RSS

EVALUASI KURIKULUM

01 Dec

A.      Konsep

Kemmis (1936) mendefinisikan evaluasi kurikulum sebagai proses menyusun informasi dan argumen yang memungkinkan individu dan kelompok tertarik untuk berpartisipasi dalam perdebatan kritis tentang program khusus. Cara guru mendefinisikan evaluasi akan menentukan bagaimana pendekatan yang akan dilakukan dalam mengevaluasi.

Pendekatan dalam mengevaluasi sangatlah bervariasi tergantung bagaimana cara mendefinisikannya. Misalkan jika evaluasi didefinisikan sebagai tingkatan yang memenuhi hasil kinerja siswa maka evaluator akan mengukur perilaku siswa yang relevan terhadap hasil kurikulum. Jika evaluasi didefinisikan sebagai penilaian secara profesional, maka kurikulum pada tindakan akan dievaluasi dengan mengumpulkan informasi yang akan digunakan untuk membuat penilaian. Jika evaluasi didefinisikan sebagai tempat untuk  mengidentifikasi keputusan kurikulum yang dibuat, maka evaluator akan memilih informasi yang berhubungan dengan keuntungan dan kerugian dari setiap keputusan yang diambil. Sebagai evaluator maka dapat memilih satu atau berbagai pendekatan-pendekatan untuk mengevaluasi kurikulum.

McNeil, Newman dan Steinhauser (2005) mengklaim bahwa definisi mencakup dua aspek. Aspek pertama adalah bahwa evaluasi adalah proses sistematis yang direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan apa yang direncanakan. Yang kedua adalah bahwa ada ketepatan nilai terhadap yang dievaluasi. Penetapan nilai tersebut melibatkan pembangunan atau pemilihan crireria. Definisi Fitzpatricksanders dan Worthen (2004) adalah mengenai pentingnya kriteria evaluasi: itu adalah identifikasi, klarifikasi dan penerapan kriteria untuk menentukan obyek nilai (nilai atau jasa) yang dievaluasi yang terkait dengan kriteria

Dengan demikian pengertian evaluasi adalah sebagai berikut:

  1. Mengukur sejauh mana kinerja siswa memenuhi perilaku yang mengarah pada tujuan.
  2. Membandingkan kinerja dari siswa dengan standar tertentu.
  3. Menggambarkan dan menilai kurikulum
  4. Mengidentifikasi kawasan dari kurikulum untuk membuat keputusan, memilih dan menganalisis informasi yang relevan pada kawasan keputusan
  5. Menggunakan pengetahuan orang-orang yang profesional untuk menilai proses yang sedang berlangsung yang terlibat dalam mengimplementasikan kurikulum.

 B.  Permasalahan-Permasalahan Dalam Evaluasi Kurikulum

1. Masalah Definisi

Cara guru mendefinisikan evaluasi akan menentukan bagaimana pendekatan evaluasi guru. Beberapa definisi evaluasi disamakandengan pengukuran kinerja siswa yang sering dikritik karena sempit dan mekanistik, dan definisi yang menyamakan evaluasi dengan deskripsi dan penilaian profesional yang sering dikritik karena bersifat subjectivitas dan kurang reliabel.

2. Masalah Hasil

Masalah yang dihadapi oleh evaluator adalah apakah evaluasi harus mencakup hasil yang dimaksud sama dengan yang tidak dimaksud. Masalah ini kadang-kadang disebut sebagai evaluasi hasil yang berbasis tujuan dibandingkan dengan evaluasi hasil yang berbasis kebebasan. Argumen untuk evaluasi hasil yang berbasis bebas adalah bahwa evaluator dapat mengumpulkan informasi tentang segala aspek dari situasi belajar tanpa ada prasangka yang mungkin akan hadir dari pengetahuan tentang apa yang dimaksudkan.

3.  Masalah Proses dan Produk

Evaluator telah menentukan penekanan relatif pada proses dan produk pada evaluasi. Evaluator dapat berkonsentrasi pada apa yang sebenarnya terjadi sementara kurikulum yang diajarkan mungkin malah berkonsentrasi pada hasil pemeriksaan. Informasi tentang kedua mungkin diperlukan, waktu dan keadaan dari evaluasi dapat menentukan penekanan relatif yang diberikan kepada proses dan produk.

4. Masalah Perimbangan Nilai

Sebagaimana yang telah diuraikan bahwa evaluasi biasanya memerlukan pengambilan keputusan tentang Informasi yang dikumpulkan. Knox mengidentifikasi 8 keputusan yang haurs ada pada saat membuat evaluasi yaitu:

  1. Tujuan dari evaluasi, untuk menidentifikasi perbedaan kenyataan dan program yang diinginkan
  2. Stakeholders, untuk memenuhi kebutuhan dari stakeholders dan menjamin kontribusi secara penuh
  3. Perencanaan, untuk mengkonduksi rencana yang telah diberi tahu yang berkaitan dengan hubungan antara tujuan, skala dan penelitian
  4. Koordinasi, untuk memelih orangatau komite kecil untuk mengurus evaluasi
  5. Sumber-sumber, untuk membuat penellitian yang cocok.
  6. Koleksi data, untuk mengumpulkan data yang cocok untuk tujuan evaluasi
  7. Analisis, untuk membuat pertimbangan pada data dan tujuan
  8. Keperluan, untuk memastikan rekomendasi pembuatan evaluasi bisa digunakan dengan baik.

 C. Pendekatan dan Model

Ada 7 pendekatan yang terdapat dalam kurikulum yaitu:

  1. Armchair, meliputi pertimbangan tentang kualitas dari dokumen kurikulum yang menggangaap bahwa kurikulum adalah sebuah elemen dan konsistensi antara mereka.
  2. Visceral, meliputi perasaan naluriah kebenaran, dan subjektivitas dalam pengalaman. Perbedaan pendapat adalah rasionalisasi tanpa ancaman umum
    terhadap keyakinan.
  3. Contentment, meliputi kepuasaan guru dan siswa dengan kurikulum yang diambil dari diskusi informal dan observasi. Kepuasan guru dan siswa merupakan persamaan dengan kualitas kurikulum
  4. Consensus, meliputi sebuah persetujuan terhadap pendapat dari guru yang menganggap nilai ddari kurikulum
  5. Cosmetic, meliputi pengambilan yang baik pada tindakan kurikulum.
  6. Statistical, meliputi pengumpulan dari pengukuran data terhadap kinerja siswa dan analisis statikal.
  7. Tentacle, meliputi sebuah penyelesaian dari proses dan produk yang menjadi faktor kurikulum dengan menggunakan teknik yang bervariasi

Pendekatan biasanya dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk yaitu: evaluasi tradisional adalah berkaitan dengan menentukan sejauh mana siswa dapat mencapai hasil dari kurikulum. Jadi evaluasi tradisional tergantung pada pengujian siswa. Dan evaluasi new-wave adalah lahir dari perasaan luas bahwa pengujian tidak hanya memainkan peran dalam evaluasi, tetapi kebanyakan faktor juga harus dipertimbangkan.

 D. Model Penilaian Berbasis Tujuan Tyler

Model ini meliputi beberapa hal sebagai berikut:

  1. Membuat tujuan
  2. Menentukan tingkatan tujuan dalam hal perilaku
  3. Mengukur aspek-aspek dari kinerja siswa saat penyelesaian pengajaran
  4. Membandingkan hasil tes dengan tujuan perilaku

Bagi Tyler, evaluasi adalah suatu proses yang berkelanjutan. Umpan balik mungkin dapat menyebabkan perubahan definisi pada tujuan. Tujuan akan menetukan kesesuaian antara ketiga sumber (siswa, masyarakat, materi) dan 2 latar belakang (psikologi belajar dan philosopi dari pendidikan). Tyler percaya bahwa pemberian definisi terhadap tujuan secara samar-samar memiliki sedikit nilai ketika evaluasi dilakukan pada tujuan yang telah diperoleh. Jika setelah pengukuran pada kinerja siswa maka tujuan dapat dikatakan tercapai, dan kurikulum dikatakan berhasil.

 E.  Model Stake

1. Model Countenance Stake

Perhatian pada model ini adalah pentingnya deskripsi dan observasi pada evaluasi. Stake mengklaim bahwa untuk memahami secara penuh suatu program pendidikan maka harus dibuat secara penuh dan dipertimbangkan juga secara penuh.

Model ini membedakan antara deskripsi evaluator dan pertimbangan dalam menggunakan langkah yang berbeda pada suatu program kurikulum, seperti: antecedents (input), transactions (proses) dan outcomes (hasil). Antecendent adalah apa saja yang ada sebelum mengajar dan belajar. Sesuatu yang disebut dengan entery behavior, antecedents mencakup minat, bakat dan pengalaman sebelumnya dari siswa.

Transaction adalah keberhasilan dari pertempuran yang terjadi pada setiap pembelajaran. Hal ini mencakup pertemuan antara guru dan siswa, siswa dan siswa dan respon siswa terhadap pengalaman belajar. Outcomes mencakup dampak dari pengajaran yang dilakukan guru dan efek dari lingkungan belajar.

 2.  Model Responsive Stake

Model responsif Stake yang biasa disebut demikian, dia percaya bahwa menjadi responsif itu apakan orang melakukannya secara natural ketika mereka mengevaluasi sesuatu. Perhatian yang tersembunyi dari model ini penting untuk direspon setelah selesai mengobsevasi dan berkosentrasi terhadap reaksi-reaksi dan masalah-masalah dari partisipan yang lebih baik mengandalkan penjabaran dari prosedur dan pengukuran secara formal. Stake mengatakan tujuan yang jelas yaitu untuk meningkatkan pemahaman audience dari program yang dievaluasi.

 3.  Model Study Kasus Stake

Disebut model study kasus karena perhatiannya tertuju pada situasi yang spesifik untuk diteliti. Model ini menambah ide-ide yang sudah dikembangkan oleh stake dalam artikelnya tahun 1976. Keistemewaan dari model ini adalah:

  1. Deskripsi tentang variabel yang memiliki banyak perbedaan yang tidak bisa untuk selalu dipisahkan
  2. Mengambil data dari observasi pribadi
  3. Membandingkan sesuatu yang impisit dari pada yang eksplisit
  4. Pentingnya untuk memahami kasus itu sendiri
  5. Menyimpulkan apakah dia itu sebagai produk dari pengalaman evaluator
  6. Bentuk laporannya secara informal

Stake melanjutkan dengan menekankan pentingnya studii kasus dalam evaluasi. Dia mengatakan bahwa laporan studi kasus itu untuk melihat pengaruh dari kontekstual perilaku dan yang lain sebagai usaha untuk memisahkan sebagai bentuk penelitian.

F. Model Illuminative Parlett dan Hamilton

Tujuan dari model ini adalah untuk menjelaskan tentang pemahaman audiens tentang suatu kurikulum atau program. Mereka mengklaim bahwa illuminative evaluasi itu untuk kurang membatasi tentang evaluasi tradisional. Ia fokus pada deskripsi dan interpretasi dari pada pengukuran dan prediksi. Tujuannya adalah:

  1. Untuk menguji pengaruh ditempatkanya suatu kurikulum, pendapat inni meliputi tentang manfaat dan tidaknya, dan bagaimana kinerja siswa lebih dipengaruhi
  2. Untuk melihat dan mendiskusikan keistimewaan dari sebuah kurikulum secara signifikan, dan proses untuk mengimplementasikannya
  3. Mengidentifikasi seluruh bagian dari kurikulum yang diperlukan

Semua teknik yang ada pada illuminative evaluasi adalah memilih evaluasi yang sesuai. Banyak teknik yang berbeda yang dapat digunakan dan evaluator menerima sumua sistem yang ada dari pada memanipulasinya.

 G.  Model Pengganti Pengalaman Kemmis

Model kemmis ini didasarkan pada apa yang dilihat pada kurikulum yang tidak bisa untuk diukur cara dan tujuan yang tepat, tapi memerlukan evaluasi yang luas yang mencakup interaksi yang banyak dari masing-masiang variabel.

Tugas evaluator bagi kemmis adalah “katakan jika menyukainya” atau “mengatakan” program atau kurikulum pada audiens. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan cara membawakan sebuah kurikulum untuk mengkomunikasikan keistimewaan kurikulum kepada audiens yaitu: sifatnya, masalah-masalah yang ada, dan orang-orang yang terlibat dalam pengimplementasinya. Seperti cara mengkomunikasikan sesuatu yang kompleks dan bentuk pengalaman yang tercakup didalam kurikulum.

 H.  Teknik-Teknik

  1. Daftar Pertanyaan, daftar pertanyaan bisa digunakan untuk mengumpulkan informasui bagi guru, siswa, kepalas sekolah dan komite sekolah
  2. Interview, adalah percakapan antara dua orang atau lebih untuk menunjukkan bahwa pewawancara menjalin hubungan baik dengan subjek yang akan diwawancarai sehingga mendapatkan data yang lebih jujur.
  3. Diari dan log, diari adalah cara yang baik untuk mengumpulkan data dan log adalah biasanya mencakup apa yang dibuat setiap hari
  4. Penilaian, bisa digunakan untuk menilai efektivitas guru, kinerja siswa, atau aspek-aspek oraganisasi sekolah pada suatu cara yang sistematis
  5. Observasi kelas secara sistematis, observasi digunakan untuk menentukan bagian-bagian perilaku apa saja yangterjadi.
  6. Catatan yang bersifat anekdok, adalah deskripsi dari observasi dari suatu peristiwa
  7. Pensil dan kertas test kesanggupan, wajib digunakan bagi evaluator untuk mengukur kinerja siswa
  8. Pensil dan kertas hasil laporan, alat yang meliputi inventaris minat, skala perilaku dan daftar pertanyaan
  9. Obsevasi tak terstruktur
  10. Keterangan guru dan siswa tentang bahan, keterangan tentang bahan dan pengalaman belajar mencakup apa yang dijelaskan dalam kurikulum oleh evaluator
  11. Analisis dari pekerjaan siswa
  12. Diskusi
  13. Fakta secara fisik, fakta-fakta dari pengalaman belajar mencakup informasi tentang rekasi siswa tentang sebuah kurikulum
  14. Rekaman pribadi
  15. Tindakan pembelajaran

 I.  Prinsip-Prinsip Dari Evaluasi

Adapun prinsp-prinsip dari evaluasi adalah sebagai berkut:

  1. Pertimbangan secara teknikal, mencakup kebutuhan elevator secara tepat (untukk menutup hubungan antara informasi yang dikumpulkan dengan realita yang ada) dan tujuan (untuk memdapatkan persetujuan terhadap apa yang ditemukan elevator)
  2. Pertimbangan secara praktis, mencakup kebutuhan bagi evaluasi untuk mengumpulkan data yang relevan dalam hubungannya dengan tujuan dan untuk mengumpulkan data yang signifikan dan yang akan digunakan
  3. Pertimbangan secara etis, mencaku kebutuhan nilai yang tepat untuk membimbing sebuah proses

 J. Langkah-Langkah Dalam Evaluasi Kurikulum

    1. Fokus, bagian pertama dari prosedur yang sangat penting, untuk menentukan sifat dari sebuah evaluasi.  Adapun langkahnya adalah:
      1. Identifikasi audiens
      2. Mengklarifikasi tujuan evaluasi
      3. Menjelaskan informasi yang dibutuhkan
      4. Menemukan informasi yang telah ada
      5. Mendefinisikan prinsip-prinsip dari evaluator
    2. Persiapan, meliputi penentuan teknik-teknik dalam mengumpulkan data. Adapun langkahnya adalah:
      1. Menentukan kapan dan dari siapa informasi yang dibutuhkan
      2. Menentukan teknik dan instrumen yang dibutuhkan untuk mengumpulkan data
      3. Menentukan sample yang akan digunakan untuk eveluasi
      4. Memilih atau mengembangkan instrumen yang dibutuhkan untuk mengumpulkan informasi
    3. Implementasi, mengumpulkan semua informasi yang relevan
    4. Analisis, perhitungan secara statistik atau menjelaskan analisis dari informasi yang telah dikumpulkan. Hal ini mencakup:
      1. Menentukan standar atau kriteria dari kurikulum
      2. Menentukan pengaruh yang potensial dari kurikulum
      3. Menentukan seluruh konsekuensi dari tindakan kurikulum
      4. Menentukan seluruh kasus dan efek yang berhubungan dalam kurikulum
    5. Laporan, adalah langkah terakhir yang meliputi interpretasi dari analisis dan keadaan dan rekomendasi yang disebarkan. Hal ini mencakup:
      1. Menginterpretasi informasi yang telah dianalisis
      2. Menyimpulkan suatu keadaan dan rekomendasi tentang kualitas dan relevansi dari kurikulum
      3. Mengajukan cara untuk membuat rekomendasi
      4. Catatan staff dan sumber sebagai syarat dalam merekomendasi
      5. Menyebarkan informasi kepada audiens

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: