RSS

BIDANG KURIKULUM

07 Sep

Kurikulum sebagai suatu Bidang Studi sukar dipahami dan terpisah-pisah, dan apa yang disangka atau dianggap benar. terbuka untuk diperdebatkan dan guna meluruskan salah paham. Kurikulum merupakan  subjek yang diajarkan di PT atau Universitas dan sebagai suatu lapangan kerja bagi praktisi.

Mahasiswa yang mengambil kurikulum sebagai bidang studi minor atau mayor dalam pendidikannya, biasanya mempelajari bidang ini di tingkat Pasca Sarjana. Orang-orang yang mengajar atau melatih orang lain, yang terlibat dalam pengembangan program pengajaran, supervisi dan atau evaluasi di sekolah dan PT, bisnis, rumah sakit adalah pelaksana kurikulum

Apa yang kita maksud dengan kurikulum, apa yang termasuk dan siapa yang terlibat dalam kurikulum merupakan hal-hal yang perlu dipahami dengan baik dan luas. Kita melihat kurikulum dalam bahasan ini dari segi (1) pendekatan (orientasi, perspektif atau posisi), (2) definisi, dan (3) . fondasi (4) domain kurikulum, dan (5) teori dan pelaksanaan kurikulum, serta  (7) kurikulum dan pembelajaran.

Dalam .sebagian besar bahasan ini, juga dike.mukakan bermacam buku teks kurikulum yang dipublikasikan semenjak tahun 1980. Ini tidak hanya dimaksudkan membantu memperkenalkan bidang kurikulum, tetapi juga membantu menempatkan buku teks kurikulum tersebut dalam konteks dengan buku teks kurikulum yang lain.

A. PENDEKATAN-PENDEKATAN KURIKULUM

Suatu pendekatan individual terhadap kurikulum merefleksikan bahwa pandangan seseorang tentang dunia, termasuk apa yang dipandang/dirasanya sebagai realitas, nilai yang dianggap penting, dan sejumlah pengetahuan yang dia miliki. Suatu pendekatan kurikulum merefleksikan posisi/karakteristik keseluruhan atau suatu meta orientasi, yang mencakup fondasi-fondasi kurikulum (filosofi seseorang, pandangan sejarah, pandangan psukilogis, dan teori belajar, dan pandangan tentang isu-isu sosial), serta domain kurikulum. Suatu pendekatan menyatakan suatu sudut pandang tentang pengembangan dan rancangan kurikulum. Peranan siswa, guru dan ahli kurikulum dalam perencanaan kurikulum, tujuan dan sasaran kurikulum, serta isu-isu penting yang perlu diujikan/diperiksa.

Pendekatan kurikulum merefleksikan pandangan kita tentang sekolah-sekolah dan msyarakat. Untuk beberapa bagian pendekatan bisa menjadi suatu pandangan yang mencakup semuanya (menyeluruh) jika kita merasa yakin dengan pandangan-pandangan tersebut. Dengan memahami pendekatan kurikulum, seseorang dan pendekatan kurikulum yang berlaku di sekolah/kecamatan dimana seseorang bekerja, maka memudahkan bagi kita untuk menyimpulkan apakah pandangan seorang profesional bertentangan dengan pandangan organisasi secara formal.

Meskipun sekolah, sepanjang waktu cenderung komit pada suatu pendekatan kurikulm tertentu, namun banyak pendidik yang tidak begitu komit pada satu pendekatan. Banyak dari pendidik tidak hanya punya satu pendekatan murni. Melainkan pada suatu situasi mereka bekerja berdasarkan suatu pendekatan dan pada kasus lain mereka mendukung beberapa pendekatan. Masih dalam kasus lain, mereka tidak menyadari bahwa mereka merefleksikan sikap/prilaku dari satu pendekatan kurikulum atau bahwa mereka dalam kenyataannya dipengaruhi oleh banyak pendekatan. Mereka (pendidik) perlu memahami bahwa penulis buku tek kurikulum kadang-kadang mengikuti lebih dari satu pendekatan kurikulum. Maka dari itu para ahli kurikulum perlu menguji pendekatan-pendekatan mereka.

Pendekatan kurikulum dapat dipandang dari segi perspektif teknis dan non teknis, ilmiah dan non ilmiah (catatan ; istilah non teknis atau non ilmiah tidak berarti negatif, tetapi menunjukkan perbandingan). Pendekatan technical-scientific (teknik ilmiah) serupa dengan teori dan model tradisional pendidikan, dan merefleksikan metode persekolahan yang telah mantap dan formal. Pendekatan non teknis dan non ilmiah berkembang sebagai bagian dari pelopor dan persobaan filsafat dan politik pendidikan. Kelompok ini cenderung menolak praktek pendidikan yang formal dan tetap.

Pembahasan pada bagian ini mengemukakan secara garis besar 5 pendekatan kurikulum. 3 pertama termasuk kelompok teksnik dan ilmiah dan 2 berikutnya kelompok non teknis dan non ilmiah, yaitu :

1. Pendekatan Rasional Tingkah Laku (behavioral rational approach)

Pendekatan ini mulai tumbuh pada University of Chicago School (dari Bobbitts dan Charters terus Tyler dan Taba). Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling tua dan masih merupakan pendekatan utama terhadap kurikulum. Sebagai pendekatan utama/dasar, pendekatan ini bersifat logis dan preskriptif .. Pendekatan ini mengandalkan prinsip-prinsip ilmiah dan teknis, dan berisi model-model rencana dan langkah demi langkah strategi merumuskan kurikulum. Tujuan dan sasaran spesifik, isi dan aktivitas sequen/berurutan sesuai dengan tujuan serta hasil belajar dinilai sesuai dengan tujuan dan sasaran.

Pendekatan kuriulum ini telah diterapkan pada semua subjek lebih dari dua – tiga abad ini, merupakan suatu kerangka referensi menentang pendekatan lain terhadap kurikulum yang menan dinginya. Nama lain yang digunakan untuk  pendekatan ini termasuk logical-positive, conceptual-empiricist, experientalist rational, scientific, dan technoratic...

Penulisan buku teks dari pendekatan ini pada tahun 1980-an cenderung menekankan juga pendekatan-pendekatan lain. Sedikit ahli behaviorist murni sekarang menulis buku, karena filsafat dan teori belajar baru yang menandingi tumbuh kembang dan menyebar luas. Namun, para pengarang yang termasuk kelompok pendekatan behavioral (TL) menyadarkan pada blue print, preskriptif untuk pembuatan kurikulum menjadi suatu rencana dengan aktivitas-aktivitas yang terstruktur dan berurutan; dan dengan menetapkan sebelumnya peranan-peranan diantara pelaksana kurikulum. Mereka peduli/konsern.dengan isu teknis pengembangan dan rancangan kurikulum. Isu-isu teoritis yang bermanfaat adalah .yang terkait dengan masalah-masalah teknis untuk mengembangkan atau merancang kurikulum. Isu-isu praktis yang menjadi perhatian adalah masalah kelogisan, keteraturan dan rasionalitas. Akhirnya kebanyakan orang merencanakan dan mengembangkan kurikulum menggunakan pendekatan rasional-behavioral; tanpa menghiraukan bagaimana mereka mengelompokkan dirinya atau bagaimana orang lain mengelompokkan mereka.

2. Pendekatan System – Managerial

Pendekatan ini memandang sekolah sebagai suatu sostem sosial, dimana murid, guru, ahli kurikulum dan yang lainnya berinteraksi menurut norma dan tingkah laku tertentu. Ahli kurikulum yang berpegang pada pendekatan ini merencanakan kurikulum dengan cara yang terorganisir dan mencakup program, jadwal ruang, materi, peralatan, personil dan sumber-sumber. Pendekatan ini saling mendukung satu sama lain antara menyeleksi, mengorganisir dan mensupervisi orang-orang yang terlibat dalam memutuskan kurikulum. Pertimbangan diberikan pada komite dan proses kelompok, proses komunikasi, metode dan strategi kepemimpnan, human relation (hubungan antar manusia) dan pengambilan keputusan.

Pendekatan inimerupakan salah satu  cabang  pendekatan behavioral-rational .. Dasar dari pendekatan ini adalah tertarik pada perubahan dan inovasi. Dan bagaimana ahli kurikulum dan supervisor memfasilitasi proses perubahan dan inovasi tersebut. Ahli kurikulum dipandang sebagai praktisi bukan teorist, dan pemimpin pendidikan adalah agen perubahan, orang sumber dan fasilitator.

Pendekatan ini tumbuh berakar pada permulaan model-model administratif dan organisasi sekolah pada tahun 1920-1930..dan mendominasi model kurikulum pada tahun 1950-1960 untuk asosiasi supervisi dan pengembangan kurikulum, asosiasi kepala sekolah dan pengawas sekolah. ..

Para pengawas ini sangat aktif secara politik. Mereka menggunakan asosiasi administratif dan jurnal serta buku tahunan asosia ini sebagai platform untuk mempublikasikan ide-ide mereka. .

Pada administrator sekolah ini kurang peduli tentang isi dibandingkan dengan organisasi dan implementasi. Mereka juga kurang peduli dengan subjek matter, metode dan bahan dari pada perbaikan kurikulum dalam bentuk kebijakan-kebijakan, rencana-rencana dan orang-orang pada sistem yang lebih luas…

Ahli kurikulum yang medukung pendekatan ini diantaranya adalah . George Beauchamp dan Maurits Johnson,. Chester Babcock, Leslee Bishop, John McNeil, Stuart Rankins, Harold Shaver, Glenys Unruh,  serta  Ronald Doll..

3. Pendekatan Intelectual Academic

Pendekatan ini. berorientasi pengetahuan, pendidikan intelektual akademik berusaha menganalisis dan mensintesis kedudukan, kecenderungan dan konsep-konsep tentang kurikulum. Pendekatan ini cenderung historikal dan filosofis dan kurang meluas secara sosial. Diskusi-diskusi tentang kurikulum yang dilakukan biasanya bersifat ilmiah dan teoritis (tidak praktis), dan lebih memperhatikan aspek-aspek besar tentang persekolahan termasuk penelitian/kajian tentang pendidikan. Perluasan tentang kurikulum secara relatif terbatas pada sekumpulan mata pelajaran dan memperlakukan kurikulum sebagai pemikiran intelektual, yang direfleksikan dalam bentuk informasi latar belakang dan pandangan umum tentang peristiwa dan manusia/orang.

Pendekatan ini tumbuh berakar pada pekerjaan-pekerjaan filosofis dan intelektual dari John Dewey, Hendry Morisson,dan Boyd Bode. Pendekatan ini populer antara tahun 1930-1950, dan diilustrasikan dengan panjang lebar oleh pekerja kurikulum intelektual, yaitu : Caswell dan Campbell, Hopkins, John and mary Norton.

4. Pendekatan Humanistic Aesthetik

Ahli kurikulum lain mengatakan bahwa pada bidang isi, pendekatan kurikulum yang telah digambarkan bersifat rigid. Mereka menyatakan bahwa dalam usaha mereka untuk menjadi rasional dan ilmiah, ahli kurikulum tersebut kehilangan aspek artistik dan aspek personal dari kurikulum dan pengajaran. Pendekatan-pendekatan tersebut tidak mempertimbangkan kebutuhan untuk merefleksikan dan mengakualisasikan diri para siswa, dan mengabaikan dinamika sosiopsikologis kelas dan sekolah. Pandangan didasarkan pada filsafat progresif dan aktivitas pergerakan kurikulum dari tahun 1920-1930 yang memperhatikan kebutuhan dan minat siswa dan telah disebar luaskan oleh dosen Universitas Kolumbia seperti Frederick Bosner, Caswell,Kilpatrick,dll.

Dari pergerakan ini, sejumlah strategi-strategi kurikulum bermunculan terutama pada tingkat sekolah dasar, termasuk pelajaran berdasarkan pengalaman hidup, permainan kelompok, dramatisasi, kunjungan lapangan, organisasi sosial, pusat minat/bakat, kebutuhan remaja dan anak-anak. Aktivitas-akativitas berisi pemecahan masalah dan partisipasi aktif siswa. .

Pendekatan aestetik humanis populer kembali pada tahun 1970-an, karena relevan dengan reformasi sekolah yang radikal dan pendidikan alternatif menjadi bagian dari pergerakan reformasi dalam pendidikan. Tulisan sekarang ini yang merefleksikan pendekatan humanis aestetic  dikarang oleh Elliot Eisner dan Glen Hass.

Berbagai teori sosiopsikologis dan teori berpusat pada anak untuk kurikulum diperoleh dari pendekatan ini. Kurikulum formal atau khusus tidak hanya mempertimbangkan kurikulum informal dan kurikulum tersembunyi, tetapi juga menfaat/faedah. Pendeaktan ini juga memperhatikan siswa secara keseluruhan, bukan hanya dimensi kognitif. Teori belajar humanistik mendapat perhatian yang sama bahkan kadang lebih dari pada teori kognitif dan behavior. Literatur musik, seni,pendidikan kesehatan dan humanistik sama pentingnya dengan matematik, IPA dan subjek lain.

Para ahli kurikulum yang percaya pada pendekatan ini cenderung menaruh kerpercayaan pada belajar kooperatif dan aktivitas sosial sebagai lawan dari kompetitif dan dominasi guru, belajar kelompok besar, dan hanya mengajar kognitif. Setiap anak menurut pendekatan ini mempunyai masukan yang bisa dipertimbangkan dalam kurikulum, dan pembagian tanggung jawab antara orang tua, guru, ahli kurikulum dalam perencanaan kurikulum.

Sekarang tuntutan pada pendidikan meningkat yang hebat dan standar akademik pengajaran ditekan pada peningkatan aspek-aspek kognitif yang lebih tinggi (seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, penemuan intelektual, berpikir difergen) dan pada subjek seperti IPA dan matematika (bukan seni dan musik). Pendekatan humanistik-aestetik mendapat posisi minoritas dan kurikulum.

5. Reconseptualists

Beberapa penulis buku teks kurikulum memandang reconseptualists mengemukakan suatu pendekatan terhadap kurikulum. Tetapi reconseptualists tidak memadai untuk model pengembangan perancangan kurikulum (atau menyangkut masalah teknis). Mereka cenderung lebih fokus pada isu-isu ideologi yang lebih luas dan isu-isu moral pendidikan (bukan hanya kurikulum) dan ekonomi,serta lembaga politik dari masyarakat (tidak hanya sekolah).  Mereka kekurangan model untuk perencanaan, .mereka lebih banyak didiskusikan dalam konteks politik dan filsafat, bukan pendekatan kurikulum.

Reconseptualist memandang sekolah sebagai suatu perluasan dari masyarakat. Mereka berpegang bahwa maksud kurikulum harus pembebasan/pemerdekaan, tetapi sebaliknya kurikulum mengontrol dan memelihara keteraturan yang sudah ada. Kebnayakan dari ahli kurikulum ini bukan penulis buku, mereka cenderung menjadi kritikus pendidikan, penasehat filosofis dan politik. Pendekatan  berakar pada filsafat dan aktivitas sosial seperti rekonstuksionist (Counts, Rugg, Benjamin). Ahli kurikulum baru ini berpikir. mempertimbangkan kembali dan mengkonseptualisasi kembali kurikulum. Pendekatan mereka terhadap kurikulum subjektif, politis, dan ideologis. Mereka tidak mempercayai metode-metode empiris untuk jawaban.

B.DEFINISI KURIKULUM

Lima pandangan dasar atau definisi dari kurikulum.

Ada 5 pandangan dasar tentang definisi kurikulum. Dua pertama yang paling populer, menggambarkan dua perbedaan besar yaitu spesifik dan preskriptif (rinci versus luas dan utama) yaitu :

  1. a curriculum can be defined as a plan for action or a written  document, which include strategies for achieving desired goals or ends. Definisi ini dipopulerkan oleh Tyler dan Taba. Tinjauan dan pendekatan behavior dan sistem managerial setuju dengan definisi ini. Misalnya Saylor; mendefinisikan kurikulum sebagai suatu rencana untuk memberi seperangkat kesempatan belajar bagi orang-orang untuk  dididik. David Pratt menulis kurikulum adalah seperangkat tujuan pendidikan formal atau pelatihan yang terorganisir. Wiles dan Bondi memandang kurikulum sebagai rencana untuk belajar yang bertujuan menetapkan belajar apa yang penting.
  2. Curriculum can be defined broadly as dealing with the experience of learner. All the experiences children have under the guidance of teachers. Kurikulum diartikan secara luas, terkait dengan pengalaman  siswa,yaitu semua pengalaman siswa di sekolah atau diluar sekolah (yang direncanakan) sebagai bagian dari kurikulum. Definisi kurikulum ini berlandaskan pada definisi Dewey tentang pengalaman dan pendidikan, Di sampingjuga pada Campbell dan Casswell yang menyatakan bahwa kurikulum adalah semua pengalaman anak dibawah bimbingan guru. Ahli kurikulum humanistic aestetic dan ahli kurikulum sekolah dasar berpedang pada definisi ini. Tiga definisi berikutnya tentang kurikulum berada diantara dua definisi umum ini.
  3. Curriculum can be considered as a system for dealing with people and the process, organization or personnel and procedures, for implementing that system.

Kurikulum dianggap sebagai sistem yang berkenaan dengan  manusia (siswa-guru) dan prosesnya atau merupakan organisasi manusia dan prosedurnya untuk menggerakkan sistem dan kurikulum tersebut. Ahli kurikulum manajemen sistem biasanya mengambil definisi ini.

A. Curriculum can also be viewed as a fielf of study, comprising its own foundations and domains of knowledge, as well as its own research, theory and principles (Orlosky, Smith, Schubert & Tanners)

Kurikulum juga dapat dipandang sebagai lapangan/ruang lingkup mata pelaharan yang tediri dari azas-azas dan ranah-ranah pengetahuan berisikan riset, teori dan prinsip.

B. Curriculum can be considered in terms of subject matter (mathematic, science, english, history, etc) or content (the way we organize and assimilate information) – (Shepherd and Ragan)

Kurikulum bisa disebut suatu latihan dalam subject matter (mata pelajaran) atau kurikulum itu sebagai konten/isi dari cara kita mengelola atu menghimpun informasi.

 

Masalah Definisi;

Definisi yang bervariasi tentang kurikulum  menimbulkan kebingungan dan permasalahan. Misalnya :

ü  Dalam definisi “kurikulum sebagai renrana atau dokumen tertulis”; pada dasarnya sekolah juga punya sesuatu yang tidak terencana  dan tersembunyi , tetapi terjadi sebagai hasil interaksi guru dan murid. Dalam hal ini adalah interaksi sosial- psikologis.

ü  Dalam definisi “kurikulum sebagai pengalaman anak”; dalam konteks ini  hampir semua yang terjadi di sekolah  bisa dikelompokkan sebagai kurikulum, dan sulit menentukan yang mana yang bukan kurikulum. Sehingga kurikulum dapat disamakan dengan pendidikan. Definisi ini juga menunjukan setiap disiplin ilmu yang ada di sekolah merupakan bagian dari kurikulum.

Menurut dfinisi ini is kurikulum merupakan hasil difusi atau penggabungan. Sementara tidak ada orang yang punya pengetahuan yang memadai untuk semua hal tersebut. Akibatnya dalam pengertian yang luas ini  secara ekstrim sulit untuk menjadi spesialis/ahli pada bidang kurikulum.

Isu Yang Melatar belakangi perlunya  Membatasi Bidang Ilmu

* Isu tentang isi atau subject matter

Apakah isi diorganisir secara terpisah atau terintegrasi (interdisipliner) dan berdasarkan kurikulum inti. Isi atau konten mempunyai pengaruh yang besar pada segala sesuatu mulai dari pengembangan, perancangan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Mulai dari perencanaan kebijakan dan program  .sampai penentuan proses dan produk/hasil kurikulum.

* Isu yang terkait dengan orang yaitu siapa yang menjadi partisipan utama dalam penentuan kurikulum.. Seberapa jauh  siswa, guru, orang tua dan anggota masyarakat dilibatkan dalam perencanaan kurikulum?,Kenapa peranan administrator sekolah lebih besar dalam perencanaan kurikulum dari padapara ahli?, Apa peran dan tanggungjawab peneliti dan praktisi dalam penyusunan kurikulum?.Dan bagaimana memperbaiki komunikasi mereka ?.

Pertanyaan Mendasar Tentang Kurikulum

  1. Bagaimana kurikulum didefinisikan?
  2. Apa pilosopy dan teori yang kita komunikasikan  baik secara intensional atau tidak dalam kurikulum kita?
  3. Kekuatan sosial dan politik apa yang mempengaruhi kurikulum? Yang mana yang paling menentukan? Yang mana hambatan-hambatan yang membatasi?
  4. Bagaimana belajar terjadi? Apa aktivitas belajar yang paling sesuai dengan kebutuhan pelajar? Bagaimana aktivitas-aktivitas ini diorganisir dengan baik?
  5. Apa saja domain pengetahuan kurikulum?, Apa tipe pengetahuan kurikulum yang esensial?
  6. Apa bagian yang esensial dari kurikulum?
  7. Kenapa terjadi perubahan kurikulum? Bagaimana perubahan mempengaruhi kurikulum?
  8. Apa peranan dan tanggungjawab ahli kurikulum?
  9. Bagaimana mengorganisasir kurikulum dengan baik?
  10. Apa peranan dan tanggungjawab guru dan siswa dalam pengorganisasian kurikulum?
  11. Apa  tujuan dan maksud umum ( goals dan aims) kita? Bagaimana kita menterjemahkannya dalam tujuan yang lebih operasinal (objectives)?
  12. Bagaimana kita mendefinisikan kebutuhan pendidikan kita? Kebutuhan-kebutuhan siapa? Dan bagaimana kita menyusun prioritas kebutuhan ini?
  13. Apa subjct matter atau isi yang paling tepat? Apa bentuk isi kurikulum yang terbaik? Bagaimana kita mengorganisirnya?
  14. Bagaimana mengukur atau menguji apa yang kita capai? Siapa yang bertanggungjawab, untuk apa dan pada siapa?
  15. Apa hubungan antara  kurikulum dan pembelajaran? Kurikulum dan supervisi? Kurikulum dan evaluasi?

C. LANDASAN-LANDASAN KURIKULUM

          Debat tentang kurikulum  selalu berlanjut, namun umumnya pandangan yang ada hampir semuanya optimis, karena pengetahuan tentang kurikulum tersedia dalam literatur-literatur. Pandangan pesimis hanya disebabkan  karena bidang ini kurang terarah, karena harus beradaptasi dan mempunyai subject matter dari disiplin ilmu lain.

Landasan utama kurikulum adalah :

  1. Landasan phylosofis
  2. Landasan historis
  3. Landasan psikologis
  4. Landasan sosiologis ( kadang-kadang budaya, polotik dan ekonomi masuk ke dalam landasan ini).

Ahli yang membahas tentang landasan kurikulum ini adalah :

  1. Miller dan Seller; hampir 50% tulisan mereka mengenai landasan psikologis, historis, pilosofis, sosial dan kultural dari kurikulum.
  2. Hunkins dan saylor; membahas landasan sosial
  3. Shepherd dan Ragan; membahas landasan sosial, dan historis, di samping ide-ide dan prinsip-prinsip psikologis.
  4. Elliot Eisner; mengembangkan landasan-landasan psikologis, khususnya psikologi belajar dan mengajar.
  5. Schubert dan Tanner mengemukakan pandangan historis tentang kurikulum

Perkembangan Pengaruh Psikologi

Pengaruh psikologi pada kurikulum dan pembelajaran meningkat semenjak tahun 1950, yang ditunjukkan oleh ahli behavior dan model-model pendidikan kognitif tahun 1960, dan model belajar humanistik tahun 1970, serta teori kognitif mengenai keberhasilan pendidikan dan berfikir kritis tahun 1980, yang selanjutnya dibuktikan dengan perubahan dari subjek matter menjadi inquiry disipliner dan cara-cara berfikir.

Dari pembelajaran yang berdasarkan pada media dan bahan/materi tradisional menjadi proses membaca dan bahasa. Akhirnya pengaruh psikologi dipandang sebagai pendukung utama pembelajaran, belajar dan mengajar.  Pada literatur dan penelitian tentang belajar individual, belajar kooperatif, waktu belajar akademik, pengajaran langsung, mastery learning dan pembelajaran yang lebih efektif, sama seperti dasar empiris metode mengajar, tingkah laku guru, kompetensi guru dan efektivitas guru.

Meskipun beberapa ahli kurikulum nampaknya kehilangan inisiatif dan pengaruh pada pengajaran dan belajar, apa yang telah mereka lakukan dengan baik antara tahun 1930-1950 ketika bidang kurikulum meluas mencakup banyak aspek pengajaran dan belajar. Pada waktu itu banyak pemimpin kurikulum seperti Alberty, Nelson dll.  yang mempunyai latar belakang psikologi yang kuat dan lebih banyak tertarik pada penilaian dan pengukuran pendidikan.

Beberapa ahli kurikulum merasa tidak enak dengan serangan psikologi ini. Selanjutnya banyak muncul ahli-ahli yang kurang kenal dengan bidang fondasi ini dibandingkan dengan yang lain. Dalam konteks ini kita mencatat kurangnya diskusi tentang landasan psikologis dalam buku teks kurikulum. (hanya 2 buku teks kurikulum sekarang yaitu karangan Eisher dan Shepherd, karangan Ragan yang merefleksi pendekatan psikologis, karangan Dool dan Hunkins berisi diskusi yang bersifat psikologis). Sebelum ada buku teks ini, orang merujuk pada pendapat Taba untuk menemukan buku teks kurikulum yang berdasarkan psikologi.

D. DOMAIN KURIKULUM

Bila landasan kurikulum menunjukkan batas-batas eksternal bidang kurikulum, domain kurikulum menggambarkan batas-batas internal, atau pengetahuan yang diterima sebagai bidang kurikulum, yang diperoleh dari pengkajian buku teks, artikel dan laporan penelitian.. Masalah belakangan ini adalah pernyataan bahwa bidang kurikulum bukan suatu disiplin atau bukan suatu profesi penuh yang berdasarkan pada batang tubuh ilmu yang tegas. Banyak usaha-usaha yang telah dilakukan untuk menyusun peta pengetahuan dalam bidang kurikulum untuk membantu mengkonseptualisasikan atau menentukan batas dalam bidang kurikulum itu sendiri. Menurut beberapa pengamat masalahnya adalah bahwa pengetahuan kurikulum berdifusi pada beberapa sumber yang tidak dikenal sebagai sumber kurikulum. Di samping itu banyak sumber-sumber yang sudah dikenal namun tidak dibaca karena ada banyak literatur lain untuk dibaca.

Kurangnya kesepakatan tentang domain kurikulum ditunjukkan oleh ahli kurikulum itu sendiri seperti :

ü  Beauchamp; memecah domain kurikulum ke dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

ü  Foshay dan Bellin membagi domain kurikulum ke dalam teori desain dan perubahan.

ü  Fenchwich english memandang kurikulum dalam arti biologis (filosofis dan ilmiah) dan teknis (desain) serta isu-isu operasional (managerial)

ü  Edmund Short menggambarkan secara garis besar kurikulum mencakup pengambilan kebijakan, pengembangan,evaluasi, perubahan,pengambilan keputusan dan bentuk serta bahasa inquiry (teori)

Meskipun kurang kesepakatan tentang domain, namun penting untuk menetapkan suatu kerangka kerja untuk  mengkonseptualisasikan domain-domain kurikulum, yaitu pengetahuan kurikulum yang penting dan sangat diperlukan untuk melaksanakan penelitian dan membuat keputusan teoritis serta praktis tentang kurikulum.  Kita mempertahankan bahwa semua yang dikemukakan ahli di atas adalah domain pengetahuan kurikulum, Namun pengembangan dan rancangan kurikulum dipandang sebagai aspek teoritis domain kurikulum dan yang lain disebut aspek teknis domain kurikulum  yang penting untuk setiap buku teks.

Pengembangan Kurikulum

Menganalisis kurikulum dalam arti pengembangan merupakan pendekatan tradisional dan paling umum. Ide ini adalah menggambarkan bagaimana kurikulum disusun atau direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi, serta siapa saja, apa proses dan apa prosedur dalam menyusun kurikulum tersebut. Pengembangan ini biasanya menguji kelogisan langkah demi langkah yang dilaksanakan berdasarkan pada pendekatan tingkah laku dan managerial terhadap kurikulum serta beraakar pada prinsip ilmiah pendidikan.

Berikut ini dikemukakan beberapa model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli :.

  • Saylor dkk mengemukakan model perencanaan dengan 4 langkah : (1) tujuan, (2) rancangan kurikulum,(3) pelaksanaan kurikulum dan (4) evaluasi kurikulum. .
  • Unruh dan Unruh mengemukakan 5 langkah pengembangan kurikulum, yaitu (1) tujuan dan sasaran, (2) penilaian kebutuhan, (3) isi, (4) pelaksanaan, (5) evaluasi.
  • Francis Hunkins mengemukakan model dengan 7 langkah, yaitu L1) konseptualisasi kurikulum dan pengesahan, (2) diagnosis kurikulum, (3) pemilihan isi, (4) pemilihan pengalaman, (5) pelaksanaan kurikulum, (6) evaluasi kurikulum, (7) pemeliharaan/pembinaan kurikulum.
  • Model pengembangan kurikulum yang lebih kompleks tetapi cocok untuk siswa bidang kurikulum di pasca sarjana. Model dikenal dengan model sistem.yang  diilustrasikan secara grafik atau faktorial dan dalam istilah input, transformasi, dan output, disajikan secara berurutan dan rasional..
  • Terakhir model yang disusun dalam pengertian teknis, dengan asumsi bahwa seseorang harus banyak mengetahui tentang bidang kurikulum untuk bisa benar-benar menghargai dan memahaminya secara penuh.

Dengan mengadopsi model pengembangan, ahli kurikulum cenderung membatasi pilihan dan fleksibelitas dalam urutan langkah-langkah pengembangan kurikulum mulai dari tujuan dan sasaran sampai pada evaluasi tugas-tugas belajar dan outcomes.Mereka kadang-kadang lupa bahwa jalur pengembangan kurikulum menyebar yang membenarkan/memungkinkan realita, politik dan sosial, pertimbangan-pertimbangan kualitatif yang perlu dikenal melalui pengajaran yang efektif, dan mengizinkan untuk memilih metode mengajar dan aktivitas belajar, dan kemungkinan bahwa satu jenis kurikulum mungkin lebih baik dan berhasil untuk sekolah tertentu dari pada sekolah lain.

Rancangan Kurikulum

Rancangan kurikulum mengacu kepada cara kita mengkonseptualisasi kurikulum dan menyusun komponen utamanya (isi, metode, dan materi pengajaran, pengalaman dan aktivitas siswa) untuk memberi arahan dan pedoman bagi kita mengembangan kurikulum. Kebanyakan penulis kurikulum tidak mempunyai satu rancangan kurikulum secara murni,  mereka.cendrung menggunakan desain eklektik..

Cara seseorang merancang kurikulum seara khusus berakar pada pendekatan dan definisinya tenang kurikulum.Contoh; Orang yang memandang kurikulum dalam pengertian behavioris mengemukakan rancangan kurikulumdengan rincian :merencanakan dan menyusun hasil-hasil belajar. Orang yang memandang kurikulum dengan pendekatan sistem manajemen,.atau psikologis, atau. sosial dan politik akan mengemukakan desain kurikulum yang berbeda..

Jika pengembangan kurikulumcendrung bersifat teknis dan ilmiah, desain kurikulum akan lebih bervariasi karena didasarkan pada nilai-nilai dan keyakinan para ahli kurikulum tentang pendidikan, prioritas pendidikan, dan pandangan tentang bagaimana siswa belajar.       .

Contoh desain kurikulum :

–          Saylor dan kawan-kawan membedakan 5 (lima) desain kurikulumyaitu :

(1)  Subject matter/disiplinilmu; yang berisi subject matter dan pengetahuan.

(2)  Kompetensi/teknologi;yang berurut/sekuensial, analisis dan behavioris.

(3)  Sifat-sifat manusia/proses;yang memfokuskan pada tingkah laku manusia dan kelompok.

(4)  Fungsi sosil/aktivitas sosial; yang memperhatikan kehidupan sosial dan kebutuhan yang bersifat sosial.

(5)  Kebutuhan dan minat individu; yang berorientasi pada aktivitas siswa/anak.

–          Bondi mengemukakan 6 (enam) desain yang berbeda:

(1)  Conservative Liberal– art desain; yang berdasarkan pada pengetahuan dan mengejar intelektual.

(2)  Desain teknologi pendidikan; yang terfokus pada hasil akhir, sasarn dan efisiensi.

(3)  Desain humanistik; yang menekankan pada kurikulum yang berpusat pada siswa.

(4)  Desain vocasional; yang memperhatikan aspek vokasi dan aspek ekonomi dari pembelajaran/pendidikan di sekolah.

(5)  Desain rekonstruksi sosial;yang ditujukan pada perbaikan sosialmasyarakat.

(6)  Desain pendidikan “deschooling”/non formal yang berdasarkan pada pengembangan pendidikan non formal.

Secara umum, rancangan kurikulum harus memberi suatu kerangka dasar referensi untuk perencanaan atau tepatnya untuk pengembangan kurikulum. Suatu desain kurikulum dipengaruhi pendekatan yang menjadi pegangan penulis, tetapi lebih tepatnya dipengaruhi oleh pandangannya tentang belajar,mengajar, dan pembelajaran.

Domain Kurikulum yang lainnya ( aspek teknis)

.Pendapat tentang apa yang merupakan pengetahuan kurikulum yang esensial bervariasi diantara para praktisi dan diantara para penulis buku teks kurikulum. Muncul lebih banyak perbedaan pendapat dari pada kesepakatan tentang status dan ruang lingkup domain kurikulum yang lain. Misalnya, Rossales Dordelly dan Short menyatakan status sosok keilmuan kurikulum digambarkan sarjana pada bidang kurikulum sebagai suatu yang tak berbentuk, tersebar, tidak koheren dan terpecah-pecah….. sedikit kemajuan yang dilakukan dalam konseptualisasi bidang ilmu kurikulum. Dalam pengantar tulisannya McNeil menempatkan dengan cara lain “segala sesuatu yang harus dikenal tentang kurikulum tidak harus dimasukkan dalam buku”.

Kesepakatan . tentang domain kurikulum selain pengembangan dan desain kurikulum yang penting adalah : diskusi tentang kebijakan sekarang, kecenderungan, isu dalam kurikulum, metode perubahan kurikulum dan inovasi, metode penelitian dan pendidikan kurikulum, konsep dan bahasa dasar kurikulum serta cara-cara peninjauan atau kupasan lain yang membuat bidang kurikulum lebih dipahami.

Apa  domainn kurikulum lain yang kita setujui tergantung pada kepentingan teoritis dan keputusan praktis dalam bidang kurikulum pada masa yang akan datang.

E. TEORI DAN APLIKASI KURIKULUM

Teori didefinisikan sebagai pengetahuan dan pernyataan yang memberikan makna fungsional terhadap rangkaian kejadian yang membentuk definisi, operasional, asumsi, postulat, hipotesisi, generalisasi, hukum atau dalil.

Yang dimaksud teori dalam kurikulum adalah subjek matter yang memerlukan kesimpulam atau penjelasan tentang penggunaan, pengembangan, disen danecaluasi mengenai krukulum. Pengertianini menyarankan adanya suatu pendekatansecara teknis dan ilmiah yang memerlukanranah pengetahuan yang cocok dengan pengembangan kurukulum.

Teori yang baik dalam kurkulum atau pendidikan adalah teori yang menguraikan dan menjelaskan hubungan yang bervariasi yang ada dalam lapangan kirkulum dan pendidikan itu. Sebagaimana diungkapkan Orstein cs good theory should also prescribe actions to be atken: however we do not always use theory productively in our practice or in education in general. Teori yang dikatakan baik itu oleh Ornstein dkk, hendaknya teori dapat menetapkan suatu tindakan yang diambil, karena bagaimana pun kita tidak bisa selalu menggunakan teori itu secara sempurna dalam aplikasinya di bidang pendidikan secara umum.

Dalampembahasan ini yangmenjadi permasalahan adalah bagaimana menerjemahkan teori itu ke dalam aplikasi karena hal inilahyang sering dikeluhkan oleh para praktisi (guru) di lapangan. Para guru selalu merasakan bahwa pertimbangan-pertimbangan praktis lebih bermanfaat dari pada teori semata. Kebanyakan guru memandang teori sebagai suatu yang tidak praktis. Para pakar teoritis (decision maker in curriculum) tidak mempedulikan para praktisi, begitu juga  sebaliknya. Dengan demikian menimbulkan pembahasan-pembahasan kurikulum secara teoriiitis terpisah dari aplikasi praktis dalam kelas dan juga banyak pembahasan kurikulum praktis yang jarang mempertimbangkan hubungan-hubungan secara teoritis.

Mengaplikasikan kurikulum yang praktis memerlukan strategi dan peraturan yang telah terseleksi terhadap situasi yang berbeda, misalnya teori yang telah dirumuskan dalam kurikulum telah dinilai baik tetapi semua situasi tidaklah sama. Permasalahan inilah yangmenjadi bukti khusus, dimana para guru (praktisi) dalam mengaplikasikan metide yang baik untuk situasi yang tepat bukanlah suatu tugas yangmudah, tapi memerlukan pengetahuan umum dan pengalaman.

Dalam menerapkan kurikulum memerlukan:

  1. Pemahaman tentang kendala dan iperasional khusus dalamsuatu sekolah/organisasi)
  2. Pemahaman tentang tujuan dan prioritas sekolah, kebutuhan-kebutuhan siswa, guru dan karyawan.

Seseorang praktisi kurikulum yang sukses dapat mengembangkan, melaksanakan dan mengevaluasi kurikulum dengan cara menseleksi dan mengelola:

  1. Tujuan
  2. Subject matter
  3. Metode, materi, media
  4. Pengalaman belajar dan aktivitas yang sesuai dengan siswa

F. KURIKULUM DAN PENGAJARAN

Hubungan antara kurikulum dan pengajaran tidak didefinisikan secara jelas baik dalam literatur profesional maupun buku teks kurikulum dewasa ini. Kesamaan ini direfleksikan dengan kenyataan bahwa lebih kurang 40% kurikulum di sekolah hanya mekakai kata curriculum, 30% menggunakan curriculum and instruction dan 25% memakai istilah educational leadership atau curriculum leadership yang mendukung program administasi dan supervisi kurikulum. Dan 5% dengan menggunakan istilah curriculum and supervison

Para praktisi misalnya guru kurang mempunyai waktu untuk menganalisis orientasi kurikulum dan pengajaran itu, karena mereka lebih banyak berhadap dengan masalah-masalah yang terjadi di ruang kelas. Untuk itu, kepala sekolah hendaklah mengenali pentingnya kurikulum dan pembelajaran, dengan mempertimbangkannya peranannya sebagai pimpinan yang mengelola kurikulum dan pembelajaran. Tetapi profil kepala sekolah model begini jarang kelihatan karena waktu mereka lebih nauka digunakan dalam hal-halyang bersifat manajerial, kemasyarakatan dan tanggung jawab dalam bidang keuangan.

Hubungan kurikulum dan pengajaran dapat dilihat dari 2 konteks, yakni:

a.      Konteks sejarah

Para pendidik Eropa abad 18 dan 19 mulai dari Locke, Rousseau hingga Spencer dan Berbart, mereka merupakan penceetus prinsip-prinsip pendidikan. Namun analisis mereka bukanlah mengenai kurikulum seperti yang kita ketahui sekarang, karena istilah kurikulum itu belum dikenal sampai pada abad ke 20.

Dari segi konteks sejarah ini akan dikutip pendapat-pendapat dari tokoh-tokoh kurikulum berikut ini.

1)   Tyler

Tyler memandang pengajaran sebagai suatu rencana untuk mengajarkan kurikulum dan prosedur untuk mengelola pengalaman belajar ke dalam unit, mata pelajaran dan program. Satu dari empat pertanyaan yang dikemukakan Tyler dalam buku klasiknya ”Basic Prinsiples of Curriculum and Instruction” (1949) adalah : How can learning experiences be organized for effective instruction? (bagaimana pengalaman-pengalaman belajar bisa dikelola untuk pengajaran yang efektif?

2)   Taba

Taba melihat kurikulum dalamkonteks yanglebih luas dari pada pengajaran (teaching) dan teaching lebih luas dari instruction. Kurikulum menggambarkan substansi dan konten dari apayang dipelajari. Sedangakan teaching diartikan dengan tingkah laku umum dan metode guru dalam menyampaikan mata pelajaran kepada siswa. Instruction dipandang sebagai aktivitas khusus yang diperkenalkan waktu mengajarkan tahapan-tahapan kurikulum yang berbeda. Maka menurut Taba, instruction sebagai suatu yang terpisah dengan kurikulum

3)   Bruner (1960)

Bruner telah mengembangkan suatu teori pengajaran (instruction) yang memfokuskan dalam 4 faktor:

–         menyiapkan pembelajaran (facilitating learning)

–         Menyusun pengetahuan (structuring knowledge)

–         Mengurutkan pengalaman belajar (sequencing learning experience)

–         Memberikan hadian dan hukuman dalamproses belajar dan mengajar (reward and punishment)

Menurut pengertian ini, kurikulum dan pengajaran dipandang sebagai disiplin yang terpisah dari pendidikan (education) dan keduanya mempunyai sistem (weight) yang sama.

4)   James McDonald

McDonald mendefinisikan kurikulum sebagai rencana untuk berbuat (plan for action) dan instruction adalah menempatkan rencana ke dalam pelaksanaan (putting plans into action—mirip dengan pendapat Tyler. Teaching adalah perilaku guru (Taba) dan leaarning adalah tanggung jawab/hak yang dituntut siswa (the desired response of the learner—Tyler & Taba)

5)   Harry Broudy, cs

Broudy memandang kurikulum sebagai suatu sistem keseluruhan, dimana instruction dan teaching merupakan  sub sistem

b.      Konteks sekarang

Dari pembahasan konteks sejarah dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kurikulum itu terpisah dari pengajaran., Pernyataan ini jika dilihat dari konteks sekarang tidaklah signifikan, karena gua komponen itu melebur dalam suatu hubungan siklus (bersifat lingkaran). Kurikulum dianggapp sebagai perencanaan/program tertulis yang memberikan suatu arah untuk diaplikasikan dalambentukpengajaran yang memerlukan metodologi. Walaupun kurikulum itu sebagai suatuperencanaan yang bersifat pasif, sedangkan pengajaran sebagai suatu tindakan yang bersifat aktif (alive) dan berkembang, Namun kurikulum meliputi hal-hal yang berhubungan dengan sekolah secara keseluruhan baik dalam lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Pengajaran hanya dalam kelas khususnya dalam lingkungan sekolah termasuk di lapangan olahraga atau studitorium.

Jika dianalisis lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa kurikulum itu berhubungan dengan WHAT, apa yang bisa diinterpretasikan dari hal yang dibutuhkan siswa dan masyarakat, hal inilah yang menjadi dasar dalam merumuskan kurikulum berdasarkan pandangan hidup dan sosial secara alamania. Sedangkan pengajaran (instruction) berhubungan dengan HOW; bagaimana siswa belajar, hal ini didasarkan dengan fondasi/azas psikologi, metode, bahan pelajaran dan media. Jadi keduanya memodifikasi satu sama lain dalam cara yang berkelanjutan dan multidimensional artunya kesimpulan yang dibuat dalam kurikulum mempengaruhi kurikulum.

Ada tiga pendekatan terhadap kurikulum dan pengajaran yang mempunyai perspektif tersendiri, yakni:

  • Sistesis (systesis an interdisiplinary perspective)
  • Pemisahan (separation) yang merefleksikan suatu pendekatan disiplun terhadap mata pelajaran (field of study)
  • Peleburan (fusion), ini pendekatan yang lebih padat.

Sumber: Curriculum Construction karangan Laurie Brady & Kerry Kennedy (2007; bab 1)

 
 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: