RSS

PERUMUSAN TUJUAN (SK DAN KD)

04 Oct

Desain pembelajaran adalah suatu prosedur yang terdiri dari langkah-langkah, dimana langkah-langkah tersebut di dalamnya terdiri dari analisis, merancang, mengembangkan, menerapkan dan menilai hasil belajar (Seels & Richey, AECT 1994). Hal tersebut juga dikemukakan oleh Morisson, Ross & Kemp dalam bukunya Designing Effective Instruction (2007: 6) yang mendefinisikan desain pembelajaran sebagai suatu proses desain yang sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen.

 Menurut Harjanto (2008) desain pembelajaran dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan yaitu: (1) apa tujuan pengajaran (2) apa/ bagaimana kegiatan dan sumber belajar (3) bagaimana evaluasinya. Artinya salah satu hal yang penting dalam proses perancangan atau desain pembelajaran adalah melakukan perumusan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu pemakalah akan menguraikannya pada pembahasan selanjutnya.

PENGERTIAN TUJUAN INSTRUKSIONAL

Tujuan memegang peranan penting dalam mencapai sesuatu (Hadi, 2005: 17). Seseorang akan berhasil di dalam hidupnya apabila memiliki tujuan hidup. Tujuan akan memberikan arah serta bimbingan bagaimana seseorang dapat mencapai tujuannya. Begitu juga guru dalam melaksanakan pengajaran, memerlukan tujuan agar dapat mengetahui tingkat keberhasilan pengajaran yang akan dilakukan.

Begitu juga siswa sebagai salah satu komponen sistem pengajaran yang melakukan aktivitas belajar harus mengetahui tujuan yang hendak dicapai setelah proses belajar berlangsung. Karena dengan mengetahui tujuan pengajaran yang dibuat guru, siswa dapat mengetahui bagian-bagian mana dari materi pelajaran yang disampaikan dalam kegiatan pembelajaran yang harus dikuasainya (Carey dan Dick, 1978: 14).

Dengan demikian menurut Roestiyah tujuan pembelajaran adalah diskripsi tentang penampilan perilaku (performance) murid-murid yang diharapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang diajarkan (Roestiyah, 1989: 44). Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.  Kemp dan David E. Kapel  menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Henry Ellington bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Oemar Hamalik menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran (Hamalik, 2005: 109). Sementara itu, menurut Standar Proses pada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajara yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Ini berarti kemampuan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran mencakup kemampuan yang akan dicapai siswa selama proses belajar dan hasil akhir belajar pada suatu KD (UU SISDIKNAS, 2010: 81).

Berdasarkan penjelasan tersebut maka tujuan instruksional adalah merupakan salah satu komponen penting dalam pembelajaran, yang di dalamnya dapat menentukan mutu dan tingkat efektivitas pembelajaran yang berisi mengenai gambaran perilaku siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomtor setelah mempelajari bahan pelajaran yang diajarkan oleh guru atau bisa dikatakan setelah proses pembelajaran berlangsung.

KEGUNAAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Ada beberapa alasan mengapa tujuan perlu dirumuskan dalam merancang suatu program pembelajaran. Pertama, rumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses pembelajaran. Kedua, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa. Ketiga, tujuan pembelajaran dapat membantu dalam mendesain sistem pembelajaran. Keempat, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran (Sanjaya, 2008: 64).

KLASIFIKASI TUJUAN INSTRUKSIONAL

Tujuan pendidikan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan dari yang bersifat umum samapai kepada tujuan khusus itu dapat diklasifikasikan menjadi empat (Darwyn Syah, 2007: 102-107), yaitu:

1. Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) adalah tujuan yang bersifat umum dan merupakan sasaran akhir yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan, artinya setiap lembaga dan penyelenggara pendidikan harus dapat membentuk manusia yang sesuai dengan rumusan itu, baik pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan formal, informal dan non formal.

Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal yang sesuai dengan pandangan hidup dan falsafah negara yang dirumuskan dalam bentuk undang-undang, seperti yang dirumuskan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 Pasal 3, yang merumuskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangna potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kapda Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

2. Tujuan Institusional

Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dengan kata lain, tujuan ini dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah mereka menempuh atau dapat menyelesaikan program di suatu lembaga pendidikan tertentu.

3. Tujuan Kurikuler

Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran yang mengacu pada tujuan institusional.

4. Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional adalah tujuan yang hendak dicapai setelah selesainya suatu kegiatan proses belajar mengajar. Pada kurikulum 1994 tujuan pengajaran disebut dengan tujuan pembelajaran yang dibedakan menjadi tutjuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus.

Tujuan pembelajaran umum adalah tujuan yang hendak dicapai setelah selesainya pelaksanan satu satuan pelajaran yang didasarkan kepada tujuan kurikuler, namun demikian tujuan instruksional sudah lebih khusus dari tujuan kurikuler. Pada tujuan instruksional umum kata-kata yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pengajaran masih bersifat umum, misalkan memahami. Pada kurikulum 1994 tujuan instruksional umum telah dirumuskan pada GBHN (Yamin, 2005: 48).

Tujuan instruksional khusus adalah tujuan pengajaran yang telah dirumuskan dengan menggunakan kata-kata operasional, khusus dengan mengacu kepada perubahan tingkah laku yang dapat diamati,diukur baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Pada kurikulum 1994 tujuan instruksional khusus diistilahkan dengan tujuan pembelajaran khusus.

Pada kurikulum berbasis kompetensi tahun 2004 tujuan pembelajaran diistilahkan dengan standark kompetensi untuk tujuan umum dan kompetensi dasar untuk tujuan pembelajaran umum dan indikator hasil belajar untuk tujuan pembelajaran khusus.

Konsep dasar Standar Kompetensi ditinjau dari segi etimologi terbentuk atas kata “Standar” dan “Kompetensi”. Kata “standar” diartikan sebagai ukuran atau patokan yang disepakati. Sedangkan kata “kompetensi” adalah kemampuan melaksanakan tugastugas di tempat kerja yang mencakup penerapan keterampilan yang didukung oleh pengetahuan dan sikap sesuai dengan kondisi yang disyaratkan. Dari pengertian kedua kata tersebut, maka standar  kompetensi diartikan sebagai suatu ukuran atau patokan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan.

Standar kompetensi tidak berarti hanya kemampuan menyelesaikan suatu tugas, tetapi dilandasi pula bagaimana serta mengapa tugas itu dikerjakan. Dengan kata lain, standar kompetensi meliputi faktor-faktor yang mendukung seperti pengetahuan dan kemampuan untuk mengerjakan suatu tugas serta kemampuan mentransfer dan menerapkan kemampuan dan pengetahuan pada situasi dan lingkungan yang berbeda. Standar kompetensi merupakan rumusan tentang kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas/pekerjaan yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja, sesuai dengan criteria unjuk kerja yang dipersyaratkan.

Bermawi Munthe dalam bukunya Desain Pembelajaran menguraikan bahwa standar kompetensi adalah kebulatan pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkat kepenguasaan yang diharapkan tercapai dalam mempelajari suatu pelajaran. Cakupan standar kompetensi adalah standar isi (content standard) dan standar penampilan (performance tandard). Dengan kata lain standar kompetensi adalah sebuah keutuhan prestasi terbesar dari mata kuliah yang dipeloreh mahasiswa setelah mengalami proses pembelajaran dalam satu semester (Bermawi Munthe, 2009: 31). Jadi standar kompetensi itu adalah pernyataan tujuan yang menjelaskan apa yang harus diketahui peserta didik dan kemampuan melakukan sesuatu dalam mempelajarai suatu bidang studi.

Kompetensi dasar adalah kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain kompetensi dasar itu merupakan jabaran dari standarkompetensi, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang harus dikuasai siswa, kompetensi dasar merupakan pendukung atau penentu tercapainya standar kompetensi.

 CARA MERUMUSKAN TUJUAN (SK DAN KD)

Penyusunan SK suatu jenjang atau tingkat pendidikan merupakan usaha untuk membuat suatu sistem sekolah menjadi otonom, mandiri, dan responsif terhadap keputusan kebijakan daerah dan nasional. Kegiatan ini diharapkan mendorong munculnya standar pada tingkat lokal dan nasional. Penentuan standar hendaknya dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Sebab, jika setiap sekolah atau setiap kelompok sekolah mengembangkan standar sendiri tanpa memperhatikan standar nasional maka pemerintah pusat akan kehilangan sistem untuk mengontrol mutu sekolah. Akibatnya kualitas sekolah akan bervariasi, dan tidak dapat dibandingkan kualitas antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. Lebih jauh lagi kualitas sekolah antar wilayah yang satu dengan wilayah yang lain tidak dapat dibandingkan. Pada gilirannya, kualitas sekolah secara nasional tidak dapat dibandingkan dengan kualitas sekolah dari negara lain.

Pengembangan SK perlu dilakukan secara terbuka, seimbang, dan melibatkan semua kelompok yang akan dikenai standar tersebut. Melibatkan semua kelompok sangatlah penting agar kesepakatan yang telah dicapai dapat dilaksanakan secara bertanggungjawab oleh pihak sekolah masing-masing.

Menurut Suparman (2004), merumuskan tujuan kompetensi dasar merupakan: (1) dasar dan pedoman bagi seluruh proses pengembangan tujuan instruksional selanjutnya (perumusan KD merupakan titik permulan sesungguhnya dari proses pengembangan instruksional). (2) Alat untuk menguji validitas isi tes (isi pelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan apa yang akan dicapai). (3) Arah proses pengembangan instruksional karena di dalamnya tercantum rumusan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai peserta didik pada akhir proses instruksional. Oleh karena itu ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam merumuskan KD diantaranya adalah:

  1. Meluas, artinya adalah peserta didik memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan pengalaman tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai yang berkaitan dengan pada saat pembelajaran berlangsung.
  2. Seimbang, artinya adalah dimana setiap kompetensi perluu dapat dicapai melalui alokasi waktu yang cukup untuk pembelajaran yang efektif
  3. Relevan, maksudnya adalah dimana setiap kompetensi terkait dengan penyiapan peserta didik untuk meningkatkan mutu kehidupan melalui kesempatan pengalaman.
  4. Perbedaan, maksudnya adalah merupakan upaya pelayanan induvidual dimana peserta didik perlu memahami apa yang perlu untuk dipelajari, bagaimana berfikir, bagaimana berbuat untuk mengembangkan kompetensi serta kebutuhan individu masing-masing (Yulaelawati, 2004: 20).

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk dapat merumuskan KD yang baik adalah sebagai berikut:

  1. Rumusan tujuan yang dibuat harus berpusat pada siswa, mengacu kepada perubahan tingkah laku subjek pembelajaran yaitu siswa sebagai peerta didik.
  2. Rumusan KD harus mencerminkan tingkah laku operasional yaitu tingkah laku yang dapat diamati dan diukur yang dirumuskan dengan menggunakan kata-kata operasional.
  3. Rumusan KD harus berisikan makna dari pokok bahasan atau materi pokok yang akan diajarkan pada saat kegiatan belajar mengajar. (Darwyn Syah, 2007: 113-114)

Ada beberapa langkah-langkah yang dapat diperhatikan dalam merumuskan KD diantarannya adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan kompetensi lulusan/ hasil belajar pada akhir suatu atau serangkaian pembelajaran. Penentuan kompetensi harus mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai.
  2. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik. Bahasa perlu jelas, lugas, tegas, serta dapat dikerjakan dan dinilai
  3. Nyatakan target penunjukan kompetensi yang memberikan informasi terhadap peserta didik tentang sejauh mana pencapaian kompetensi tersebut.
  4. Batasai kompetensi yang akan dicapai pada setiap kegiatan pembelajaran agar lebih terarah dan fokus.
  5. Klasifikasikan kompetensi yang sejenis dalam satu kompetensi
  6. Koordinasikan kompetensi yang memerlukan uraian untuk menunjukkan perkembangan, kesinambuangan, keutuhan, dan bekelanjutan.
  7. Hindari terjadinya pencampuran kompetensi apa yang harus dicapai peserta didik dengan standar kompetensi
  8. Hindari anggapan untuk dapat merumuskan kompetensi secara sempurna pada permulaan (Yulaelawati, 2004: 21-22).

Ada beberapa kata-kata operasional yang dapat membantu dalam merumuskan SK dan KD diantaranya adalah sebagai berikut:

Tabel 1: Kata Kerja Ranah Kognitif

Pengetahuan

Pemahaman

Penerapan

Analisis

Sintesis

Penilaian

MengutipMenyebutkan

Menjelaskan

Menggambar

Membilang

Mengidentifikasi

Mendaftar

Menunjukkan

Memberi label

Memberi indeks

Memasangkan

Menamai

Menandai

Membaca

Menyadari

Menghafal

Meniru

Mencatat

Mengulang

Mereproduksi

Meninjau

Memilih

Menyatakan

Mempelajari

Mentabulasi

Memberi kode

Menelusuri

Menulis

MemperkirakanMenjelaskan

Mengkategorikan

Mencirikan

Merinci

Mengasosiasikan

Membandingkan

Menghitung

Mengkontraskan

Mengubah

Mempertahankan

Menguraikan

Menjalin

Membedakan

Mendiskusikan

Menggali

Mencontohkan

Menerangkan

Mengemukakan

Mempolakan

Memperluas

Menyimpulkan

Meramalkan

Merangkum

Menjabarkan

MenugaskanMengurutkan

Menentukan

Menerapkan

Menyesuaikan

Mengkalkulasi

Memodifikasi

Mengklasifikasi

Menghitung

Membangun

Membiasakan

Mencegah

Menentukan

Menggambarkan

Menggunakan

Menilai

Melatih

Menggali

Mengemukakan

Mengadaptasi

Menyelidiki

Mengoperasikan

Mempersoalkan

Mengkonsepkan

Melaksanakan

Meramalkan

Memproduksi

Memproses

Mengaitkan

Menyusun

Mensimulasikan

Memecahkan

Melakukan

Mentabulasi

Memproses

Meramalkan

MenganalisisMengaudit

Memecahkan

Menegaskan

Mendeteksi

Mendiagnosis

Menyeleksi

Merinci

Menominasikan

Mendiagramkan

Megkorelasikan

Merasionalkan

Menguji

Mencerahkan

Menjelajah

Membagankan

Menyimpulkan

Menemukan

Menelaah

Memaksimalkan

Memerintahkan

Mengedit

Mengaitkan

Memilih

Mengukur

Melatih

Mentransfer

MengabstraksiMengatur

Menganimasi

Mengumpulkan

Mengkategorikan

Mengkode

Mengombinasikan

Menyusun

Mengarang

Membangun

Menanggulangi

Menghubungkan

Menciptakan

Mengkreasikan

Mengoreksi

Merancang

Merencanakan

Mendikte

Meningkatkan

Memperjelas

Memfasilitasi

Membentuk

Merumuskan

Menggeneralisasi

Menggabungkan

Memadukan

Membatas

Mereparasi

Menampilkan

Menyiapkan

Memproduksi

Merangkum

Merekonstruksi

MembandingkanMenyimpulkan

Menilai

Mengarahkan

Mengkritik

Menimbang

Memutuskan

Memisahkan

Memprediksi

Memperjelas

Menugaskan

Menafsirkan

Mempertahankan

Memerinci

Mengukur

Merangkum

Membuktikan

Memvalidasi

Mengetes

Mendukung

Memilih

Memproyeksikan

Tabel 2: Kata Kerja Ranah Afektif

Menerima

Menanggapi

Menilai

Mengelola

Menghayati

Memilih

Mempertanyakan

Mengikuti

Memberi

Menganut

Mematuhi

MeminatiMenjawab

Membantu

Mengajukan

Mengompromikan

Menyenangi

Menyambut

Mendukung

Menyetujui

Menampilkan

Melaporkan

Memilih

Mengatakan

Memilah

MenolakMengasumsikan

Meyakini

Melengkapi

Meyakinkan

Memperjelas

Memprakarsai

Mengimani

Mengundang

Menggabungkan

Mengusulkan

Menekankan

MenyumbangMenganut

Mengubah

Menata

Mengklasifikasikan

Mengombinasikan

Mempertahankan

Membangun

Membentuk

pendapat

Memadukan

Mengelola

Menegosiasi

MerembukMengubah perilaku

Berakhlak mulia

Mempengaruhi

Mendengarkan

Mengkualifikasi

Melayani

Menunjukkan

Membuktikan

Memecahkan

Tabel 3. Kata Kerja Ranah Psikomotorik

Menirukan

Memanipulasi

Pengalamiahan

Artikulasi

Mengaktifkan

Menyesuaikan

Menggabungkan

Melamar

Mengatur

Mengumpulkan

Menimbang

Memperkecil

Membangun

Mengubah

Membersihkan

Memposisikan

MengonstruksiMengoreksi

Mendemonstrasikan

Merancang

Memilah

Melatih

Memperbaiki

Mengidentifikasikan

Mengisi

Menempatkan

Membuat

Memanipulasi

Mereparasi

MencampurMengalihkan

Menggantikan

Memutar

Mengirim

Memindahkan

Mendorong

Menarik

Memproduksi

Mencampur

Mengoperasikan

Mengemas

MembungkusMengalihkan

Mempertajam

Membentuk

Memadankan

Menggunakan

Memulai

Menyetir

Menjeniskan

Menempel

Menseketsa

Melonggarkan

Menimbang

KEPUSTAKAAN

 

Abdul Majid. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Baker Eva dan Popham James. 2005. Teknik MenngajarSecara Sistematis. Jakarta: PT Rineka Cipta

Bermawi Munthe. 2009. Desain Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani

Darwyn Syah. 2007. Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Gaung Persada Press

Dick Walter dan Carey Lou. 1978. The Systematic Design Of Instruction. USA: Scott, Foresman dan Company

Ella Yulaelawati. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran, Filosofi Teori dan Aplikasi. Bandung: Pakar Raya

Hamzah B. Uno. 2010.  Perencanaan Pembelajaran. Jakarta:Bumi Aksara

Harjanto. 2010. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta

Kemp Jerrold. 1985. The Instuctional Design Process. New York: Harper & Row Publisher Inc

Kemp Jerrold, Merrizon Gary R dan Ross Steven M. 1994. Designing Effective Instruction. Canada: Merrill

Wina Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana

About these ads
 
2 Comments

Posted by on October 4, 2011 in Desain Pembelajaran

 

Tags: , ,

2 responses to “PERUMUSAN TUJUAN (SK DAN KD)

  1. umami azzahra

    September 26, 2012 at 10:14 am

    makasih ya_ sangat membantu.. :)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: