RSS

TEORI BELAJAR

12 Nov

Pada dasarnya secara sederhana dapat dikatakan bahwa kurikulum adalah rencana untuk membelajarkan pelajar. Suatu kurikulum yang efektif memerlukan pengrtahuan tentang teori teori belajar. Teori belajar yang berbeda akan mengakibatkan arah kurikulum dan tekanan konten atau kegiatan belajar yang berbeda pula.

 A. Konsepsi Belajar

Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman ( Divesta & Thompson, 1970, hal 112 ). Salah satu perubahan tingkah laku dapat dilihat ketika seorang anak memperlihatkan tingkah laku yang baru dari tingkah laku sebelumnya pada suatu waktu tertentu

Tidak semua perubahan tingkah laku dapat disebut dengan belajar. Beberapa perubahan tingkah laku timbul sebagai hasil proses pendewasaan atau perkembangan. Beberapa faktor lain juga dapat menghasilkan perubahan tingkah laku bersifat dramatik (sebagai akibat kerusakan organ tubuh, syaraf, obat obatan dll)

Menurut Hilgard, Margnis dan Kimble ( dalam Zais, 1976, hal 246) Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen sebagai respon terhadap potensi yang terjadi akibat latihan yang diprogramkan

Gagne ( dalam Zais, 1976, hal 246 ) Belajar adalah perubahan tingkah laku atau perubahan atau perubahan tingkah laku manusia yang dapat bertahan dan bukan hasil pertumbuhan   

Kedua definisi diatas diduga ditolak Oleh kamum Behavioris, dengan alasan perubahan tingkah laku yang timbul sebagai bukti adanya belajar tidak tampak

 B. Tipe Tipe Belajar

Dari berbagai literatur, belajar bukan hanya kompleks tetapi juga berbagai macam. Menurut Zais (1976, hal 247) mengemukakan enam macam belajar:

  1. Anak kecil Belajar Berbicara
  2. Anak sekolah menghafalkan pancasila
  3. Anak SMK teknik mempelajari memakai mesin pemotong kayu
  4. Pencinta musik belajar menyenangi musik elektronik
  5. Dan seorang ilmuwan memahami penemuan dalam risetnya sendiri

Belajar jika dibedakan menurut proses dan produk Gagne ( dalam Zais, 1976 hal 296-300) mengidentifikasikan unjuk – unjuk kerja yang berbeda seperti :

  • Belajar coba – coba (trial and error)
  • Belajar membeda bedakan
  • Belajar memasang masangkan benda sejenis
  • Belajar konsep
  • Belajar respon yang terkondisi

Taba (1962, hal 78) mengemukanan tipe tipe belajar sebagai berikut :

  • Penguasaan keterampilan gerak
  • Penghafalan informasi belajar perasaan
  • Konsep dan keterampilan intelektual seperti generalisasi
  • Penelitian ilmiah dan pemecahan masalah

 Teori – teori belajar tertentu mengutamakan suatu tipe belajar tertentu saja tetapi mengabaikan tipe belajar yang lain Contoh : Teori asosiasi ( stimulus – response )teori ini menyangkut tentang kebiasaan kebiasaan dan perolehan       keterampilan motorik . Teori ini sangat mengabaikan tipe belajar konseptual yang menyangkut berbagai macam hal yang berkaitan.

Para guru dan ahli kurikulum perlu memahami semua toeri teori belajar yang ada sehingga dapat menyesuaikan implementasi kurikulum sejalan dengan tipe belajar yang diinginkan kurikulum tertentu, dan tipe tipe belajar yang ada dapat dipakai sebagai dasar bagi usaha memaksimalkan siswa

 C. Tinjauan Ringkas Teori Belajar

Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks daribelajar

Ada dua mahzab teori belajar yang berbeda dan bertentangan :

   a. Psikologi Fakultas (Fakulty Psychology)

Teori belajar Psikologi Fakultas (Fakulty Psycology) mempunyai pengaruh luas sampai akhir abad ke 19 pada kurikulum sekolah diudunia. Menurut teori ini, siswa (murid) terdiri dari kekuatan atau pikiran yang berbeda beda, diataranya adalah

  1. Intelektual atau berfikir
  2. Perasan
  3. Keinginan

Menurut aliran ini, dengan dikembangkan intelektual, keinginan, pikiran, imaginasi, dan lain lian, persiapan untuk kehidupan manusia sudah dipenuhi, semua kemapuan itu dapat ditransfer kepada semua aspek kehidupan anak

     b. Teori Asosiasi

Teori asosiasi disebut juga koneksi antara ransangan – jawaban (Stimulus – Response) atau teori penguatan. Teori ini muncul pada akhir abad ke 19 ketika ahli ilmu jiwa eksperimental yang bersifat immaterial disatukan melalui asosiasi

Kaum peneliti ini memberikan memberikan alasan psikologis bahwa pengalaman mental sebenarnya adalah kegiatan neurologis akibat ransangat eksternal atau asosiasi yang bersumber pada aspek sistem kejiwaan yang timbul sebagai hasil kontak terdahulu dengan ransangan. Ini berarti kegitan manusia diatur oleh asosiasi antara ransangan dan Jawaban ( Zais, 1976 hal 251)

Bentuk ransangan – jawaban menjadi kegitan organisme yang terbagi dalam tiga komponen utama :

  1. Situasi Ransangan
  2. Jawaban organisme terhadap situasi itu
  3. Koneksi antara Ransangan( R) – jawaban (J)

     c. Teori Lapangan

Teori lapangan bermula dari percobaab Kohler dengan keranya yang dilaksanankan selama Perang Dunia I.

Menurut Kohler, eksperimen ini meninjukkan bahwa binatang berfikir dan memakai alat, jugabelajar bukan mengikuti progressi dari beberapa hal yang lepas – lepas melalui perbuatan coba coba. Prinsip utama dari teori lapangan adalah : belajar merupakan restrukturisasi dan integrasi keseluruhan susasan lapangan yang mengasilkan pemahaman

Ahli Psikologi lapangan menganggap bahwa suatu keseluruhan lebih berarti dari kumpulan bagian bagiannya. Posisi ini menyatakan bahwa bagian bagian lebih utama dari keseluruhannya. Belajar, merupakan pengembangan dari kesadaran tentang adanya hubungan hubungan pada lingkungan personal sendiri

     Praktek pendidikan berdasarkan teori teori daiatas adalah :

  • Teori Asosiasi

cenderung pada sekolah tradisional yang lebih banyak berpusat pada guru ( Teacher Centered learning)

  • Teori Lapangan

cenderung pada sekolah sekolah beraliran progresif, yang lebih banyak berpusat pada siswa (Student Centered Learning)

D.      Aplikasi Kurikulum

Kurikulum yang berpijak pada pada teori lapangan sangat berbeda dengan yang bertumpu pada teori asosiasi. Konten kurikulum yang disusun menurut teori asosiasi diperinci sampai komponen kecil dan sederhana sedangkan konten kurikulum yang disusun menurut teori Lapangan berusaha terlebih dahulu memahami struktur tingkah laku secara keseluruhan sebab dengan demikian lebih mudah memahami struktur bagian bagiannya

Menurut teori koneksi, fungsi guru yang utama adalah mengarahkan anak didik agar memberikan jawaban yang didinginkan terhadap rangsangan yang diberikan. Melalui repetisi, atau kaidah atau keduanya. Ransangan yang diberikan akan terus menghasilakan jawaban yang diperlukan.

Sebaliknya fungsi guru menurut teori lapangan lebih luas dari sekadar pembentukan dan penguatan koneksi antara ransangan dan jawaban. Fungsi guru adalah menyusun situasi belajar agar hubungan yang ada terlihat dan pemahaman materi akan timbul penemuan belajar terbentuk melalui proses penemuan sendiri dan generalisasi prinsip prinsip dari kaitan yang ada yang diperoleh siswa itu sendiri atau dengan kata lain belajar “bagaiman” (the how). Belajar proses lebih dipentingkan dari pada mempelajari jawaban yang benar terhadap rangsangan.

Peranan guru menurut teori asosiasi terfokus pada guru, yaitu guru menetapkan apa dan bagaimana siswa belajar. Dengan demikian guru menetapkan guru menetapkan perubahan tingkah laku apa yang akan dialami anak, bagaimana tingkah laku itu dapat dimodifikasi serta jawaban bagaimana yang harus diberikan.

Dalam hal susunan atau organisasi materi pelajaran, kurikulum yang disusun berdasarkan teori asosiasi akan berupa organisasi logika. Sedangkan menurut teori lapangan materi disusun berdasarkan psikologis oleh guru dan materi itu akan bergerak dari yang sederhana menuju yang lebih komplek terutama kalau materi itu disusun secara komulatif. Guru menetapkan ruang lingkup materi yang akan dajarkan, urutan urutan materi, metode dan teknik yang dipakai untuk mengajarkannya, watak yang disediakan bagi setiap topik dan sub topik bahasan, yang diatur berdasarkan suatu rencana pembelajaran yang tersusun secara sistematik dan silabus mata pelajaran yang detail

Sebaliknya, materi disusun secara psikologis pelajar didasarkan atau dimulai dengan suatu masalah yang sesuai dengan perhatian dan keinginan anak didik. Organisasi materi lebih fleksibel dari susuanan logika yang disusun secara ketat, susuanan secara psikologis ini dapat juga melibatkan anak didik dalam proses perancangan. Program belajar lebih berpusat pada anak didik karena kebutuhan dan kesiapan anak dianggap lebih utama dari pada usaha mencapai target rencana pelajaran atau silabus yang telah disusun rapi (Kolesnik, 1970 hal212)

 
 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: