RSS

PENDIDIKAN, PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA, MODERNISASI DAN PEMBANGUNAN

02 Oct

A.  Pendahuluan

Telah diketahui bersama bahwasanya pendidikan lahir seiring dengan keberadaan manusia, bahkan dalam proses pembentukan masyarakat pendidikan ikut andil untuk menyumbangkan proses-proses perwujudan pilar-pilar penyangga masyarakat. Melalui pewarisan kebudayaan dan internalisasi pada setiap individu, pendidikan hadir dalam bentuk sosialisasi kebudayaan, berinteraksi dengan nilai-nilai masyarakat setempat dan memelihara hubungan timbal balik yang menentukan proses-proses perubahan tatanan sosio-kultur masyarakat dalam rangka mengembangkan kemajuan peradabannya.

Sebaliknya, dimensi-dimensi sosial yang senantiasa mengalami dinamika perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor dominan yang telah membentuk eksistensi pendidikan manusia. Penggunaan alat dan sarana kebutuhan hidup yang modern telah memungkinkan pola pikir dan sikap manusia untuk memproduk nilai-nilai baru sesuai dengan intensitas pengaruh teknologi terhadap tatanan kehidupan sosial budaya. Dalam hal ini, pendidikan menjadi instrumen kekuatan sosial masyarakat untuk mengembangkan suatu sistem pembinaan anggota masyarakat yang relevan dengan tuntutan perubahan zaman.

Melihat urgensi hubungan antara pendidikan dan dinamika sosial budaya, maka penulis berusaha menerapkan analisis ilmiah untuk memahami fenomena pendidikan dalam hubungannya dengan perubahan sosial-kebudayaan, modernisasi dan pembangunan.

B. Pendidikan

Pendidikan merupakan sarana utama untuk mensukseskan pembangunan nasional, karena dengan pendidikan diharapkan dapat mencetak sumber daya manusia berkualitas yang dibutuhkan dalam pembangunan. Titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan serta perluasan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan juga merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi dalam upaya meningkatkan taraf hidup suatu bangsa agar tidak sampai menjadi bangsa yang terbelakang dan tertinggal dengan bangsa lain.

Pendidikan saat ini telah direduksikan sebagai pembentukan intelektual semata, sehingga menyebabkan terjadinya kedangkalan budaya dan hilangnya identitas lokal dan nasional (Tilaar, 2004). Perubahan yang global dengan liberalisasi pendidikan sehingga menuntut lembaga pendidikan untuk mampu menghasilkan kualitas peserta didik yang dapat bersaing secara kompetitif agar dapat diterima pasar. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pasar ini pada akhirnya akan mendorong lembaga pendidikan menjadi lebih bercirikan knowledge based economy institution. Pendidikan yang hanya berorientasi untuk mencetak generasi yang bisa diterima pasar secara ekonomis hanya akan mampu mencetak peserta didik yang berpikir dan bertindak global sehingga mereka tidak memiliki kecerdasan emosional yang akhirnya bermuara pada terjadinya krisis moral dari peserta didik.

Dewey (2001:6) mengemukakan: Education, in its broadest sense, is the means of this social continuity of life. Every one of the constituent elements of a social group, in a modern city as in a savage tribe, is born immature, helpless, with out language, beliefs, ideas, or social standards. Each individual, each unit who is the carrier of the life experience of his group, in time passes away. Yet the life of the group goes on.

Pengertian pendidikan secara luas berarti kelanjutan kehidupan sosial. Masing-masing dari unsur memilih kelompok sosial, kota modern seperti di suku yang kejam kehidupannya, lahir belum matang, tidak berdaya, dengan keluar bahasa, kepercayaan, ide, atau standar sosial. Tiap individu dan setiap satuan yang membawa pengalaman hidup kelompok masing-masing dan pada waktu tertentu melampaui batas pengalaman sehingga individu terus dapat hidup dengan kelompoknya.

Berdasarkan uraian tersebut pendidikan berfungsi membekali pengalaman dan keterampilan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan kemampuannya untuk mempertahankan hidupnya. Keadaan masyarakat yang majemuk akibat perubahan jaman menuntut peserta didik dapat aktif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Oliva (1992:6) yang mengemukakan bahwa curriculum can be conceived in a narrow way (as subjects taught) or in a broad way as all the experiences of learners, both in school and out, directed by the school. Disimpulkan bahwa kurikulum dalam artian sempit merupakan sebagai pokok mengajar dan arti luas sebagai semua pengalaman belajar, baik dalam dan keluar sekolah, di bawah pengawasan sekolah sehingga pelajaran berupaya menciptakan pengalaman belajar bagi siswa perlu mendapat prioritas yang utama dalam kegiatan pembelajaran.

Landasan sosial budaya pendidikan mencakup kekuatan sosial masyarakat yang selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Kekuatan tersebut dapat berupa kekuatan nyata dan potensial yang berpengaruh dalam perkembangan pendidikan dan sosial budaya seiring dengan dinamika masyarakat. Sehingga kondisi sosial budaya diasumsikan mempengaruhi terhadap program pendidikan yang tercermin dalam kurikulum. Hunt (1975) mengemukakan: Study hits base social and culture from education aims to supply teacher with erudition that deepen about society and where they alive and to help student teacher to detect that explanation hits society and culture of vital importance mean to realize about education problem.

Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa kajian mengenai dasar sosial dan budaya dari pendidikan bertujuan untuk membekali guru dengan pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat dan kebudayaan di mana mereka hidup dan untuk membantu calon guru untuk mengetahui bahwa pengertian mengenai masyarakat dan kebudayaan sangat penting artinya guna memahami tentang masalah pendidikan.

Pendidikan sebagai proses transformasi budaya merupakan kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain (Tirtarahardja dan Sulo, 2005:33). Pendidikan merupakan proses pemanusiaan untuk menjadikan manusia memiliki rasa kemanusiaan, menjadi manusia dewasa, dan manusia seutuhnya agar mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi secara penuh dan mengembangkan budaya.

Kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat yang berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama anggota manusia sebagai anggota masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, dan adat istiadat. Salah satu fungsi dari sekolah mencakup fungsi sosial. Sekolah dalam menjalankan fungsi sosial harus mampu mensosialisasikan peserta didik, sehingga mereka nantinya bisa merubah diri mereka dan merubah masyarakatnya.

Kebudayaan dan pendidikan memiliki hubungan timbal balik sebab kebudayaan dapat dilestarikan dan dikembangkan dengan jalan mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal, nonformal, dan informal. Sebaliknya bentuk, ciri-ciri, dan pelaksanaan pendidikan ikut ditentukan oleh kebudayaan masyarakat di mana proses pendidikan itu berlangsung (Tirtarahardja dan Sulo, 2005). Pendidikan jika diabaikan dapat diasumsikan sosial budaya suatu bangsa akan mengalami kepunahan karena tidak ada proses transfer budaya sehingga tidak ada yang melestarikan dan mengembangkan budaya.

C. Perubahan Sosial

Setiap masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan-perubahan. Berdasarkan sifatnya, perubahan yang terjadi bukan hanya menuju ke arah kemajuan, namun dapat juga menuju ke arah kemunduran. Perubahan sosial yang terjadi memang telah ada sejak zaman dahulu. Ada kalanya perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung demikian cepatnya, sehingga membingungkan manusia yang menghadapinya.

Perubahan sosial merupaka gejala yang melekat di setiap masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi didalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuaian antara unsur-unsur sosial yang ada didalam masyarakat, sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak sesuai dengan fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan.

Selanjutnya dalam literatur mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan beberapa istilah penting selalu muncul sebagai pencerminan dinamika kehidupan manusia dari dahulu sampai sekarang. Dinamika tersebut mencerminkan adanya proses perubahan baik yang bersifat lambat, maupun yang bersifat cepat. Ada perobahan yang bersifat evolusioner dan ada yang bersifat revolusioner. Perobahan yang bersifat evolusioner memakan waktu ribuan atau ratusan tahun, suatu proses perubahan yang berkelanjutan dari bentuk yang lebih rendah, lebih sederhana ke bentuk-bentuk yang lebih tinggi, lebih kompleks. Sedangkan perobahan yang bersifat revolusioner adalah perobahan yang berlangsung dalam waktu yang lebih pendek, yang bersifat tiba-tiba, radikal dan menyeluruh (Manan, 1989: 49).

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diketahui bahwa perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.

Gillin dan Gillin menyatakan bahwa perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, dinamika dan komposisi penduduk, ideologi, ataupun karena adanya penemuan-penemuan baru di dalam masyarakat. Samuel Koenig menjelaskan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab intern atau sebab-sebab ekstern.

Berikutnya Selo Soemardjan menjelaskan bahwa perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompokkelompok dalam masyarakat.

Jadi, dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan unsur-unsur atau struktur sosial dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain. Perubahan sosial budaya itu biasanya terjadi karena adanya dorongan dari beberapa faktor baik yang berasal dari dalam masyarakat (internal) maupun yang berasal dari luar masyarakat (eksternal). Faktor-faktor internal, merupakan faktor-faktor perubahan yang berasal dari dalam masyarakat, misalnya (1) perubahan aspek demografi (bertambah dan berkurangnya penduduk), (2) konflik antar-kelompok dalam masyarakat, (3) terjadinya gerakan sosial dan/atau pemberontakan (revolusi), dan (4) penemuan-penemuan baru, yang meliputi (a) discovery, atau penemuan  ide/alat/hal baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya (b) invention, penyempurnaan penemuan-penemuan pada discovery oleh individu atau serangkaian individu, dan (c) inovation, yaitu diterapkannya ide-ide baru atau alat-alat baru menggantikan atau melengkapi ide-ide atau alat-alat yang telah ada. Faktor-faktor eksternal, atau faktor-faktor yang beasal dari luar masyarakat, dapat berupa: (1) pengaruh kebudayaan masyarakat lain,  yang meliputi proses-proses difusi (penyebaran unsur kebudayaan), akulturasi (kontak kebudayaan), dan asimilasi (perkawinan budaya), (2)  perang dengan negara atau masyarakat lain, dan (3) perubahan lingkungan alam, misalnya disebabkan oleh bencana.

Menurut Murdock berbagai phenomena yang dapat menjadi faktor penyebab timbulnya perobahan sosial budaya adalah:Pertambahan atau pengurangan jumlah penduduk, perobahan lingkungan  geografis, perpindahan ke lingkungan baru, kontak dengan orang yang berlainan  kebudayaan, persoalan alam dan sosial, kelahiran atau kematian seorang pemimmpin,  penemuan / Inovasi.

Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.

D. Modernisasi dan Pembangunan

Modernisasi merupakan proses menjadi modern. Istilah modern berasal dari kata modo yang artinya yang kini. Sehingga, modernisasi dapat diartikan sebagai cara hidup yang sesuai dengan situasi yang kini ada, atau konteks masa sekarang.  Apabila cara hidup suatu masyarakat seperti  yang diwariskan oleh nenek-moyang atau generasi pendahulunya, masyarakat tersebut disebut masyarakat tradisional. Istilah tradisi berasal dari kata traditum yang artinya warisan. Tekanan pengertian modernisasi adalah pada teknologi dan organisasi sosial.

Schood dalam Manan (1989:56) mengemukakan modernisasi merupakan penerapan pengetahuan ilmiah yang ada dalam aktivitas atau aspek kehidupan masyarakat. Modernisasi masyarakat mencakup segala aspek kehidupan secara komprehensif seperti bidang pendidikan, hubungan sosial, sistem hukum, adminisrasi negara, pertanian, dan informasi.

Menurut Samuel Huntington proses modernisasi mengandung beberapa ciri pokok sebagai berikut:

  1. Merupakan proses bertahap, dari tatanan hidup yang primitif-sederhana menuju kepada tatanan yang lebih maju dan kompleks
  2. Merupakan proses homogenisasi. Modernisasi membentuk struktur dan kecenderungan yang serupa pada banyak masyarakat. Penyebab utama proses homogenisasi ini adalah perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi.
  3. Merupakan proses yang tidak bergerak mundur, tidak dapat dihindarkan dan tidak dapat dihentikan
  4. Merupakan proses progresif (ke arah kemajuan), meskipun tidak dapat dihindari adanya dampak
  5. Merupakan proses evolusioner, bukan revolusioner; hanya waktu dan sejarah yang dapat mencatat seluruh proses, hasil maupun akibat-akibat serta dampaknya

Alex Inkeles dan David Smith mengemukakan ciri-ciri individu modern, sebagai berikut: Memiliki alam pikiran (state of mind) yang terbuka terhadap pengalaman baru, memiliki kesanggupan membentuk dan menghargai opini, berorientasi ke depan, melakukan perencanaan, percaya terhadap ilmu pengetahuan, memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu dapat diperhitungkan, menghargai orang lain karena prestasinya, memiliki perhatian terhadap persoalan politik masyarakat, mengejar fakta dan informasi.

Pembangunan merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terncana melalui berbagai macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Bangsa Indonesia seperti termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah mencantumkan tujuan pembangunan nasionalnya. Kesejahteraan masyarakat adalah suatu keadaan yang selalu menjadi cita-cita seluruh bangsa di dunia ini. Berbagai teori tentang pembangunan telah banyak dikeluarkan oleh ahli-ahli sosial barat, salah satunya yang juga dianut oleh Bangsa Indonesia dalam program pembangunannya adalah teori modernisasi. Modernisasi merupakan tanggapan ilmuan sosial barat terhadap tantangan yang dihadapi oleh negara dunia kedua setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Ada dua paradigma  dalam pembangunan  yaitu paradigma modernisasi dan paradigma ketergantungan. Pokok paradigma modernisasi adalah:

  1. Pembangunan adalah suatu proses yang spontan, tidak dapat dibalikkan dan menjadi sifat dari masing-masing negara
  2. Pembangunan secara tersirat menuju ke differensiasi struktural dan spesialisasi fungsional
  3. Proses pembangunan dapat dibagi menjadi tahap-tahapan yang berbeda, yang menunjukkan tingkat pembangunan yang dicapai oleh setiap masyarakat
  4. Pembangunan dapat dirangsang oleh persaingan ekstern atau ancaman militer dan intern serta modernisasi sektor-sektor tradisional

Pokok paradigma ketergantungan adalah sebagai berikut:

  1. Rintangan-rintangan yang paling penting bagi pembangunan bukan tidak adanya modal atau kecekatan kewiraswataan. Hal-hal ini bersifat ekstern bagi perekonomian yang kurang berkembang
  2. Proses pembangunan dianalisa dalam arti hubungan antara kawasan-kawasan, yaitu pusat dan pinggiran
  3. Kenyataan bahwa kawasan pinggiran itu kehilangan hak atas surplusnya, pembangunan di pusat secara tersirat. Berarti keterbelakangan di derah pinggiran.

Kedua paradigma ini saling berhubungan, contohnya keterkaitan negara maju dengan negara berkembang. Keharusan pengembangan pendidikan itu akan membuka pintu untuk menuju ke dunia modern, karena hanya dengan pendidikan dapat dilakukan perubahan sosial budaya, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, penyesuaian niali-nilai dan sikap-sikap yang mendukung pembangunan dan penguasaan berbagai keterampilan dalam menggunakan teknologi maju untuk mempercepat proses pembangunan.

E. Arah Perubahan Sosial Budaya

Arah perubahan sosial budaya, modernisasi dan pembangunan yang akan dituju oleh semua masyarakat bangsa-bangsa di seluruh dunia adalah meningkatkan kesejahteraaan atau kemakmuran yang diingini. Hidup di dunia sekarang dan masa depan, menuntun penguasaan ilmu dan teknologi. Adapun dampak negatif dari  perubahan sosial, modernisasi, dan pembangunan adalh sebagai berikut:

  1. Westernisasi (meniru gaya hidup orang barat tanpa reserve).
  2. Sekularisme (pada tingkatnya yang moderat, sekularisme merupakan pandangan hidup yang memisahkan kehidupan agama dengan kehidupan dunia, pada tingkatnya yang lebih ekstrim, sekularisme merupakan pandangan hidup yang menekankan pada pentingnya kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, bahkan sampai pada faham yang tidak mengakui adanya Tuhan)
  3. Konsumerisme (pandangan hidup bahwa lebih baik membeli produk barang dan jasa daripada membuatnya sendiri)
  4. Konsumtivisme (mengkonsumsi barang dan jasa yang sebenarnya bukan merupakan keperluannya)
  5. Hedonisme (cara hidup bermewah-mewah untuk mengejar prestise atau gengsi tertentu)
  6. Kesenjangan sosial dan ekonomi, yang terjadi karena ketidakadilan dalam proses pembangunan, misalnya karena menekankan atau memprioritaskan daerah atau golongan sosial tertentu
  7. Munculnya berbagai perilaku menyimpang, seperti kenakan remaja, prostitusi, dan sebagainya yang disebabkan oleh adanya keinginan untuk menyesuaikan dengan taraf hidup, tetapi tidak didukung oleh kemampuan dan ketrampilan yang memadai (demonstration effect)

F. Teori-Teori Perubahan Sosial Budaya

Ada beberapa teori yang menghubungkan pengembangan berbagai aspek atau unsur sosial budaya (nilai, institusi dan kepribadian) dengan kebutuhan pembangunan yang pencapaiannya akan memerlukan institusi pendidikan. Diantara teori tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Teori orientasi nilai sosial budaya yang dikembangkan oleh Kluckhohn dan Strodtbeck yang mana dalam teori ini mengatakan bahwa dalam masyarakat terlihat dimana orientasi nilai-nilai yang menekankan pandangan waktu yang berorientasi kemasa depan, pandangan terhadap alam yang menekankan bahwa hukum alam dapat diketahui dan dikuasai, pandangan bahwa bekerja itu sesuatu yang dapat menimbulkan kerja yang lebih banyak, pandangan bahwa semua manusia itu sama, semuanya merupakan orientasi nilai yang telah membawa kemajuan.
  2. Teori Pattern yang mana menurut teori ini masyarakat modren adalah masyarakat yang menganut orientasi nilai yang mengutakan penilaian berdasarkan achivement atau keberhasilan atau prestasi bukan status.
  3. Teori Alisyahbana yang menekankan pengembangan nilai teori dan nilai ekonomi yang merupakan asperk progresif dari suatu kebudayaan.
  4. Selanjutnya teori Max Weber yang mana menurutnya panggilan hidup, pekerjaan atau karir itu bukanlah suatu kondisi yang ditentukan oleh kelahiran, tetapi merupakan pekerjaan yang dipilih dengan tepat dan dikerjakan dengna giat, harus dipilih sendiri dengan rasa tanggung jawab keagamaan.
  5. Hegen yang mengemukakan teori yang menjelaskan faktor-faktor yang bersifat motivasi yang mempengaruhi perobahan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.

Semua teori yang dikemukakan tersebut berisi tentang nilai-nilai, sikap, pengetahuan dan keterampilan yang kondusif untuk merobah sebuah masyarakat tradisional menjadi masyarakat modren yang mencerminkan tuntunan akan perlunya peninjauan dan perubahan sosial budaya, modernisasi dan pembangunan

KEPUSTAKAAN

 Dewey, J. 2001. Democracy and Education. Pennsylvania: Pennsylvania State University.

 Hagen, E. E. 1962. On the Theory of Social Change. Homewood: The Darsey Press.

 Hassan, F. 2004. Pendidikan Adalah Pembudayaan Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Hunt, M. P. 1975. Foundations of Education Social and Cultural Perspectives. New York: Hold Rinchars and Winston

Kartono, K. 1977. Tinjauan Holistik Mengenai Tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta: Pradnya Paramita.

Manan, Imran. 1989. Dasar-Dasar Sosial Budaya Pendidikan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

Tilaar, A. R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Tirtarahardja, U., dan Sulo, S. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

About these ads
 
2 Comments

Posted by on October 2, 2012 in Landasan Ilmiah Ilmu Pendidikan

 

Tags: , , , ,

2 responses to “PENDIDIKAN, PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA, MODERNISASI DAN PEMBANGUNAN

  1. farid

    October 3, 2012 at 1:24 am

    Reblogged this on adadiisi.

     
  2. farid

    October 3, 2012 at 1:54 am

    Reblogged this on adadiisi.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: