RSS

Membuat Catatan Lapangan

04 Oct

1.    PENDAHULUAN

Membuat catatan lapangan dilakukan saat peneliti berada pada tahap pengumpulan data. Keberhasilan pencatatan semua kejadian dan tingkah laku yang diamati sangat banyak ditentukan oleh kemampuan peneliti sendiri. Apabila tidak ada gangguan, rintangan atau hambatan antara peneliti dan yang diamati maka pencatatan secara spontan adalah sesuatu yang tepat untuk digunakan. Pencatatan terhadap suatu objek yang diamati hendaklah dilakukan secepat mungkin sesudah observasi dilakukan. Selagi apa yang diamati masih segar dalam pikiran peneliti dan disempurnakan kembali pada waktu berikutnya.

Suatu hal yang diperlukan dan diperhatikan dalam membuat catatan lapangan adalah objek, individu atau kejadian yang diamati tidak tahu bahwa pencatatan sedang dilakukan. Hal itu dimaksudkan agar supaya objek tersebut tidak bersifat reaktif.

Beberapa alat yang dapat digunakan dalam observasi ialah; daftar cek (checklist), dan skala bertingkat (rating scale). Daftar cek merupakan sejumlah pertanyaan dengan alternatif ‘ya’ atau ‘tidak’. Butir pertanyaan itu disusun sesuai dengan apa yang akan diamati. Skala bertingkat merupakan skala dengan alternatif bertingkat seperti pertanyaan:

Contoh >>> dalam berbicara:

  1. Selalu menyenangkan
  2. Menyenangkan
  3. Hampir menyenangkan
  4. Kurang menyenangkan
  5. Tidak menyenangkan

*Dengan catatan ini peneliti dapat mengetahui bagaimana si individu berbicara.

2.    CATATAN LAPANGAN

Perbedaan dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif terhadap catatan lapangan terletak pada sumber data yang akan digunakan. Metode penelitian kuantitatif  bersifat kuantitatif dari hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen. Sedangkan pada metode penelitian kualitatif, bersifat deskripitif kualitatif dari dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden. Maka dalam bahasan ini akan lebih berfokus pada penelitian kuanlitatif.

a. Jenis-jenis Catatan Lapangan

1) Jotted Notes

Merupakan catatan yang dibuat di tempat penelitian. Catatan ini ringkas dan hanya berisi kata-kata yang dapat mengingatkan memori di tempat kejadian.

2) Catatan pengamatan langsung (Direct Observation Notes)

Merupakan catatan yang dibuat langsung setelah peneliti meninggalkan tempat kejadian. Catatan ini disusun secara kronologis berdasarkan tempat, waktu, dan urutan kejadian.

3) Catatan interpretasi peneliti (Researcher Inference Notes)

Berisi interpretasi dari peneliti mengenai suatu kejadian tertentu.

4)   Catatan analitis

Menuliskan taktik, rencana, keputusan prosedural, serta kritik pribadi mengenai keputusan yang diabilnya sendiri.

5) Catatan pribadi

Berisi catatan pribadi peneliti mengenai segala hal yang peneliti rasakan dalam mengadakan penelitian.

6)   Peta dan diagram

Berperan menggambarkan situasi di tempat kejadian dan memudahkan pembaca untuk memahaminya.

7) Rekaman video dan suara

Sangat membantu peneliti untuk mengingat kembali suatu kejadian dan percakapan ketika tahap pengumpulan data.

8) Catatan wawancara

Berisi catatan yang menerangkan kapan, siapa, bagaimana, dan isi dari pokok-pokok wawancara yang dibahas.

  Catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Menurut Mandolang (2007) catatan lapangan adalah tulang punggung riset karena catatan lapangan merupakan catatan yang dibuat peneliti dalam sebuah penelitian dari lapangan. Catatan tersebut dapat bersifat deskriptif (sesuai yang teramati) atau reflektif (mengandung penafsiran peneliti).

b. Karakteristik catatan lapangan:

1) Akurat

2) Rinci, namun bukan berarti memasukkan semua data yang tidak berkaitan

3) Luas, agar pembaca memahami situasi dijelaskan

4) Data dapat menyediakan ikhtisar budaya atau pengaturan.

5) Para pengamat harus melakukan lebih dari sekedar melakukan perekaman situasi sederhana

c. Bentuk Catatan lapangan

Menurut Moelong (2001:154) bentuk catatan lapangan pada dasarnya adalah wajah catatan lapangan yang terdiri dari halaman depan dan halaman-halaman berikutnya disertai petunjuk paragraf dan baris tepi.

1) Halaman Pertama

Menurut Lexy J. Moleong (2001:154) pada halaman pertama  setiap catatan lapangan diberi judul informasi yang dijaring, waktu yang terdiri dari tanggal dan jam dilakukannya pengamatan dan waktu menyusun catatan lapangan, tempat dilaksanakannya pengamatan itu, dan diberi nomor urut sebagai bagian dari seluruh perangkat catatan lapangan.

2) Alinea dan batas tepi

Alinea atau paragraf dalam catatan lapangan memegang peranan khusus dalam kaitannya dengan analisis data. Oleh karena itu, setiap kali menuliskan satu pokok persoalan, peneliti harus membuat alinea baru. Kemudian, batas tepi kanan catatan lapangan harus diperlebar dari biasanya karena akan digunakan untuk memberikan kode pada waktu analisis. Kode tersebut berupa nomor dan judul-judul tertentu. Atas dasar pemberian kode dengan judul-judul tersebut dapat diperkirakan berapa lembar batas tepi yang perlu disisakan. Menurut Idrus (2007:93) mengenai bentuk catatan lapangan pada dasarnya belum ada kesepakatan antar para ahli tentang bagaimana bentuk catatan lapangan yang baik. Namun demikian sebagai persiapan tentang isi catatan lapangan itu harus memuat:

a) Judul atau tema yang ditulis

Penulisan tema ini penting agar memudah peneliti dalam membuat kategori-kategori. Tentu saja tema ini dapat diambil sesuai topik yang dibicarakan. Hanya saja perlu diingat tema tersebut tidak boleh lepas dari kerangka besar desain penelitian yang sedang dirancang.

b) Menjelaskan tentang kapan aktivitas itu terjadi (jam, tanggal, hari).

Peneliti hendaknya menuliskan secara rinci kapan suatu dialog itu terjadi lengkap denga tanggal, hari, jam saat di mulai dan saat wawancara itu selesai dilakukan. Proses ini berguna saat peneliti hendak melakukan uji keabsahan data. Dari catatan tersebut peneliti dapat memperkirakan kapan lagi jika suatu data hendak dilakukan keabsahannya.

c) Menyebutkan siapa yang terlibat dalam aktivitas itu (baik si pengamat maupun yang diamati).

Pada bagian ini sebutkanlah siapa yang diamati dan siapa yang berposisi sebagai pengamat. Menjelaskan aktivitas apa yang sedang terjadi. Paparkan aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh subyek. Penggambaran aktivitas ini penting agar peneliti dapat memahami perilaku sesuai konteks yang dialami oleh informan. Di mana aktivitas itu terjadi. Jelaskan di mana aktivitas itu berlangsung.

d.   Model Catatan Lapangan

Dalam penjelasannya, Moleong mengungkapkan bahwa model suatu catatan lapangan membaginya ke dalam tiga macam, yakni catatan pengamatan, catatan teori, dan catatan metodologi (2001:154-156).

1)  Catatan Pengamatan (CP)

Catatan pengamatan adalah pernyataan tentang semua yang dialami yaitu yang dilihat dan didengar dengan menceritakan siapa yang menyatakan atau melakukan apa dalam situasi tertentu (Moleong, 2001:155). Catatan pengamatan dilakukan selama tindakan berlangsung (Widyawati, 2008). Pernyataan tersebut tidak boleh berisi penafsiran, hanya merupakan catatan sebagaimana adanya dan pernyataan yang datanya sudah teruji kepercayaan dan keabsahannya.

Setiap catatan pengamatan mewakili peristiwa yang penting sebagai bagian yang akan dimasukkan ke dalam proposisi yang akan disusun atau sebagai kawasan suatu konteks atau situasi. Moleong (2001:155) menambahkan bahwa catatan pengamatan merupakan catatan tentang siapa, apa, bilamana, di mana, dan bagaiamana suatau kegiatan manusia. Hal itu menceritakan ”siapa mengatakan” atau ”melakukan apa” dalam kondisi tertentu.

Setiap catatan pengamatan merupakan suatu kesatuan yang menunjukkan adanya satu datum atau sesuatu yang sangat berkaitan atau menjelaskan peristiwa atau situasi yang ada pada catatan pengamatan lainnya. Jika catatan pengamatan itu merupakan kutipan, sebaiknya dikutip secara tepat.

2)  Catatan Teori (CT)

Catatan teori yakni digunakan untuk menampung peneliti yang ingin mempersoalkan melebihi fakta. Catatan teori mewakili usaha yang terkontrol dan dilakukan secara sadar untuk memperoleh pengertian dari satu atau beberapa catatan pengamatan. Peneliti sebagai pencatatan senantiasa berpikir tentang apa yang dialaminya dan membuat pernyataan khusus tentang arti sesuatu yang dirasakannya sebagai sesuatu yang menghasilkan suatu pemikiran konseptual. Dengan demkian ia mulai menafsirkan, menyimpulkan, berhipotesis, bahkan berteori. Ia mulai mengembangkan konsep baru, menghubungkannya dengan konsep lama, atau menghubungkan antara sesuatu yang diamatinya dari segi lain yang akan menghasilkan suatu perubahan sosial.

3)  Catatan Metodologi (CM)

Menurut Moleong (2001:156) catatan metodologi ialah pernyataan yang berisi tindakan operasional yang berpengaruh terhadap suatu kegiatan pengamatan yang direncanakan atau yang sudah diselesaikan. Jadi, catatan metodologi berupa instruksi-instruksi terhadap pengamat sendiri, peringatan, kritik terhadap taktiknya. Hal itu berisi soal waktu, penata urutan kegiatan, penetapan dan kestabilan langkah, pengaturan situasi dan tempat, cara pengamat berkelit dalam taktik, dan lain sebagainya. Catatan metodologi mempermasalahkan tindakan diri peneliti dan proses metodologinya.

 Sumber informasi yang sangat penting dalam penelitian ini adalah catatan lapangan yang dibuat oleh peneliti atau mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi. Berbagai aspek pembelajaran di kelas, suasana kelas, pengelolaan kelas, hubungan interaksi guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa, mungkin juga hubungan dengan orang tua siswa, iklim sekolah, kepala sekolah, demikian pula dengan kegiatan lain dari penelitian ini seperti aspek orientasi, perencanaan, pelaksanaan, diskusi dan refleksi. Semua hal itu dapat dibaca kembali dan dipahami kembali dari catatan lapangan.

Kekayaan data dalam catatan lapangan, memuat secara deskriptif berbagai kegiatan, suasana kelas, iklim sekolah, kepemimpinan, berbagai bentuk interaksi sosial dan nuansa-nuansa lain yang merupakan kekuatan tersendiri dari penelitian tindakan kelas (yang bernuansa kualitatif) secara mendasar dan mulai dari akar rumput.

Catatan lapangan yang dbuat oleh peneliti pada penelitian etnografis yang sejenis dengan yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas, menunjukkan adanya keragaman dalam format, struktur dan fokusnya. Tergantung pada masalah dan desain penelitian, serta keterampulan dan gaya peneliti. Walaupun demikian, ada beberapa katergori yang membedakan dalam membuat catatan lapangan:

  1. Menggunakan deskriptor inferensial rendah dengan catatan yang konkrit dan tepat, termasuk catatan verbatim atau kata demi kata dari setiap pembicaraan, perilaku dan kegiatan
  2. Menggunakan deskriptor inferensial tinggi . Yaitu catatan yang dibuat berdasarkan kombinasi skema analisis yang sudah disepakati termasuk komentar-komentar yang diucapkan.

Catatan lapangan dari katergori pertama merupakan dasar dari data pengamatan atau observasi karena itu dicatatan seakurat mungkin (Goetz dan LeCompte, 1984:160)

Catatan lapangan biasanya dibuat oleh peneliti dengan menggunakan tulisan tangan si peneliti atau mitra, yang hanya dimengerti oleh pemilik catatan. Orang lain tida dapat membacanya karena dipenuhi dengan singatan-singkatan kata yang ditulis dengan tergesa-gesa atau dengan kode. Maka sebaiknya bersegeralah mencatat kembali catatan lapangan tersebut dengan diketik agar bisa dibaca dan dimengerti semua orang.

Salah satu contoh analisis catatan lapangan adalah dengan mengindentifikasi data esensial dari catatan lapangan, seperti:

  1. Siapa, kejadian atau situasi apa yang terlibat dan terjadi?
  2. Apa tema atau isu utama dalam catatan itu?
  3. Pertanyaan-pertanyaan penelitian apa saja yang diajukan?
  4. Hipotesis, dugaan, atau perkiraan/ spekulasi apa yang diajukan peneliti tentang tokoh atau situasi yang dideskripsikan dalam catatan lapangan.
  5. Masalah atau fokus apa yang perlu dikejar  peneliti dalam pertemuan/ kegiatan/ kontak berikutnya? (Miles dan Huberman, 1984:50)

3. KESIMPULAN

Catatan lapangan merupakan catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialamai, dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitif (Moloeng,2005:153). Selain itu catatan penelitian merupakan buku jurnal harian yang ditulis peneliti secara bebas, buku ini mencatat seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal sampai akhir pembelajaran (Septiadi, 2008).

Tentu saja ada cara lain yang dapat dipakai peneliti untuk menganalisis data yang ditulis dalam catatan lapangan. Peneliti dapat memilih cara yang paling dibutuhkan dan sesuai dengan tema penelitian. Dapat saja digunakan bentuk analisis terstruktur, yang sudah mengandung bahan evaluasi atau ranting, atau dengan mengunakan tinta warna, peneliti memberikan kode pada kata/kalimat yang menonjol dalam catatan dalam huruf-huruf besar dengan mencatat nomor halamannya.

 Daftar Bacaan

  1. Muri Yusuf. 2007. Metodologi Penelitian. Padang: UNP PRESS
  2. http://www.anneahira.com/penelitian-kualitatif-dan-kuantitatif.htm
  3. Rochiati Wiriaatmadja. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2011 in Metode Penelitian

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: