RSS

HAKEKAT MANUSIA

02 Oct

Dalam literatur pendidikan, pelajar merupakan bagian terpenting dalam proses belajar-mengajar. Sudah disadari bahwa pelajar bukan merupakan objek pendidikan lagi, tetapi menjadi subjek pendidikan yang ditandai dengan timbulnya istilah-istilah anak didik, peserta didik dan pelajar.

Dewey (1916, hal 258-259) mengkonsepsikan pendidikan sebagai proses rekonstruksi atau reorganisasi pengalaman belajar bagi perkembangan kemampuan untuk menggunakan pengalamannya sendiri dimasa datang. Kelihatan bahwa Dewey meletakkan pelajar sebagai orang yang berfikir kritis dan mandiri, sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab dalam masyarakat demokratik (dalam Tanner dan Tanner, 1975 hal 119).

Secara garis besar, pandangan aliran-aliran yang berbeda tentang pelajar ini dapat pula disimpulkan sebagai berikut. Kaum Idealis menganggap orang sebagai makhluk unik yang dibekali jiwa atau kemampuan intelektual, sementara kaum realis memandangnya sebagai “mesin besar” dalam jagat raya ini. Kaum pragmatis melihatnya sebagai pelaku sosial yang mencipta makna melalui traansaksi dengan lingkungannya (Zais, 1976, hal 200).

A.   SIAPA MANUSIA ITU

Zais (1976, hal 201-217) mengajukan empat pertanyaan tentang hakekat manusia dan mencoba melihat manusia itu dari empat sudut pandangan.

      1.  Jiwa dan Raga

Pandangan tentang manusia mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari kesatuan jiwa dan raga. Oleh karena asumsi ini sangat banyak dianut, maka pengaruhnya terhadap kurikulum sangat luas pula. Karena jiwa yang mengendalikan raga, maka kurikulum ditujukan terutama untuk melatih zat manusia non material itu, yaitu jiwa. Maka konten dan kegiatan-kegiatan belajar ditekankan pada pengembangan intelektual dan spritual dengan mengabaikan aspek-aspek fisik raga manusia. Jadi, yang ada kaitannya dengan pertumbuhan raga diabaikan dan disiplin mental dan spritual sangat dipentingkan dalam perencanaan dan implementasi kurikulum.

       2.  Konstan atau berubah

Robert Huthcins adalah seorang tokoh penganut asumsi bahwa bagaimanapun bervariasinya lingkungan hidup manusia, manusia itu selalu akan sama dimanapun dia berada. (dikutip Hook dalam Zais 1976, hal 205). Asumsi hakekat manusia ini menganggap kurikulum dimanapun dan pada saat apapun, harus sama bagi setiap anak. Sebaliknya Sidney Hook dalam (dalam Zais 1976, hal 215) menolak asumsi bahwa manusia itu konstan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya perubahan-perubahan pada kebudayaan manusia itu. Manusia tidak berubah katanya kalau manusia itu sendiri yang tidak ingin mengadakan perubahan.

      3. Bebas atau terikat

Pandangan yang menganggap manusia itu bebas adalah yang tradisional dan yang baru, implikasi tersebut terhadap kurikulum cukup mendalam karena kalau memang manusia itu bebas, maka kurikulum apapun yang dirancang untuknya tidak akan berhasil karena dia bebas menolaknya. Atau diperlukan kurikulum yang amat fleksibel dan bervariasi untuk memungkinkan anak memilih yang diinginkannya. Selain itu, karena dia bebas, dia dapat menentukan sendiri kurikulum, sedang suasana belajar kurikulum untuk anak yang bebas itu bersifat yang mana disuka, tidak terlalu mengikat, dan belajar mandiri.

Sebaliknya menurut pandangan yang mengatakan anak tidak bebas sama sekali, kurikulum disusun untuk mengatur setiap anak untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan untuk dia. Kurikulum disusun untuk menjadi pengontrol dan pengatur tingkah laku anak.

      4.  Baik atau Buruk

Jean Jacques Rosseau menganggap manusia pada dasarnya baik waktu diciptakan tuhan, hidup harmonis dengan alam. Hanya saja waktu hidup bersama manusia lain ia menjadi tidak baik. Tujuan utama kurikulum adalah untuk memupuk pertumbuhan anak sejalan dengan hakekat fitrahnya yang baik itu.

Berlawanan dengan pandangan ini ialah pandangan yang melihat manusia pada dasarnya tidak baik. Ajaran agama-agama barat, terutama kristen mendasari pandangannya pada dosa asal ketika adam melawan Tuhan dalam Kebun Eden tempat ia dapat kutukan (zais 1976, hal 214).

B.  ENKAPSULASI

Enkapsulasi mengacu pada keadaan manusia yang sangat yakin tentang kebenaran persepsinya atas realita yang ada, oleh karena beberapa keterbatasan, dia hanya memiliki gambaran yang tidak lengkap dan tidak akurat tentang keadaan yang sebenarnya. Keadaan ini bukan saja bersifat kultural tetapi juga fisologis dan psikologis manusia itu sendiri (Zais 1976, hal 219).

Enkapsulasi dapat terjadi oleh dua fakta lainnya:

      1.  Keterbatasan Fisiologis

Secara genetika dan fisiologis, manusia dibatasi kemampuan untuk melihat dunia sekelilingnya, contoh manusia hanya mampu mendengar suara antara 20-20.000 saikel per detik, diluar skala ini dia tidak mendengar apa-apa. Oleh karena itu manusia memandang dunia ini memalui seperangkat indera fisiologisnya yang diyakininya sangat akurat, pada hal sebenarnya hanya benar menurut pandangan manusia itu sendiri.

      2.  Keterbatasan Psikologis

a)      Kemajuan manusia untuk belajar dan berfikir sangat terbatas

b)      Kemampuan manusia mengkonsepsikan ide-ide yang abstrak dan mengaitkan ide-ide tersebut sangat terbatas

c)      Banyak orang yang berfikir irasional.

 C.    TEORI MASLOW

    1.  Yang tergantung VS yang tidak tergantung pada lingkungannya

Menurut Maslow, orang-orang yang kebutuhan utamanya untuk memperoleh rasa aman dan rasa cinta hanya dapat dipuaskan oleh orang lain, artinya dia tergantung pada lingkungannya.

Sebaliknya orang yang puas diri atau yang kurang Enkapsulasi adalah orang yang agak bebas dan lebih mandiri, karena dia kurang tergantung pada orang lain. Oleh karena dia tidak tergantung pada orang lain, dia merasa lebih aman, lebih tenang, kurang memerlukan pikiran orang lain dan uluran tangan atau belas kasihan orang lain.

     2.  Orang yang percaya diri VS yang kurang percaya diri

Persepsi orang yang kurang motivasi, diwarnai serta dibatasi oleh ketergantungannya pada lingkungan. Orang lain dilihatnya bukan secara global kemanusiaan, tetapi sebagai sumber untuk memenuhi keinginannya.

Berlainan dengan itu, orang yang puas diri tidak melihat orang lain sebagai sumber pemenuhan kebutuhan dirinya karena dia tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Hubungannya dengan orang lain lebih berupa hubungan objektif yaitu hubungan yang biasa antara orang dengan orang lainnya, berdasarkan dengan kedudukam yang sederajat.

     3. Balajar instrumental VS pembentukan personalitas

Maslow (dalam Zais 1976, hal 223) menyatakan bahwa teori belajar merupakan ilmu pengetahuan yang terbatas dan bermamfaat hanya untuk suatu aspek kehidupan karena belajar didasarkan pada kekurangan motivasi yang tujuan belajarnya berada di luar dirinya. Umpamanya dia belajar karena ingin memperoleh keterampilan atau pengetahuan tertentu.

    4. Persepsi orang yang kurang motivasi VS orang yang bermotivasi untuk berkembang.

Orang yang kurang motivasi sebagai orang yang tertarik pada usaha pemenuhan kebutuhannya, cenderung berfikir dikotomi hitam putih, buruk jelek. Kebutuhannya yang tidak terpenuhi memakasannya untuk mengabaikan atau menolak data-data yang tidak berkaitan dengan usaha pemenuhan kebutuhannya yang tidak berhasil itu. Sebaliknya orang yang bermotivasi untuk tumbuh, yang juga tidak terlalu berusaha untuk pencapaian kebutuhannya, dapat melihat dunia secara lebih objektif dan lebih akurat, baik itu berupa orang atau benda. Orang ini menurut Maslow ingin dilihat sebagai seorang individu yang utuh. Dia tidak suka dianggap sebagai benda yang berguna bagi suatu keperluan atau sebagai suatu alat, dan karena itu dia tidak suka diperalat orang lain.

D.  TEORI FREUD

Beberapa butir Teori Freud yang menyangkut mekanisme kekuatan yang tidak disadari manusia dalam mempengaruhi pikiran dan perbuatan manusia untuk membuatnya berada dalam enkapsulasi:

  1. Rasionalisasi berarti pembenaran (justifikasi) kepercayaan atau tingkah laku dengan alasan yang bagus, bukan alasan yang sesungguhnya.
  2. Projeksi adalah usaha untuk melindungi suatu perasaan atau untuk menghindarkan kegagalan yang tidak menyenangkan dengan jalan memindahkan kesalahan atau kelemahan sendiri orang lain.
  3. Penggantian merupakan mekanisme bela diri untuk menyalurkan perasaan tidak enak yang diarahkan pada orang lain sebagai subtitusi.
  4. Represi dipakai sebagai cara untuk menghindarkan konflik yang menyulitkan diri, penolakan terhadap pengalaman yang tidak atau usaha untuk melupakan kejadian yang sedih atau yang menyakitkan hati di masa lampau.

 E.  SEBAGAI APA MANUSIA ITU?

Zais (1976 hal 229-234) melihat manusia itu sebagai hewan yang menciptakan makna, dan manusia sebagai organisme yang netral.

    1.  Hewan Pencipta Makna

Manusia merupakan suatu organisme terpadu yang sangat kompleks yang mampu bereaksi terhadap lingkungan dengan dua tingkah laku.

  1. Tingkah laku menurut struktur psikobiologis yang sama dengan yang dimiliki hewan seperti nafsu, instink, dorongan.
  2. Tingkah laku menurut struktur psikobilogis yang canggih yang hanya dimiliki makhluk manusia seperti kesadaran sendiri dan berfikir kritis.

Dalam psikologis dinyatakan bahwa tingkah laku manusia dikendalikan terutama oleh cita-cita, kepercayaan dan tingkah laku lainnya yang menciptakan makna atau arti.

Makna bukan saja menggerakkan tingkah laku manusia tetapi juga membutuhkan semua pengalamannya untuk menciptakan hidup yang baik. Makna ini juga menuangkan keinginan struktur psikobiologis yang hanya dimiliki manusia itu. Di atas pemuasaan kebutuhan fisikologis manusia kebutuhan manusia yang utama ialah untuk menciptakan makna itu tadi dalam usahanya mengaktualisasikan dirinya.

    2.  Organisme yang Netral

Bahwa pada hakekatnya manusia adalah netral, makhluk pencipta makna yang pengembangan potensi dirinya untuk menjadi manusia yang baik dihalangi oleh enkapsulasi (kebudayaan, fisiologis atau psikologis), suatu kondisi yang dapat mengiringnya untuk menciptakan makna yang negative seperti berbuat destruksi, distorsi.

 F.  AKAN MENJADI APA MANUSIA ITU?

     1. Kebebasan Bertanggung Jawab

Tingkah laku manusia yang utama yang berasal dari struktur psikobiologis yang sangat canggih, yang hanya dimiliki manusia. Struktur psikobiologis inilah misalnya yang memungkinkan manusia mampu memiliki kesadaran, harga diri, membentuk cita-cita berfikir kritis dan reflektif, mempunyai orientasi kedepan. Struktur ini pula yang memungkinkan manusia mampu memberikan lebih banyak respon pada lingkungannya, jika dibandingkan dengan struktur yang sederhana yang dimiliki makhluk lain. Oleh karena itu, manusia memiliki kemampuan untuk berfikir sebagai penentu utama dalam segala macam kejadian di jagat raya ini. Ini berarti bahwa struktur psikologis manusia memungkinkannya untuk memperoleh kebebasannya yang lebih besar dari pada makhluk lainnya (Zais 1976, hal 234).

     2. Percaya Diri dan Komunitas

Orang yang percaya diri adalah orang yang memenuhi potensi kemanusiaannya melalui kebebasan yang bertanggung jawab. Dia bukan lagi seorangyang penurut saja tanpa kritis terhadap lingkungannya dan dia bukan berada dalam cengkraman enkapsulasi yang secara tidak disadarinya serta bukan pula orang yang menerima saja makna yang sudah siap dibuatkan untuknya oleh lingkungan dan kebudayaannya. Orang yang percaya diri ini memikul tanggung jawab atas perbuatannya dan melihat kultur dan cara hidup masyarakatnya secara kritis (Zais 1976 hal 236).

 G.  APLIKASI KURIKULUM

Tujuan utama kurikulum haruslah membantu pembentukan manusia ideal yang kita gambarkan di atas, yaitu orang yang bebas bertanggung jawab, dan percaya diri, serta yang mampu hidup fungsional dalam masyarakat. Dengan demikian, tujuan kurikulum harus mencakup antara lain:

  1. Untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran tentang penyebab utama enkapsulasi
  2. Memahami akibat enkulturasi masyarakat
  3. Mengkaji hubungan dirinya dengan lingkungannya dalam kaitannya dengan dirinya dan masyarakat
  4. Mengembangkan keterbukaan terhadap pengalaman

*Muhammad Ansyar bab 4

About these ads
 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: