RSS

Konsepsi Kurikulum

25 Aug

Barangkali orang tua pembaca juga pernah berharap bahwa beliau menginginkan kita memperoleh kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan mereka sekarang -yang telah mereka capai. Karena para orang tua percaya bahwa mereka secara pasti mewariskan kebudayaan mereka. Baik kebudayaan materil (rumah-peralatan berkebun-peralatan dapur-peralatan masak-pakaian) maupun kebudayaan non materil (nilai-nilai-norma-hukum-kerja sama-gotong royong). Hal-hal seperti itulah yang para orang tua wariskan kepada generasi setelah mereka.

Zaman dahulu itu para orang tua melakukan pentransferan kebudayaan melalui tutorial, seperti mengajarkan langsung kepada anak bagaimana membuat rendang, bagaimana membuat samba lado, bagaimana mengolah lahan menjadi perkebunan, mengolah lahan menjadi persawahan dan bagaimana cara hidup bermasyarakat. Hal itu seperti pendidikan masa sekarang. Mengajarkan kepada anak hal apa yang dirasa mereka perlu tau.

Orang tua yang mengajarkan anaknya tentang banyak hal tersebut demi mewariskan kebudayaan yang mereka anut, orang tua percaya pengetahuan anak akan semakin berkembang. Dengan semakin berkembangnya pengetahuan, kebutuhan anak semakin maju, dan semakin maju kebutuhan maka kehidupan juga akan semakin maju. Jadi untuk memehuni hal -kehidupan yang sudah maju para orang tua tak bisa lagi mentransfer kebudayaan karena mereka memiliki kemampuang yang terbatas, sedangkan kebutuhan sudah jauh lebih maju dari apa yang orang tua tau.

Jika di masa lalu anak butuh bagaimana cara mengelolah sawah, seorang ayah bisa turun tangan mengajarkan kepada anak dengan cara tutoria. Atau seorang anak gadis yang butuh pandai bagaimana memasak masakan yang disukai banyak laki-laki, seorang ibu bisa mengajarkan kepada anak atau setidaknya punya resep rahasia untuk melakukannya. Namun bagaimana dengan kebutuhan anak akan keterampilan komputer? Keterampilan yang diyakini semua orang perlu dikuasai untuk masa kini dan masa depan. Orang tua belum tentu bisa mengajarkannya secara tutorial karena mereka tak mengenal barang berupa komputer di masa sebelumnya. Komputer salah satu contohnya, dan banyak lagi contoh lain yang bisa diambil. Dalam hal itu orang tua tidak bisa mentransfer apa yang anak butuhkan di zaman kekinian. Berdasarkan konsep itulah masyarakat memercayakan penguasaan keterampilan itu pada pada pihak yang berwenang. Untuk itulah sekolah dibuat.

Sekolah pun diadakan agar generasi setelahnya dapat hidup lebih baik. Apa yang dulu diyakini baik untuk anak, untuk masa kini belum tentu baik karena harus disesuaikan dengan kebutuhan kekinian. Untuk itu perlu dirancang kurikulum yang sesuai dengan masyarakat agar usaha pewarisan kebudayaan dapat berhasil dengan baik. Karena kurikulum itu sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan anak yang tidak terbatas. Jika semua yang dimiliki itu terbatas, rasanya tidak perlu merencanakan kurikulum. Dan semakin tidak terbatasnya keterampilan seorang anak, makin komples apa-apa yang dibutuhkan, oleh karenanya akan semakin rumit untuk merancang sebuah kurikulum. Namun, meskipun begitu, generasi muda dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai-nilai dan dapat bertanggung jawab terhadap perkembangan kebudayaan yang diwariskan dengan adanya kurikulum.

Jadi sekolah memberikan lifeskill untuk anak-anak. Sesuai dengan pendapat Taba (1962, p. 18-30) bahwa ada tiga fungsi utama pendidikan:

  1. pendidikan sebagai pemelihara dan penerus kebudayaan
  2. pendidikan sebagai alat bagi usaha transformasi kebudayaan
  3. pendidikan sebagai alat bagi pengembangan individual anak

Namun sedikit berbeda dengan John Dewey yang dengan gerakan progresifnya menginginkan peranan yang lebih kreatif dari sekolah di tengah-tengah masyarakat dengan menekankan pengembangan individu. Perlu pemusatan usaha pengembangan semua potensi individu, terutama kemampuan kreatifitas, kebebasan berpikir, penemuan diri serta pengembangan potensi fisik dan mental. Meskipun sedikit berbeda, tetapi tujuan tetap sama yaitu agar anak-anak didik menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat bagi diri sendiri dan anggota masyarakat.

Untuk berjalan di alur pendidikan berdasarkan cerita kita di atas, perlu kurikulum untuk mengarahkan pada apa yang dibutukan dalam kehidupan nyata. Untuk itu perlu landasan dalam merancang dan mengembangkannya.

  1. Landasan Filosofis
  2. Landasan Sosiologis
  3. Landasan Psikologis
  4. Landasan Historis
 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: