RSS

Pembelajaran dengan Modul

01 Dec

Menurut Suryosubroto (1983: 17) modul adalah satu unit program belajar mengajar terkecil yang secara terperinci menggariskan:

  1. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
  2. Topik yang akan dijadikan pangkal proses belajar mengajar
  3. Pokok-pokok materi yang akan dipelajari
  4. Kedudukan dan fungsi modul dalam kesatuan program yang lebih luas
  5. Peranan guru dalam proses pembelajaran
  6. Alat-alat dan sumber yang akan dipergunakan
  7. Kegiatan-kegiatan belajar yang harus dilakukan dan dihayati murid secara berurutan
  8. Lembaran kerja yang harus diisi oleh anak
  9. Program evaluasi yang akan dilaksanakan

Modul yang akan digunakan dalam kegiatan belajar mengajar memiliki sifat-sifat yang khas, diantaranya adalah:

  1. Modul itu merupakan unit pengajaran terkecil dan lengkap
  2. Modul itu memuat rangkaian kegiatan belajar yang direncakan dan sistematik
  3. Modul memuat tujuan belajar yang dirumuskan secara jelas dan spesifik (khusus)
  4. Modul memungkinkan siswa belajar sendiri
  5. Modul merupakan realisasi pengakuan perbedaan individual dan merupakan salah satu perwujudan pengajaran individual

Dalam penggunaan modul pembelajaran pada kegiatan belajar mengajar diantaranya sebagai berikut:

  1. Tujuan pendidikan dapat dicapai secara efisien dan efektif
  2. Murid dapat mengikuti program pendidikan sesuai dengan kecepatan  dan sendiri
  3. Murid dapat sebanyak mungkin menghayati dan melakukan kegiatan belajar sendiri, baik di bawah bimbingan atau tanpa bimbingan
  4. Murid dapat menilai dan mengetahui hasil belajarnya sendiri secara berkelanjutan
  5. Murid benar-benar menjadi titik pusat kegiatan belajar mengajar
  6. Kemajuan siswa dapat diikuti dengan frekuensi yang lebih tinggi melalui evaluasi yang dilakukan pada setiap modul berakhir.
  7. Modul  disusun dengan berdasarkan pada konsep “mastery learning” suatu konsep yang menekankan bahwa murid harus secara optimal menguasai bahan pelajaran yang disajikan dalam modul ini. Prinsip ini mengandung konsekuensi bahwa seorang murid tidak diperbolehkan mengikuti program berikutnya sebelum ia menguasai paling sedikit 75% dari bahan tersebut.

Langkah-langkah penyusunan modul

Suatu modul yang digunakan di sekolah, disusun atau ditulis dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menyusun kerangka modul
    1. Menetapkan tujuan pembelajaran umum yang akan dicapai dengan mempelajari modul tersebut.
    2. Merumuskan tujuan pembelajaran khusus yang merupakan perincian atau pengkhususan dari tujuan pembelajaran umum
    3. Menyusun soal-soal penilaian untuk mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran khusus bisa dicapai
    4. Indentifikasi pokok-pokok materi pelajaran yang sesuai dengan setiap tujuan pembelajaran khusus
    5. Mengatur/ menyusun pokok-pokok materi tersebut di dalam urutan yang logis dan fungsional
    6. Menyusun langkah-langkah kegiatan belajar murid
    7. Pemeriksaan sejauh mana langkah-langkah kegiatan belajar siswa
    8. Indentifikasi alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan belajar dengan modul tersebut.
    9. Menyusun program secara terperinci meliputi pembuatan semua unsur modul yakni petunjuk guru, lebar kegiatan siswa, lembar kerja siswa, lembar jawaban, lembar penilaian (tes) dan lembar jawaban tes.

Modul dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu modul pokok dan modul pengayaan. Modul-modul pokok merupakan urutan sturi yang harus diikuti oleh semua siswa. Dengan menyelesaikan set-set modul pokok dalam suatu bidang studi, seorang siswa berhak untuk dinaikkan ke jenjang berikutnya dalam struktur sekolah. Maka modul-mosul pokok itu harus disiapkan dalam suatu bentuk yang memungkinkan hampir semua siswa dapat mengerjakan dengan berhasil baik dalam jangka waktu tertentu.

Siswa-siswa yang berkemampuan lebih di atas rata-rata, biasanya mampu menyelesaikan dengan baik modul-modul pokok lebih dahulu dibandingkan dengan siswa yang lain. Kepada mereka ini perlu diberikan kegiatan atau program tambahan yang bersifat ekstra.

Program pendidikan tambahan ini disebut dengan program pengayaan. Program ini dapat bersifat memperluas (horizontal) dan atau bersifat memperdalam (vertikal). Apabila setiap unit program pengayaan ini disusun dalam bentuk modul maka modul demikian ini adalah modul pengayaan.

Dengan tersedianya modul-modul pengayaan sekolah tidak akan menghambat siswa-siswa yang belajar dengan cepat. Mengkombinasikan modul pokok dengan modul pengayaan untuk berbagai studi berarti sekolah memberikan kemungkinan bagi siswa untuk belajar secara mamju berkelanjutan sesuai dengan kemampuan taraf motivasi dan bidang-bidang minatnya masing-masing.

Di sinilah pelaksanaan asa ‘Continuous Progress’ itu dalam kegiatan belajar mengajar. Sistem ini memungkinkan bagi siswa yang rata-rata atau lambat dalam belajarnya akan mampu juga menguasai modul pokok sebelum mereka diharuskan mempelajari modul pokok berikutnya.

Kombinasikan modul pokok dan modul pengayaan untuk tiap bidang studi pada tiap kelas ada beberapa kemungkinan:

  1. Kemungkinan pertama, ialah setiap modul pokok dilengkapi dengan satu atau beberapa mosul pengayaan
  2. Kemungkinan kedua, sejumlah modul pokok untuk jangka waktu tertentu misalnya satu semester dilengkapi dengan sejumlah modul pengayaan
  3. Kemungkinan ketiga, modul pokok untuk program satu tingkat (1 tahun) dilengkapi dengan sejumlah modul pengayaan
  4. Kemungkinan keempat, modul pokok untuk program satu terminal pendidikan (3 tahun, 5 tahun, 8 tahun) dilengkapi sejumlah modul pengayaan

Tentu saja beberapa kemungkinan tersebut menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam pelaksanaan pengajaran dan pengelolaan kelas. Perlu diperhatikan benar adalah bahwa program pengayaan itu tidak harus selalu berbentuk mosul pengayaan. Program pengayaan yang non mosul itu disebut dengan kegiatan pengayaan, misalnya membantu guru menyiapakan alat-alat pengajaran, membantu siswa yang lain yang mengalami kesukaran dalam menyelesaikan modul pokok, membaca di perpustakaan dan lain-lain.

Perlu diingat juga adalah bahwa modul-modul pengayaan untuk setiap modul pokok berbeda panjangnya. Apabila seorang siswa hanya mempunyai kelebihan waktu setalah jam pelajaran, berarti ia perlu memperoleh modul pengayaan yang lebih pendek dibandingkan dengan teman lainnya yang mempunyai kelebihan waktu satu pelajaran penuh. Ada kemungkinan bahwa suatu modul pengayaan harus diselesaikan dalam waktu beberapa hari. Untuk menyelesaikan program tambahan ini, siswa dapat bekerja di sekolah atau di rumah.

Unsur-unsur modul

Berdasarkan dari batasan pengertian tentang modul, kiranya dapat diuraikan secara terperinci unsur-unsur modul  atau komponen-komponen modul. Perlu diketahui bahwa modul yang dikembangkan melalui Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) di Indonesia dewasa ini berbentuk buku kecil (booklet). Dari satu berkas buku kecil yang disebut modul itu terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Pedoman guru

Pedoman guru berisi petunjuk-petunjuk guru agar pengajaran dapat diselenggarakan secara efisien. Juga memberi penjelasan tentang;

  1. Macam-macam kegiatan yang harus dilakukan oleh kelas
  2. Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan modul
  3. Alat-alat pengajaran yang harus digunakan
  4. Petunjuk-petunjuk evaluasi
  5. Lembaran kegiatan siswa

Lembaran kegiatan ini memuat materi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa. Penyusunan materi pelajaran ini disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai yang telah dirumuskan dalam modul itu, materi pelajaran juga disusun secara teratur langkah demi langkah sehingga dapat diikuti dengan mudah oleh siswa

Dalam lembaran kegiatan tercantum pula kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan siswa, misalnya pengadakan percobaan, membaca kamus, dan sebagainya. Mungkin pula mencantumkan buku-buku yang harus dipelajari siswa sebagai pelengkap materi yang terdapat dalam modul.

  1. Lembaran kerja

Lembaran kerja ini menyertai lembaran kegiatan siswa, digunakan untuk menjawab atau mengerjakan soal-soal tugas-tugas atau masalah-masalah yang harus dipecahkan. Lembar kegiatan siswa itu sendiri harus dijaga supaya tetap bersih, tidak boleh ada coretan apapun didalamnya, sebab buku modul ini akan digunakan lagi untuk siswa-siswa yang lain pada tahun berikutnya. Jadi setelah siswa memperlajari lembar kegiatan, mereka harus bekerja atau melaksanakan kegiatan-kegiatan pada lembaran kerja ini.

  1. Kunci lembaran siswa

Maksud diberikannya kunci lembaran siswa ialah agar siswa dapat mengevaluasi sendiri hasil pekerjaannya. Apabila siswa membuat kesalahan-kesalahan dalam pekerjaannya maka ia dapat meninjau kembali pekerjaannya.

  1. Lembaran tes

Tiap modul disertai lembaran tes, yakni alat evaluasi yang digunakan sebagai pengukur keberhasilan atau tercapai tidaknya tujuan yang telah dirumuskan dalam modul  itu. Jadi keberhasilan pengajaran dengan sesuatu modul tidak dinilai atas dasar jawaban-jawaban pada lembaran kerja. Jadi lembaran tes berisi soal-soal untuk menilai keberhasilan murid dalam mempelajari bahan yang disajikan dalam modul tersebut.

  1. Kunci lembaran tes

Tes ini disusun oleh penulis modul yang bersangkutan, sehingga kunci tes ini pun juga dibuat oleh penulisan modul. Gunanya sebagai alat koreksi sendiri terhadap penilaian yang dilaksanakan.

 

Buku sumber:

Suryosubroto. 1983. Sistem Pengajaran dengan Modul. BINA AKSARA

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: