RSS

HAKEKAT MASYARAKAT

02 Oct

Sekolah didirikan untuk kepentingan masyarakat. Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal dimana sekolah didirikan dan tempat anak-anak sekolah tinggal, bekerja, berada serta tempat mereka memperoleh nilai-nilai kebudayaan.

Sekolah tidak akan ada tanpa masyarakat. Oleh karena itu ada kaitan erat antara sekolah, masyarakat dan kebudayaan. Dengan kata lain kebudayaan dan masyarakat tempat sekolah berada sangat berpengaruh terhadap sekolah dan kurikulumnya, sebab tugas sekolah adalah mewariskan kebudayaan. Seperti yang disampaikan Jonhson(1967, hal 132) bahwa “sumber kurikulum satu-satunya sumber adalah keseluruhan kebudayaan yang ada. Zais (1976, hal 156) juga nenegaskan studi tentang kurikulum adalah studi tentang masyarakat dan kebudayaan. Oleh sebab itu peyususn kurikulum orang yang memahami kompleknya masyarakat dan kebudayaan yang membentuk,ide-ide, cita-cita dan aspirasi masyarakat.

Untuk dapat mendirikan sekolah dan mengembangkan kurikulum yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat dan kebudyaan, maka kajian tentang hakekat masyarakat perlu dilakukan. Diantaranya pengetahuan apa yang amat berguna, keterampilan apa yang diperlukan dan nilai-nilai apa yang harus dipelihara serta dikembangkan kalua kurikulum yang dirancang ingin relevan dengan aspirasi masyarakat.

Masyarakat dan kebudayaan

Masyarakat adalah sekumpulan individu yang menjadikan diri mereka menjadi suatu kelompok sosial. Sesuatu yang membuat mereka menjadi suatu kelompok, dan tidak menjadi suatu kelompok yang lain disebut kebudayaan. Kebudayaan adalah pemersatu sosial, social cement. Pemersatu sosial ini berupa kekayaan sosial termasuk ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, sikap, tingkah laku serta cara berpikir kelompok sosial yang diperoleh para anggota masyarakat itu (Stone dan Schneider, 1971, hal 2-3; Zais, 1976 hal. 157).

Seseorang yang terpisah dari kumpulannya, tidak akan memiliki kebudayaan karena dia tidak berkomunikasi dengan orang lain. Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang berbeda, tetapi tanpa kebudayaan tidak akan ada masyarakat, sedangkan tanpa masyarakat tidak ada kebudayaan (Smith, Stanley, dan Shores, 1957, hal 4).

Karakteristik dan struktur kebudayaan

Menurut Taba, ada beberapa karakteristik dari kebudayaan:

  1. Ciptaan norma kehidupan
  2.  Kepercayaan
  3. Tradisi-tradisi
  4. Loyalitas terhadap suatu standar
  5. Tingkah laku
  6. Moral
  7. Metode kontrol diri
  8. Harapan-harapan
  9. Keteraturan tingkah laku dan harapam

Menurut Taba karakteristik kebudayaan berdasarkan variabel kebudayaan, terbagi kepada dua:

  1. Masyarakat primitif (kebudayaan yang homogen), antara lain:

. harapan

. Ciri-ciri

. Tingkah laku

. kesetiaan

. Nilai-nilai

. dll

1. Masyarakat moderen

Pada masyarakat modern dan kompleks tidak terdapat satu struktur kebudayaan yang homogen, tapinterdapat berbagai variasi pola subkultur kedaerahan, regional, keagamaan tingkat sosial, suku bangsa, daerah pinggiran, perkotaan dan lain sebagainya.

Struktur kebudayaan dengan kajian tentang kurikulum yang dikemukakan oleh Ralph Linton (dalam Zais, 1976, hal 158-160). Menurut Linton, semua kebudayaan dibagi dalam 3 elemen penting:

2. Universal

Semua nilai-nilai, kepercayaan dan adat istiadat yang dianut oleh semua anggota masyarakat dewasa. Contohnya orang Indonesia akan menggunakan Bahasa Indonesia pada acara-acara resmi.

3. Khusus

Mencakup elemen kebudayaan yang terdapat pada sub grup masyarakat. Contohnya, tingkah laku tertentuyang diperlihatkan orang yang berprofesi dokter, guru, petani, pedagang dan lain sebagainya.

4. Alternatif

Budaya alternatif, yaitu aspek-aspek kepercayaan, tingkah laku atau tindak tanduk yang berlainan atau bertentangan dengan norma-norma umum berlaku di masyarakat yaitu universal dan khusus. Contohnya penggunaan bahasa prokem, yang pada sebagaian masyarakat itu tidak bisa diterima dan hanya digunakan oleh kaum muda mudi.

 Elemen kebudayaan dan kurikulum

Kurikulum disusun dan dikembangkan untuk mengarahkan anak didik agar menjadi orang. Pakar kurikulum harus memahami benar elemen universal, khusus dan kaitannnya dengan elemen alternatif. Pakar kurikulum perlu melihat apakah elemen alternatif dapat membuat anak-anak menjadi orang-orang yang diharapkan sesuai dengan tujuan kurikulum.

Dalam praktek transfer elemen kebudayaan universal cendrung melalui proses indoktrinasi, bukan melalui proses pendidikan.

 Kebudayaan, nilai dan kepribadian

Kebudayaan menentukan tata cara hidup dan tingkah laku masyarakat. Kebudayaan sarat akan nilai-nilai. Nilai kebudayaan akan menuntun anggota masyarakat bertingkah laku dan berbuat hal yang baik.

Sama halnya dengan kebudayaan, nilai adalah konsep yang amat rumit. Aspek yang terlihat adalah nilai yang dianut dengan nilai yang dilaksanakan (Zais, 1976). Kurikulum disusun agar nilai yang dianut bisa dilaksanakan. Karena kebudayaan menetapkan tata cara berbuat pada warganya, maka dapat dipahami bahwa kebudayaan juga membentuk kepribadian (Zais, 1976, hal 162). Pendidikan dimana saja berfungsi untuk membentuk kepribadian.

Ahli antropologi menekankan peranan proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian. Belajar melalui proses sosialisasi merupakan proses yang amat penting dalam pembentukan kepribadian yang standar menurut norma yang berlaku.

 Implikasi kurikulum

Hakekat masyarakat dan kebudayaan menurunkan beberapa implikasi, yang relevan dengan fungsi sekolah sebagai institusi sosial dan kurikulum sekolah, diantaranya:

  1. Kebudayaan menunjukkan bahwa tugas utama sosialisasi tidak dapat diserahkan kepada masyarakat luas atau keluarga saja. Sekolah perlu pula mengambil tugas sebagai pengajar nilai-nilai budaya masyarakat, kurikulum sekolah perlu mengambil alih beberapa tugas yang selama ini dipegang oleh keluarga,keagamaan dll (Taba, 1962, hal. 65). Implikasinya bahwa kurikulum perlu memberikan perhatian agar dimungkinkannya integrasi proses belajar disekolah dengan belajar yang yang dapat membentuk anak sebagai individu dan makhluk sosial.
  2. Diperlukan kurikulum yang membuka pintu lebar-lebar bagi kesempatan untuk mengkaji, serta mengevaluasi aspek-aspek kebudayaan yang diinginkan bagi perkembangan kebudayaan dan perkembangan anak didik itu sendiri.
  3. Dalam menyiapkan anak didik dapat hidup dengan baik pada dunia yang sedang berubah, kurikulum harus dapat membantu anak didik memperoleh pengetahuan,keterampilan serta nilai-nilai yang fungsional bagi kehidupan dimasa depan yang mungkin berbeda sekali dengan kehidupan masa kini.
  4. Berpikir mandiri dan berbuat kreatif merupakan aspek-aspek kepribadian yang penting bagi menciptkan moralitas baru yang mutlak perlu bagi menghadapi perubahan kebudayaan yang mat pesat di masa depan.
  5. Kurikulum perlu membuka pintu bagi kesempatan anak didik untuk sosialisasi baik disekolah maupun di luar sekolah, agar mereka dapat memahami konsep-konsep sosial, seperti disiplin pribadi, disiplin sosial, hubungan antar pribadi, saling menghargai, tenggang rasa dll.
  6. Dengan differensi kurikulum diharapkan timbul differensiasi materi, konten, kegiatan belajar dan pengalaman belajar mengingat perbedaan latar belakang sosial dan psikologis.
  7. Pengembangan usaha perkenalan dan pemahaman budaya lain  dirasa essensial jika kita akan menyiapkan anak-anak muda mampu berfungsi baik dalam negara dan msayarakat multikultural.

*Muhammad Ansyar

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: