai pelaksana pendidikan memiliki tugas pokok yaitu melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pelayanan pada masyarakat. Penelitian yang merupakan salah satu tugas guru tersebut secara esential merupakan aktivitas untuk mengembangkan teori atau cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang tekait dengan kehidupan khususnya masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Aktivitas penelitian mutlak diperlukan oleh seorang guru karena setiap pemecahan masalah memerlukan teori-teori yang teruji keunggulannya. Teori-teori yang ada membutuhkan pembaharuan, oleh karena itu diperlukan penelitian. Jenis-jenis penelitian yang dapat digunakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah tersebut khususnya dalam bidang pendidikan adalah penelitian pengembangan.

Penelitian Pengembangan atau research and development (R&D) adalah sebuah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktik (Sukmadinata, 2009). Penelitian Pengembangan juga didefinisikan sebagai suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada yang dapat dipertanggungjawabakan (Sujadi, 2003:164). Produk yang dihasilkan dapat berupa benda atau prangkat keras (hardware) dan dapat juga berupa perangkat lunak (software). Menurut Borg&Gall (1983) research based development adalah sebuah riset yang dilakukan untuk mengembangkan dan mengevaluasi produk untuk keperluan pendidikan. Tujuan dari riset ini adalah menghasilkan sebuah produk.

Senada dengan pengertian-pengertian tersebut, Richey and Nelson (dalam Hadi, 2001:4) mendefinisikan penelitian pengembangan sebagai suatu pengkajian sistematis terhadap pendesainan, pengembangan dan evaluasi program, proses, dan produk pembelajaran yang harus memenuhi kriteria validitas, praktikalitas dan efektivitas. Akker dan Plomp (dalam Hadi, 2001:4) mendeskripsikan penelitian pengembangan berdasarkan dua tujuan, yaitu: 1) pengembangan untuk mendapatkan prototipe produk, 2) perumusan saran-saran metodologis untuk pendesainan dan evaluasi prototipe tersebut.

Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan produk tersebut. Jadi penelitian pengembangan bersifat longitudinal (bertahap dapat dilakukan dalam jangka waktu beberapa tahun/multi years).

Penelitian pengembangan dalam bidang pendidikan pada umumnya jarang diarahkan pada pengembangan suatu produk, tetapi ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru berkenaan dengan fenomena-fenomena yang bersifat fundamental, serta praktik-praktik pendidikan. Penelitian tentang fenomena-fenomena fundamental pendidikan dilakukan melalui penelitian dasar (basic research), sedangkan penelitian tentang praktik pendidikan dilakukan melalui penelitian terapan (applied research). Penelitian pengembangan merupakan metode penghubung atau pemutus kesenjangan antara penelitian dasar dengan penelitian terapan. Sering dihadapi adanya kesenjangan antara hasil-hasil penelitian dasar yang bersifat teoretis dengan penelitian terapan yang bersifat praktis. Kesenjangan ini dapat dihilangkan atau disambungkan dengan penelitian dan pengembangan.Suatu produk yang baik yang akan dihasilkan melalui penelitian ini baik itu berupa hardware ataupun software memiliki karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut merupakan perpaduan dari sejumlah konsep, prinsip, asumsi, hipotesis, prosedur berkenaan dengan sesuatu hal yang telah ditemukan atau dihasilkan dari penelitian dasar.

Penelitian pengembangan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran memiliki karakteristik sebagai berikut (Santyasa,2009:3-4):

  1. Masalah yang ingin dipecahkan adalah masalah nyata yang berkaitan dengan upaya inovatif atau penerapan teknologi dalam pembelajaran sebagai pertanggung jawaban profesional dan komitmennya terhadap pemerolehan kualitas pembelajaran.
  2. Pengembangan model, pendekatan dan metode pembelajaran serta media belajar yang menunjang keefektifan pencapaian kompetensi siswa.
  3. Proses pengembangan produk, validasi yang dilakukan melalui uji ahli, dan uji coba lapangan secara terbatas perlu dilakukan sehingga produk yang dihasilkan bermanfaat untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Proses pengembangan, validasi, dan uji coba lapangan tersebut seyogyanya dideskripsikan secara jelas, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara akademik
  4. Proses pengembangan model, pendekatan, modul, metode, dan media pembelajaran perlu didokumentasikan secara rapi dan dilaporakan secara sistematis sesuai dengan kaidah penelitian yang mencerminkan originalitas.

Menurut Visscher-Voerman (1999:17) paradigma penelitian pengembangan terdiri dari empat pradigma yaitu 1) pradigma instrumental (instrumental paradigma), 2) paradigma komunikatif (communicative paradigma), 3) Paradigma pragmatis (pragmatic paradigm), dan 4) paradigma artistik (artistic paradigm). Paradigma instrumental dikarakteristikan dengan planning-by-objectiva, yakni rencana yang didasarkan pada tujuan. Analisis kebutuhan dan masalah dilakukan di awal proses pengembangan. Rumusan tujuan merupakan pusat dari model. Setelah merumuskan tujuan , menentukan alat-alat yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

Paradigma komunikatif ditentukan oleh keterlibatan orang-orang dalam penelitian. Mereka memiliki pendapat dan persepsi yang berbeda-beda tentang produk yang akan dihasilkan dalam penelitian pengembangan. Dengan adanya keterlibatan sosial dalam penelitian menjadikan pencapaian dan kesimpulan diperoleh melalui konsensus dari berbagai pihak. Dengan demikian proses pengembangan dipengaruhi oleh aktivitas kegiatan sosial antar subyek (inter-subject).

Pardigma pragmatis ditentukan oleh lingkungan sebagai tempat untuk implementasi produk dan penggunaannya. Implementasi produk dan penggunaannya merupakan bagian utama dari proses, misalnya dalam penelitian pengembangan dengan pendekatan prototipe. Penelitian dipandang berhasil jika prototipe yang dihasilkan dapat digunakan dan bermanfaat pada suatu lingkungan.

Paradigma artistik berkaitan dengan realitas sosial. Eisner (dalam Visscher-Voerman, 1999:1) melukiskan realitas sosial sebagai berikut “social reality as negotiated subjective, constructed, and having multiple perspective”. Dalam realitas sosial antara lain terjadi negosiasi, subyektif, konstruktif, dan memiliki berbagai perspektif.

Dalam penelitian pengembangan diperlukan desain penelitian. Plom (1997:5) menyatakan “we characterized educational design in short as method within which one is working in systematic way towards the solving of a ‘make’ problem.” Artinya secara singkat kita mengkarakteristikan desain bidang pendidikan sebagai metode yang di dalamnya orang bekerja secara sistematik menuju ke pemecahan dari masalah yang ‘dibuat.’

Model umum pemecahan masalah bidang pendidikan yang dikemukakan Plom tersebut terdiri dari fase investigasi awal (prelimenary investigation), fase desain (design), fase realisasi/konstruksi (realization/construction), dan fase tes, evaluasi dan revisi (test, evaluation and revision), serta implementasi (implementation). Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing fase tersebut:

1. Fase investigasi awal (prelimenary investigation)

Salah satu unsur penting dalam proses desain adalah mendefinisikan masalah (defining the problem). Jika masalah merupakan kasus, kesenjangan antara apa yang terjadi dan situasi yang dinginkan, maka diperlukan penyelidikan penyebab kesenjangan dan menjabarkannya dengan hati-hati. Istilah prelimenary investigation juga disebut analisis kebutuhan (needs analysis) atau analisis masalah (problem analysis). Plomp dan Van De Wolde (1997:8) menyatakan “In this investigation important elements are the gathering and analysis of information the definition of the problem and the planning of the possible continuation of the project.” Artinya dalam investigasi unsur-unsur penting adalah mengumpulkan dan menganalisis informasi, mendefinisikan sebuah masalah dan merencanakan proyek lanjutan.

2. Fase desain (design)

Dalam fase ini, pemecahan (solution) di desain, mulai dari definisi masalah. Kegiatan pada fase ini bertujuan untuk mendesain pemecahan masalah yang dikemukakan pada fase investigasi awal. Hasil dari desain adalah cetak-biru dari pemecahan. Karakteristik kegiatan dalam fase ini adalah generasi dari semua bagian-bagian solusi, membandingkan dan mengevaluasi alternatif-alternatif, menghasilkan pilihan desain yang terbaik untuk dipromosikan atau merupakan cetak-biru dari solusi.

3. Fase realisasi/konstruksi (realization/construction)

Desain merupakan rencana kerja atau cetak-biru untuk direalisasikan dalam rangka memperoleh solusi pada fase realisasi/konstruksi.

4. Fase tes, evaluasi, dan revisi (test, evaluation and revision)

Suatu solusi yang dikembangkan harus diuji dan dievaluasi dalam praktik. Evaluasi adalah proses pengumpulan, memproses dan menganalisis informasi secara sistematik, untuk memperoleh nilai realisasi dari solusi. Tanpa evaluasi tidak dapat ditentukan apakah suatu masalah telah dapat dipecahkan dengan memuaskan. Dengan kata lain, apakah situasi yang diinginkan sebagaimana yang diuraikan pada perumusan masalah telah berhasil diwujudkan. Berdasarkan pada data yang terkumpul dapat ditentukan solusi mana yang memuaskan dan mana yang masih perlu dikembangkan. Ini berarti kegiatan suplemen mungkin diperlukan dalam fase-fase sebelumnya. Fase ini disebut siklus balik (feedback cicle). Siklus di ulang-ulang sampai pemecahan masalah yang didinginkan tercapai.

5. Fase implementasi (implementation)

Setelah dilakukan evaluasi dan diperoleh produk hasil, maka produk dapat diimplementasikan.

Borg and Gall (1983) menjelaskan empat ciri utama dalam penelitian dan pengembangan,yaitu:

a. Studying research findings pertinent to the product to be develop; Artinya, melakukan studi atau penelitian awal untuk mencari temuan-temuan penelitian terkait dengan rpoduk yang akan dikembangkan.

b. Developing the product base on this findings; Artinya, mengembangkan produk berdasarkan temuan penelitian tersebut

c. Field testing it in the setting where it will be used eventually; Artinya, dilakukannya uji lapangan dalam seting atau situasi senyatanya di mana produk tersebut nantinya digunakan

d. Revising it to correct the deficiencies found in the field-testing stage; Artinya, melakukan revisi untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam tahap-tahap uji lapangan.

Dari empat ciri utama R&D tersebut, memberikan gambaran kepada kita bahwa ciri utama R&D adalah adanya langkah-langkah penelitian awal tekait dengan produk yang akan dikembangkan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut kemudian produk pendidikan dirancang dan dikembangkan untuk kemudian diuji dan diperbaiki/direvisi.

Adapun langkah-langkah untuk melakukan R&D menurut Borg and Gall (1989), yaitu:

  1. Research and Information colletion, Penelitian dan pengumpulan data. Pengukuran kebutuhan, studi literatur, penelitian dalam skala kecil, dan pertimbangan-pertimbangan dari segi nilai.
  2. Planning atau perencanaan. Menyusun rencana penelitian, meliputi kemampuan-kemampuan yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian, rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian tersebut, desain atau langkah-langkah penelitian, kemungkinan pengujian dalam lingkup terbatas.
  3. Develop Preliminary form of Product atau pengembangan draf produk awal. Pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran dan instrumen evaluasi.
  4. Preliminary Field Testing atau melakukan uji coba lapangan awal. Dilakukan di 1 sampai 3 sekolah, menggunakan 6 sampai dengan12 subjek uji coba (guru). Selama uji coba diadakan pengamatan, wawancara dan pengedaran angket. Pengumpulan data dengan kuesioner dan observasi yang selanjutnya dianalisis.
  5. Main Product Revision atau Revisi hasil uji coba. Memperbaiki atau menyempurnakan hasil uji coba berdasarkan masukan dari hasil uji coba awal produk.
  6. Main Field Testing atau uji lapangan untuk produk utama. Dilakukan di 5 sampai 15 sekolah dengan 30 sampai dengan100 subjek. Pengumpulan data efek sebelum dan sesudah implementasi produk dengan menggunakan kelas khusus, yaitu data kuantitatif penampilan subjek uji coba (guru) sebelum dan sesudah menggunakan model yang dicobakan dikumpulkan. Hasil-hasil pengumpulan dat dievaluasi dan kalau mungkin dibandingkan dengan kelompok pembanding.
  7. Operational Product Revision atau revisi produk. Menyempurnakan produk hasil uji lapangan berdasarkan masukan dan hasil uji lapangan utama.
  8. Operational Field Testing atau melakukan uji coba lapangan skala luas. Dilakukan di 10 sampai 30 sekolah dnegan 40 sampai dengan 200 subjek. Pengujian dilakukan melalui angket, wawancara, dan observasi dan hasilnya dianalisis.
  9. Final Product Revision atau revisi produk final. Penyempurnaan didasarkan masukan atau hasil uji coba lapangan dalam skala luas.
  10. Disemination and Implementasi. Desiminasi dan implementasi, yaitu melaporkan produk pada forum-forum profesional di dalam jurnal dan implementasi produk pada praktik pendidikan. Penerbitan produk untuk didistribusikan secara komersial untuk dimanfaatkan oleh publik. Melakukan monitoring terhadap pemanfaatan produk oleh publik untuk memperoleh masukan dalam kerangka mengendalikan kualitas produk.

Berdasarkan langkah-langkah tersebut, dalam penelitian pengembangan menuntut peneliti untuk dapat mengkombinasikan berbagai metode penelitian lain. Dapat dikatakan bahwa dalam penelitian pengembangan using mixing method. Penelitian ini tentunya menuntut peneliti untuk mampu memilih, menentukan dan mengkombinasikan berbagai metode penelitian yang relevan. Pada saat penelitian awal, mungkin peneliti akan menggunakan metode survei, studi kasus, kaji hasil penelitian orang lain, dan lain-lain. Pada saat pengembangan dalam rangka uji coba, validasi, dan revisi produk peneliti membutuhkan metode survei, eksperimen, dan lain-lain di samping evaluasi formatif seperti uji lapangan yang berulang-ulang atau jenis evaluasi lain seperti small group evaluation, expert review, focus group discussion, dan lain-lain.

Dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan, terdapat beberapa metode yang digunakan, yaitu metode deskriptif, evaluatif, dan eksperimental. Metode Penelitian deskriptif digunakan dalam penelitian awal untuk menghimpun data tentang kondisi yang ada. Kondisi tersebut mencakup:

1) kondisi produk-produk yang sudah ada sebagai bahan perbandingan atau bahan dasar (embrio) produk yang akan dikembangkan

2) Kondisi pihak pengguna (dalam bidang pendidikan misalnya sekolah, guru, kepala sekolah, siswa, serta pengguna lainnya)Kondisi faktor-faktor pendukung dan penghambat pengembangan dan pengguna dari produk yang akan dihasilkan, mencakup unsur pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya, pengelolaan, dan lingkungan pendidikan di mana produk tersebut akan diterapkan.

Metode evaluatif, digunakan untuk mengevaluasi produk dalam proses uji coba pengembangan suatu produk. Produk penelitian dikembangkan melalui serangkaian uji coba dan pada setiap kegiatan uji coba diadakan evaluasi, baik itu evaluasi hasil maupun evaluasi proses. Berdasarkan temuan-temuan hasil uji coba diadakan penyempurnaan-penyempurnaan.

Metode eksperimen digunakan untuk menguji keampuhan dari produk yang dihasilkan,walaupun dalam tiap uji coba telah ada evaluasi (pengukuran), tetapi pengukuran tersebut masih dalam rangka pengembangan produk, belum ada kelompok pembanding. Dalam eksperimen telah diadakan pengukuran selain pada kelompok eksperimen juga pada kelompok pembandiing atau kelompok kontrol. Pemilihan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan secara acak atau random. Pembandingan hasil eksperimen pada kedua kelompok tersebut dapat menunjukkan tingkat keampuhan dan produk yang dihasilkan.

Strategi penelitian dan pengembangan banyak digunakan dalam teknologi instruksional atau teknologi pembelajaran yang sekarang lebih difokuskan pada sistem instruksional atau sistem pembelajaran. Strategi ini banyak digunakan untuk mengembangkan model-model, desain atau perencanaan pembelajaran, proses atau pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan model-model program pembelajaran. Penelitian dan pengembangan juga banyak digunakan untuk mengembangkan bahan ajar, media pembelajaran, serta manajemen pembelajaran. Penggunaan strategi penelitian dan pengembangan dalam teknologi instruksional banyak digunakan dalam pendidikan dan pelatihan bidang industri, bisnis, kemiliteran, teknologi, kedokteran, dll. Pendekatan ini digunakan untuk pengembangan di bidang software, hardware,teknoware maupun manageware.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Gall, M.D., Gall, J.P & Borg, W.R. 2003. Educational Research. Boston: Pearson Education. Inc

Hendrayana, Aan. 2009. Metode Penelitian Pengembangan (Developmenal Research),(Online). (http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/17/metode-penelitian-pengembangan-developmental-research/).

Prastowo, Andi.2011. Metode Penelitian R&D (Penelitian dan Pengembangan), (Online). (http://andiprastowo.wordpress.com/2011/05/09/metode-penelitian-r-d-penelitian-dan-pengembangan/).

Plomp, Tj. 1997. Educational Design: Introduction. From Tjeerd Plomp (eds). Educational&Training System Design: Introduction. Design of Education and Training (in Dutch). Utrecht (the Netherlands): Lemma. Netherland. Faculty of Educational Science and Technology, University of Twente.

Plomp, Tj dan Ven de Wolde, J. 1992. The General Model for Systematical Problem Solving. From Tjeerd Plomp (Eds.). Design of Educational and Training (in dutch). Utrecht (the Netherlands): Lemma. Netherland. Faculty of Educational Science and Technology, University of twente. Enshede the Netherland.

Rosyid, Muh. 2010. Metode Penelitian Pendidikan, (Online). (http://www.rosyid.info/2010/06/metode-penelitian-pendidikan.html).

Santyasa, I wayan. 2009. Metode Penelitian Pengembangan dan Teori Pengembangan Modul. Makalah disajikan dalam Pelatihan Bagi Para Guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK, Bali 12-14 Januari 2009. Dalam Santyasa data base, (Online).(http://santyasa.blogspot.com/2009/01/metode-penelitian-pengembangan-dan.html). Diakses 23 Nopember 2011

Sinaja, Hasniah.2010. Penelitian Pengembangan,(Online) (http://sinaja4math.blogspot.com/2010/10/penelitian-pengembangan-research-and.html.hasniah).

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Jakarta: Alfhabeta

Sujadi, 2002. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosda Karya

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: