RSS

KONSTRUKTIVISME

11 Oct

A.    Asal Usul Konstruktivisme

Gagasan pokok kunstruktivime sebenarnya dimulai oleh Giambatista Vico, seorang epistimolog dari Italia. Pada tahun 1710 Giambatista Vico mengungkapkan filsafatnya  “ “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaannya”. Bagi vico bahwa pengetahuan selalu merujuk kepada struktur konsep yang dibentuk.

Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (buatan) kita sendiri. Alat atau sarana  yag tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indranya. Menurut konstruktivisme pengetahuan adalah dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak guru ke kepala siswa, tetapi siswa sendirilah yang harus megartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka yag dimiliki sebelumnya.

Menurut konstruktivisme pengetahuan bukankanlah hal yang statis dan dermabistik, tetapi suatu proses menjadi tahu. Setiap oarang membangun pengetahuannya sendiri untuk mentranfer konsep dari seorang guru kepada siswa, pemindahan itu harus diinterprestasikan, ditranformasikan dan dikonstruksikan oleh siswa lewat pengalamannya.

Menurut Peage (1970), ada dua aspek berfikir dalam proses pembentukan pengetahuan yaitu :

  1. Aspek Figuratif, merupakan imajinasi keadaan sesaat yang statis, yang mencakup persepsi, imajinasi, dan gambaran mental seseorang terhadap suatu objek atau fenomena.
  2.  Aspek Operatif, lebih berkaitan dengan tranformasi dari suatu tahap ke tahap lain yang lebih tingi.

Bagi kaum konstruktivis, kebenaran terletak pada viabilitas yaitu kemampuan operasi suatu konsep atau pengetahuan dalam praktek. Pengetahuan bukan barang mati yang sekali jadi, melainkan suatu proses yang terus berkembang.

Menurut Bettencourt (1989) ada beberapa hal yang dapat membatasi proses konstruksi pengetahuan manusia antara lain :

  1. Hasil konstruksi yag telah dimiliki seseorang (constracted knowledge)
  2. Domain pengalaman seseorang ( domain of experience )
  3. Jaringan struktur kogitif seseorang (existing cognitive structure)

B. Hubungan Antara Konstruktivisme dengan Aliran Filsafat Lain dan Teori Belajar

Para ahli mengegaskan bahwa kenyataan terdiri dari dua dimensi: eksternal dan internal. Dimensi eksternal bersifat objektif sedangkan dimensi internal bersifat sabjektif. Kaum rasionalis menyatakan bahwa pengetahuan merujuk kepada objek-objek dan bahwa kebenaran itu merupakan akibat dari deduksi logis. Para empiris juga mengatakan bahwa pengetahuan merujuk kepada objek-objek berdasarkan penalaran induktif dengan bukti-bukti yang diperoleh dari pengalaman. Kriteria kebenaran adalah kesesuaian dengan pengalaman. Menurut Staver, konstruktivisme merupakan sistesis pandangan rasionalis dan empiris. Konstruktivisme menunjukkan interaksi antara sabjek dan objek, antara realitas yang eksternal dan internal. Aliran nativisme menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah dari dalam diri sendiri (internal). Konstruktivisme memuat segi empiris dan nativisme yaitu pengetahuan berasal dari sumber luar tetapi tetapi dikonstruksikan dari dalam diri seseorang. Berbeda dengan pragmatisme yang berselogan kebenaran adalah hanya apa yang jalan, akan tetapi dalam hal ini konstrutivisme tidak mengklai itu sebuah kebenaran. Sedangkan kaum idealis menyatakan bahwa ppikiran dan konstruksinya adalah satu-satunya relitas, sedangkan konstruktivisme menyatakan bahwa kenyataan adalah apa yang dikonstruksikan oleh fikiran seseorang.

Konstrutivisme menjadi landasan bagi beberapa teori belajar, misalnya teori perubahan konsep, teori belajar bermakna dan teori skema. Teori perubahan konsep yang menjelaskan bahwa seseorang/mahasiswa mengalami perubahan konsep terus menerus, tugas pendidik membantu untuk mengarahkan mahasiswa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat. Menurut teori konstruktivisme, salah pengertian dalam memahami sesuatu bukan akhir dari segala-galanya melainkan justru menjadi awal untuk perkembangan yang lebih baik (suparno, 1997 dalam pannen dkk). Teori belajar bermakna menekankan pentingnya mehasiswa menegosiasikan pengalaman, fenomena dan fakta yang baru kedalam syistem pengertian yang telah dimiliki. Teori skema memandang bahwa seseorang belajar dengan mengadakan restrukturisasi atas skema yang sudah dimiliki baik dengan menambah maupun mengganti skema tersebut.

C.  Pengaruh Konstruktivisme Terhadap Proses Belajar

Konstruktivisme berpandangan bahwa, belajar merupakan proses aktif mahasiswa mengkonstruksi arti, wacana, dialog, pegalaman fisik, dan lain-lain. Belajr juga merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang dipelajari dengan pengertian yang suadah dimiliki mahasiswa sehingga pegetahuannya berkembang. Ciri proses tersebut :

  1. Belajar berarti membentuk makna
  2. Konstruksi artinya merupakan proses yang terus menerus
  3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi proses pengembangan pemikiran
  4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorag dalam kesenjangan
  5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pegalaman mahasiswa dengan dunia fisik dan lingkungannya
  6. Hasil belajar mahasiswa tergantung pada apa yang telah diketahui mahasiswa tersebut.

Lawson (1988), mengemukakan tiga macam siklus belajar: Deskriptif. Empiris-Induktif dan Hipotesis-Deduktif. Siklus belajar deskriptif meghendaki hanya pola-pola deskriptif misalnya seriasi, klasifikasi, konservasi. Dalam siklus belajar deskriptif ini siswa menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus (ekplorasi), guru memberikan nama pada pola itu- (pengenalan istilah atau konsep), kemudian pola itu ditentukan dalam konteks lain (aplikasi konsep).

Siklus belajar empiris-induktif bersifat intermediate, menghendaki penalaran deskriptif tapi umumnya juga melibatkan pola-pola tingkat tinggi. Dalam siklus belajar empiris-induktif siswa menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus, selankutnya mengemukakan sebab-sebab yang mungkin tenteng terjadinya pola itu. Ini membutuhkan penalaran analog untuk mentranfer konsep-konsep yang telah dipelajari dalam konteks lain pada konteks baru (pengenalan konsep).

Dengan bimbigan guru para siswa menganalisis data yang dikumpulkan selama fase ekplorasi untuk melihat apakah sebab-sebab yang dihipotesiskan sesuai degan data dan fenomena lain yang dikenal (aplikasi konsep).

Siklus belajar hipotesis-deduktif menghendaki pola-pola tingkat tinggi misalnya mengendalikan variabel, penalaran korelasional, dll. Dimulai dengan pernyataan berupa suatu pertanyaan sebab. Para siswa diminta untuk merumuskan jawaban-jawaban atau hipotesis yang mungkin terhadap penyataan itu. Selanjutnya para siswa melakukan ekperimen untuk menguji hipotesis itu. Analisis hasil eksperimen menyebabkan beberapa hipotesis ditolak dan beberapa diterima, dan konsep-konsep baru dapat diperkenalkan. Akhirnya konsep yang relevan dan pola penalaran yang terlibat didiskusikan, dapat diterapkan pada situasi lain dikemudian hari (aplikasi konsep).

D.  Pengaruh Konstruktivisme terhadap Mahasiswa

Belajar bagi konstruktivis merupakan kegiatan aktif untuk menemukan sesuatu dan membangun sendiri pengetahuannya, belajar bagi mahasiswa berarti terjadi melalui refleksi, pemecahan konflik, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan dll. Setiap mahasiswa mempunyai cara yang cocok untuk mengkonstruksikan pengetahuannya yang kadang-kadang sangat berbeda dengan teman-teman yang lain. Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi mahasiswa bila ia terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif dalam percobaan serta pengalaman, dalam hal ini adalah kelompok belajar. Kelompok belajar melalui kesempatan mengungkapkan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, serta bersama-sama membangun pengertian, menjadi sangat penting dalam belajar karena memiliki unsur yang berguna menantang pemikiran dan meningkatkan harga diri seseorang.

E.  Pengaruh Konstruktivisme Terhadap Proses Pembelajaran

Pembelajaran pada konstruktivisme merupakan partisipasi dosen bersama mahasiswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi, jadi pembelajaran adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencourt, 1989 dalam pannen dkk). Menurut prinsip konstruktifisme, seoarang pengajar berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar mahasiswa berjalan dengan baik, dengan cara :

  1. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan mahasiswa bertanggung jawab
  2. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan mahasiswa
  3. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran mahasiswa berjalan atau tidak.

F.  Pengaruh Konstruktivisme Terhadap Strategi Pembelajaran

Tugas guru atau dosen adalah membantu mahasiswa agar mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang kongkrit. Guru juga dituntut untuk memiliki beragam strategi pembelajaran, tetapi strategi yang disusun guru hanya menjadi alternative bukan suatu menu atau resep yang sudah jadi. Pembelajaran adalah suatu seni yang menentut bukan hanya pengguasaan teknik, melainnkan juga intuisi dari setiap guru. Menurut Draiver dan Oldham dalam Metthews (1994) pembelajaran berdasarkan konstruktivisme bercirikan :

  1. Orientasi
  2. Elisitasi
  3. Restrukturisasi ide
  4. Penggunaan ide dalam banyak situasi
  5. Review (agar ada perubahan ide)

Hal yang perlu diperhatikan dalam konstruktivisme adalah cara mengevaluasi hasil belajar siswa/mahasiswa.

Menurut Brooks&Brooks (1993), perbedaan situasi pembelajaran dalam kelas berdasarkan konstruktivisme dan pembelajaran tradisional adalah sebagai berikut :

Pembelajaran konstruktivisme


  1. Ruang lingkup pembelajaan disajikan secara utuh dengan penjelasan tentang keterkaitan antara bagian, dengan menekankan pada konsep utama
  2. Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara terpisah, perbagian dengan menekankan pada pencapaian keterampilan dasar.
  3. Pertanyaan mahasiswa dan konstruksi jawaban mahasiswa adalah penting
  4. Kurikulum harus diikuti sampai habis
  5. Kegiatan pembelajaran berlandaskan beragam sumber informasi primer dan materi yang dapat dimanipulasi langsung dari mahasiswa/siswa
  6. Kegiatan pembelajaran hanya berdasarkan buku teks yang sudah ditentukan
  7. Siswa dilihat sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori tentang dunia dan kehidupan
  8. Mahasiswa dilihat sebagai ember kosong tempat ditumpahkannya semua pengetahuan dari guru/dosen

Pembelajaran Tradisional

  1. Guru bersikap interaktif dalam pembelajaran. Menjadi fasilitator dan mediator bagi siswa dalam proses belajar
  2. Guru mengajar dan menyebarkan informasi keilmuan kepada siswa
  3. Guru mencoba mengerti persepsi siswa agar dapat melihat pola pikir siswa dan apa yang sudah diperoleh siswa untuk pembelajaran selanjutnya
  4. Guru selalu mencari jawaban yang benar untuk menvalidasi proses belajar siswa
  5. Penilaian terhadap proses belajar siswa merupakan bagian integral dalam pembelajaran, dilakukan melalui observasi guru terhadap hasil kerja siswa
  6. Penilaian terhadap proses belajar siswa merupakan bagian terpisah dan pembelajaran dilakukan hampir selalu dalam bentuk tes/ujian
  7. Lebih banyak siswa belajar dalam bentuk kelompok
  8. Siswa harus selalu bekerja sendiri

                                  **Drs.H. martinis yamin, M.Pd, paradigma pendidikan konstruktivitik,jakarta 2008

 
Leave a comment

Posted by on October 11, 2011 in Desain Pembelajaran

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: