RSS

Konstruktivisme

11 Oct

Konstruktivisme adalah salah satu aliran dari filsafat. Dilihat dari pengertiannya, konstruktivisme adalah interaksi antara subjek dengan objek, realita dan eksternal. Makanya konstruktivisme tidak mengklain suatu kebenaran. Dari tujuh aliran teori yang ada, yang sejalan dengan aliran konstruktivisme adalah aliran rasionalism, aliran emperism, aliran relativism dan aliran nativism. Sedangkan aliran yang kurang atau tidak sejalan dengan aliran konstruktivisme adalah aliran pragmatism, aliran idealism dan aliran objektivisme.

Jika semua orang berpegang pada aliran filsafat konstruktivisme maka akan damai negeri ini. Tidak ada pertengkaran karena saling menghargai perbedaan.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Penganut konstruktivisme berpendapat bahwa pengetahuan itu merupakan konstruksi dari apa yang telah dipelajari, dari yang sedang belajar. Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, tetapi merupakan konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah suatu yang sudah ada di dalamnya, dan siapa saja tinggal mengambilnya. Namun merupakan suatu bentukan terus menerus dari seseorang yang setiap kali mengadakan reorganisasi karena munculnya pemahaman baru.

Pengalaman buk Yusnimar misalnya. Pengalaman mengajar selama 23 tahun yang selalu merubah strategi dalam membelajarkan anak. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai fasilitator. Jadi jalur buk Yusnimar dari belajar untuk persiapan menjadi guru, mengajar, pelatihan-penataran, memperbaik cara mengajar dan belajar dan punya pemikiran sendiri merupakan jalus konstruktivisme. Selama proses itu pemahaman buk Yusnimar terhadap anak berbeda-beda dari setiap tahan yang dilaluinya. Sampai pada akhirnya berada pada tingkat telah mampu mengkonstruksi suatu pemahaman.

Dengan pengalaman mengajar selama 23 tahun mengajar dan pengalaman telah melahirkan tiga orang anak, menghasilkan pemahaman buk Yunismar terhadap anak akan berbeda dengan pemahaman Egin yang baru saja memiliki anak berumur 9 tahun dan belum memiliki pengalaman mengajar sekalipun. Tampak luarnya, buk Yusnimar lebih mengkonstruksi pemahaman terhadap anak dibandingkan dengan pemahaman Egin terhadap konsep anak. Jadi setiap yang terlibat diminta untuk memaknai objek. Ketika memaknai setiap yang ditemui pebelajar, pebelajar yang bersangkutan akan mengkonstruksi pengetahuan baru.

Contoh lain konstruktivisme pemahaman terhadap konsep kursi. Konsep kursi tidak ditemukan siapa penemunya, namun konsep kursi adalah sebuah kesepakatan. Saat pengkosntruksian tentang konsep kursi akan berfokus pada ciri-ciri kursi. Jadi konstrusksi pengetahuan itu tidak sulit, hanya memaknai sesuatu yang ditandai.

Kaitan kosntruktivisme terhadap desain pembelajaran adalah bagaimana membuat desain pembelajaran yang melihatkan siswa aktif agar siswa bisa memaknai dan mengkonstruksi pengetahuan. Misalnya dengan menggunakan strategi CTL; baik inkuiri, konstruktivitas, learning society, modeling, autentic, refleksi dan bertanya. Dengan menggunakan stratergi itu misalnya dapat dicapai semua unsur dalam materi. Mulai dari fakta, konsep, prosedur dan prinsip.

Setinggi apapun bahasan yang dilakukan dalam pembelajaran, tidak akan terlepas dari empat hal tersebut (fakta, konsep, prosedur dan prinsip). Dengan melihat sesuatu yang terlihat perlu pemahaman tentang sesuatu itu yang disebut dengan konsep, kemudian akan paham bagaimana langkah-langkah atau prosedur tentang sesuatu dan akan mampu memiliki prinsip bagaimana hubungan kausalitas antara pemahaman. Hubungan sebab akibat dari pemahaman yang diperoleh.

Dalam konstruktivisme, ada tiga hal yang akan mempengaruhi konstruksi pengetahuan:

  1. Kosntruksi yang telah ada
  2. Domain pengalaman
  3. Jaringan struktur kognitif

Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah ada menjadi pengaruh konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman terhadap fenomena yang baru menjadi unsur yang penting dalam pembentukan dan pengembangan pengetahuan dan keterbatasan pengalaman akan mempengaruhi  pengetahuan pula. Dalam bidang pengetahuan alam, misalnya sangat jelas peranan pengalaman dan percobaan dalam perkembangan hukum, teori dan konsep-konsep ilmu tersebut. Konsep, gagasan, gambaran, teori itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk struktur kognitif seseorang.  Oleh Toumin struktur  itu disebut ekologi konseptual. Orang cenderung menjaga stabilitas ekologi tersebut dengan setiap kali mencocokkan pengetahuan yang baru dengan ekologi konseptual sebelumnya. Inilah yang juga dapat mempengaruhi perkembangan pengethauan.

 
Leave a comment

Posted by on October 11, 2011 in Desain Pembelajaran

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: