RSS

Analisis Komponensial dan Analisis Tema Kultural (Analisis Spradly)

16 Nov

Melakukan analisis berarti melakukan kajian untuk memahami struktur suatu fenomena yang berlaku di lapangan. Analisis dilaksanakan dengan melakukan telaah terhadap fenomena atau peristiwa secara keseluruhan, maupun terhadap bagian-bagian yang membentuk fenomena-fenomena tersebut serta hubungan keterkaitannya. Menurut Bodgan dan Taylor (1975:32) menyatakan analisis data sebagai proses yang mencari usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan ide itu. Seterusnya Gay (1987:21) Analysis of data can investigated by comparing responses on one data with responses on other data.” Analisis data dilakukan dengan menguji kesesuaian antara data yang satu dengan data yang lain. Sujana (1989) menyatakan analisis data kualitatif bertolak dari fakta / informasi di lapangan. Fakta atau informasi tersebut kemudian diseleksi dan dikembangkan menjadi pertanyaan-pertanyaan yang penuh makna

Selanjutnya Sugiono (2007:335) “Analisis data kualitatif adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil pengamatan (observasi), wawancara, catatan lapangan, dan studi dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain”.

A. ANALISIS KOMPONESIAL

Pada analisis taksonomis, yang ditunjukan ialah struktur internal masing-masing dengan domain “menorganisasikan atau menghimpun elemen-elemen yang berkesamaan di suatu domain” (organize similarities among elements in domain). Ini diperoleh melalui apa yang disebut dengan observasi atau wawancara terfokus.

Sedangkan pada analisis komponensial, yang diorganisasikan bukanlah “kesamaan elemen” dalam domain, melainkan kontras antar elemen dalam domain yang diperoleh melalui observasi dan atau wawancara terseleksi (Williams, 1988: 137)

Pada setiap domain terdapat sejumlah warga atau anggota, kategori-kategori, atau included terms (misalnya: pensil, pulpen, penggaris, karet penghapus, buku tulis adalah domain “jenis alat tulis-menulis”). Domain tersebut dan included terms atau kategori-kategori yang tercakup di dalamnya telah diidentifikasi sewaktu analisis domain; kesamaan-kesamaan dan hubungan internalnya telah dipahami melalui analisis taksonomis.

Masing-masing warga dari suatu domain sesungguhnya mempunyai atribut / karakterisitik tertentu yang umumnya diasosiasikan dengannya. Atribut/karakteristik itulah yang membedakannya satu dari yang lain. The dan kopi sama-sama sebagai “jenis minuman” meskipun sama-sama merupakan minuman, toh keduanya tidak sama (masing-masing mempunyai atribut/karakteristik tersendiri yang diasosiasikan kepadanya). Terdapat kontras di antara keduanya, dan kontras itulah yang membedakan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan semacam itulah yang diselesaikan oleh analisis komponensial. Dengan mengetahui warga suatu domain (melalui analisis domain), kesamaan dan hubungan internal antar warga disuatu domain (melalui analisis taksonomis), dan perbedaan antar warga dari suatu domain (melalui analisis komponensial), kita akan memperoleh pengertian yang komprehensif, menyeluruh, rinci, kita telah memahami makna dari masing-masing warga domain secara holistic.

Dengan menggunakan observasi terseleksi dan pertanyaan-pertanyaan pengkontrasan (contras questions), sejumlah dimensi yang kontras di antara warga suatu  domain akan dapat diidentifikasi (kita akan tahu, misalnya, bahwa minuman kopi biasannya hanya diminum oleh orang dewasa, sedangkan minuman the biasanya olh siapa pun, termasuk anak-anak dan barangkali akan banyak lagi kontras yang lainnya antara the dan kopi). Persoalan kontras semacam itulah yang menjadi perhatian dalam analsis komponensial.

Sebagaimana halnya analisis-analsis terdahulu (analisis domain dan analisis taksonomis), analisis komponensial juga baru dilakukan setelah peneliti mempunyai cukup banyak fakta/informasi dari hasil wawancara atau observasi yang melacak kontras-kontras di antara warga suatu domain. Kontras-kontras tersebutoleh peneliti difikirkan/dicarikan dimensi-dimensi yang bisa mewadahinya. Untuk sekedar contoh, dari hasil observasi dan wawancara tentang domain fungsi ibu rumah tangga , kita ketahui bahwa menangani pekerjaan urusan kerumahtanggaan berlangsung rutin setiap hari, kadang-kadang dibantu oleh anak-anaknya sendiri, tidak mendapatkan upah/penghasilan, umpamanya dikerjakan di dalam rumah tangga, tanpa pengawasan pihak/orang luar, dan sebagainya; bekerja sebagai buruh pada orang / pemberi kerja, dilakukan pada musim penghujan dan masa panen, disertai pekerja / buruh lainnya secara bersama-sama, mendapat makan dan upah dari pemberi kerja, selama bekerja biasanya dipantau oleh pemberi kerja , dan sebagainya; pekerjaan membantu suami di usahakan tani milik sendiri berlangsung setiap musim penghujan dan masa panen, dikerjakan bersama semua anggota keluarga, memperoleh penghasilan (bagi keluarga) dari hasil panen, bekerja tanpa di pantau atau diawasi oleh siapa pun.

Dari informasi tersebut, dapat dinyatakan, misalnya bahwa dimensi kontrasnya terletak pada:

  1. Karakterisitik rutinitas kegiatan
  2. Perolehan imbalan
  3. Teman melakukan pekerjaan
  4. Independensi dalam melakukan kegiatan
  5. Letak (tempat) melakukan kegiatan.

Masing-masing warga domain “fungsi ibu rumah tangga” selanjutnya dapat dimasukkan data kontrasnya pada kelima dimensi kontras tadi, yang hasilnya katakanlah menjadi sebagai berikut: dimasukkan ke dalam lembaran kerja oleh Spradley disebut dengan lembarn kerja paradigma atau paradigma worksheet (spradley, 1979: 180).

Lembaran Kerja Paradigma

Kategori-kategori fungsi ibu rumah tangga

Dimensi-dimensi kontras

Karakteristik rutinitas kegiatan

Perolehan imbalan

Teman kerja

Independensi bekerja

Letak kegiatan

Menangani pekerjaan rumah tangga Setiap hari Tanpa upah / penghasilan Anak sendiri Independen Rumah sendiri
Bekerja sebagai buruh pada pihak / orang pemberi kerja Setiap musim penghujan dan pada masa panen Mendapat upah atau penghasilan Buruh lainnya Diawasi
  • § Sawah tegal
  • § Rumah pemberi kerja
Bekerja sama bantu suami dalam usaha tani milik sendiri Setiap musim penghujan dan masa panen Mendapat penghasilan Anggota keluarga sendiri Independen Sawah tegal

 Kontras-kontras yang dimasukkan ke dalam lembaran kerja analisis komponensial tersebut masih perlu dicek kembali guna memastikan apakah terpenuhi secara memadai ataukah belum. Hasil pengecekan tersebut barangkali tanpa menimbulkan perubahan apa pun, tetapi mungkin juga diperlukan modifikasi atau penambahan tertentu. Analisis komponensial yang demikian perlu dilakukan sebanyak domain yang dipilih sebagai focus penelitian. Hasil akhir pengisian lembaran kerja paradigma itulah yang selanjutnya dipaparkan deskripsinya dalam laporan penelitian, tentu saja dengan atau dalam bentuk narasi.

B. ANALISIS TEMA KULTURAL

Penelitian kualitatif yang analisisnya bergerak dari analisis domain hingga ke analisis tema budaya(selanjutnya disebut analisis tema).betuknya akan menyerupai”cerobong asap’dipermukaanya”lebar” ditengahya”sempit”dan dipucuknya”lebar”lagi.pada anlisis domain,lingkupnya melebar sebab peneliti berkempntingn untuk mengenali segenap domain(kategori-kategori simbolis) yang menjadi cakupan dari focus yang ditelitinya guna memperoleh gambaran umum  dan menyeluruh.setelah itu,dengan analisis taksonomis dan komponensial peneliti memfokuskan perhatiannya pada beberapa domain saja guna melacak nya secara lebih rinci dan mendalam.ini bisa disembut dengan proses menyempit,namun setingkat lebih rinci dan mendalam dari analisis dari sebelumnya yang bersifat melebar.pada akhirnya,atau puncaknya,dengan analisis tema,prosesnya melebar     lagi,guna menemukan tema-tema yang keberadaannya termanifestasi atau menjelma secara luas dalam kawasan keseluruhan atau sejumlah domain.

Dengan demikin ,analisis tema atau discovering cultural themes sesungguhnya merupakan upaya mencari”benang merah”yang mengintegrasikan lintas domain yang ada .benang merah pengintegrasi tersebut oleh banyak antropolog dikaitkannya dengan konsep konsep seperti volues .volue orientations, corevolues, core symbols,premises,ethos,aidos,world view,dan cognitife orientation(espradeley, 1979:186).

Analisis tema ini , gagasannya betumpuh pada asumsi bahwa keseluruhan lebih dari sekedar jumlah bagian.situasi social dan budaya apapun yang kita teliti dalam keadaanya bukanlah sekedar jumlah dari pecah-pecahan aktivitas,perilaku,tempat,sefasilitas yang ada dalam situasi tersebut:ia merupakan kesatuan yang terpolah dalam suatu keseluruhan (compexpattern).dalam keseluruhan/complex itulah terdapat tema-tema yang dijadikan orientasi kognitif oleh para pelakunya.konsep-konsep ini pertama-tama diperkenalkan oleh morris opler dalam mendeskripsikan sifat atau cirri umum dari kebudayaan apache.opler mendefinisikan tema dengan “a  postulate or position,declared or implied dan usually controlling behavior or stimulating activity ,which is tacitly approved or openly promoted in a society “(opler,1945 :198).contoh dari postulat yang ditemukan opler di apache ialah bahwa kaum pria secara fisk,mental dan moral lebih superior dari kaum wanita.

Setiap kelompok/ masyarakat jelas memiliki sejumlah tema yang menjadi orienatsi kognitif nya “sedemikian kuat dan luas sehingga menifestasinya seakan-akan hadir dimana pun dan kapanpun(lazimnya disebut themes).dan ada pula tema-tema yang bersifat melekatnya lebih terbats(minor themes).

Teknis analisis tema dalam dunia egnografi sendiri belum seberapa berkembang dibandingkankan dengan teknis analisis sebelumnya(analisis domain,analisis taksonomis dan analisis komponenial).dalam hubungan ini,spradley hanya mengajukan beberapa strategi umum yang dapat dipergunakan seperti berikut ini:

  1. Melarutkan diri seoptimal mungkin selama berlangsungnya penelitian sehingga peneliti bisa menghayati alam fikiran/orientasi nilai dari kelompok/masyarakat yang sedang diteliti.semakin lama dan intens seorang peneliti melarutkan diri kedalam kelompok/masyarakat yang ditelitinya,biasanya akan banyak pula bisa menemukan tema-tema yang “melekat” pada venomena yang sedang ditelitinya.
  2. Melakukan analisis komponensial lintas domain yang dalam hal ini warga yang di kontraskan adalah antar domain .dengan demikian,kita tidak hanya mengetahui atribut masing-masing domain,tetapi juga dimensi-dimeni yang kontrs antara segenap domain.hasilnya ,sedikit banyak bisa diisiaratka tema-tema yang ada dalam kontek pokok permasalhan yang sedang diteliti.
  3. Mengiidentifikasi domain-domain yang cendrung banyak mencakup informasi dari domain-domain lain(organizing domains) :biasanya terdiri atas domain yang berkenan dengan tahap-tahap yang ada ,tidak hanya rincian tahap itu sendiri,melainkan juga aspek-aspek lainnya ,akan dapat dimunculkan sejumlah ytema tertentu.
  4. Membuat diagram skematis yang menunjukan keterkaitan segenap domain,yang dengan visualisasi hubungan antara domain tersebut sedikit banyak dapat diisyaratkan tema-tema yang mungkin melekat dalam struktur hubungan antar domain yang bersangkutan
  5. Mencari kesamaan diantara dimeni-dimensi yang kontras, yang dengan kesamaan tersebut peneliti dapat memunculkan kemungkinan tema-tema yang melekat adanya fenomena itu’
  6. Mencari tema-tema universal yang biasanya dimuat pada sejumlah hal teori dan literature, dan kemudian melacak kesesuainnya dengan fenomena lapangan yangs diteliti. Melalui tersebut peneliti juga dapat mengidentifikasi tema-tema yang relevan dengan kelompok / masyarakat yang sedang ditelitinya.
  7. Mengikhtisarkan segenap data / informasi yang telah ditemukan, yang melalui proses ini penelitian yang dipaksa untuk tidak hanya bergelimang dengan rincian  fakta, tetapi juga melihat “benang merah” yang menjalinnya satu dengan yang lain. Ini akan menuntun peneliti akan memunculkan tema-tema tentative yang selanjutnya dapat dilacak kebenarannya.
  8. Membuat studi perbndingan dengan kelompok / masyarakat yang serupa guna melacak kesamaan-kesamaan serta perbedaan-perbedaannya, yang dari itu dapat dimunculkan tema-tema tentative berkenaan dengan kelompok / masyrakat yang sedang diteliti, dan menguji kebenarannya.
 
1 Comment

Posted by on November 16, 2011 in Metode Penelitian

 

Tags: , , ,

One response to “Analisis Komponensial dan Analisis Tema Kultural (Analisis Spradly)

  1. zuky iriani

    November 4, 2013 at 10:18 am

    thx..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: